Rokok dan Stunting, Apa Hubungannya?

“Mbak, anakmu badannya awet kecil ya?” sering dengar pertanyaan semacam itu? Untuk ibu-ibu yang anaknya awet mungil seperti saya, pertanyaan seperti itu bukan sekali atau dua kali mampir ke telinga. Entah itu sebagai pujian atau sebagai ungkapan rasa miris, saya tidak tahu pasti. Yang jelas memang Kira dan Kara badannya selalu langsing.

Pernyataan tersebut, sering diterima juga oleh ibu saya sejak jaman rikiplik dulu. Ketika saya masih bayi, saya pun memiliki badan awet mungil. Bahkan kini berat badan saya setelah melahirkan dua anak, tidak jauh berbeda dengan berat badan saya ketika masih SMA 18 tahun yang lalu. Senang atau miris? Silahkan renungkan sendiri. Yang jelas porsi makan saya biasa saja. Saya makan tiga kali sehari dengan lauk standard masyarakat Indonesia, ya tempe, ayam, telor. Bahkan tak jarang saya menghabiskan sisa makanan di piring anak-anak.

Lantas, di benak saya sempat tercetus, apakah anak saya termasuk stunting? Apa itu stunting sebenarnya? Dari jurnal online yang saya baca dan menurut WHO, stunting adalah gangguan pertumbuhan yang membuat anak tumbuh lebih kecil dan lebih pendek dari anak seusianya yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi pada anak. Anak yang memiliki gangguan pertumbuhan akan berpengaruh pada kondisi kesehatan, pertumbuhan mental dan kemampuan belajar anak. Dengan demikian, anak tidak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.

Konsumsi Rokok Orang Tua sumbang Peningkatan Stunting Pada Anak

Buibu, tahu gak kalau ternyata faktor genetik bukan satu-satunya penyebab anak stunting. Faktor genetik hanya menyumbang 20% anak tumbuh lebih kecil dari pada anak seusianya. Ada faktor lain yang ikut berperan serta dalam menyumbang peningkatan angka stunting pada anak. Salah satunya adalah konsumsi rokok orang tua.

Saya cukup tercengang ketika mendengar talkshow #RuangPublikKBR serial #RokokHarusMahal edisi ke-7 bersama narasumber Dr. Bernie Endyarni Medise,SpAK MPH Ketua Satuan Tugas Remaja IDAI dan Teguh Dartanto, PhD Ketua Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ilmu Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Talkshow yang mengangkat tema “Rokok Murah Penyebab Stunting” yang disiarkan hari rabu, 25 Juli 2018 pukul 09.00 di seluruh jaringan radio KBR tersebut mengungkap bahwa berdasarkan hasil penelitian, anak-anak yang memiliki orang tua perokok kronis, tumbuh dan memiliki berat badan 1,5kg lebih rendah dari pada anak-anak yang orang tuanya tidak merokok. Demikian juga dengan tinggi badannya tumbuh lebih pendek dari anak-anak yang tidak memiliki orang tua perokok.

Apa penyebabnya?

Orang tua perokok akan menggunakan sebagian anggaran belanjanya untuk memenuhi kebutuhan rokoknya. Hal yang sama terjadi juga pada masyarakat miskin atau berpenghasilan pas-pas’an. Karena harga rokok yang terjangkau dan murah, maka banyak orang tua yang lebih mengutamakan kebutuhan rokok. Hal tersebut berdampak pada menurunnya daya beli bahan makanan lain yang sarat gizi seperti telor, ayam, daging, ikan maupun susu.

Dr.Bernie lebih lanjut menjelaskan bahwa stunting bukan hanya berpengaruh pada pertumbuhan berat badan dan tinggi badan saja, namun juga berpengaruh pada pertumbuhan otak anak. Untuk orang tua yang merokok perlu waspada ketika si ibu dalam kondisi hamil. Karena pertumbuhan otak yang paling pesat, terjadi pada 1000 hari pertama kehidupan (HPK), yang mulai dihitung sejak dua garis merah muncul di alat tes kehamilan.

Jadi, secara garis besar, isu rokok tersebut bukan hanya berpengaruh pada kondisi ekonomi keluarga, maupun kondisi kesehatan perokok dan orang sekitarnya. Ternyata isu rokok juga berpengaruh pada pertumbuhan anak-anak bahkan lebih luas hingga perkembangan otak mereka. Kalau sudah begini, miris tidak?

Yang mungkin tidak disadari si perokok maupun keluarga di sekitarnya adalah paparan asap rokok dapat bertahan hingga 3 sampai 4 jam bahkan setelah asap rokok hilang. Asap rokok yang mengandung banyak bahan kimia tersebut menjadi salah satu penyebab anak mudah sakit, terutama gangguan pada pernafasan dan penyerapan gizi. Lebih sedih lagi ternyata informasi tersebut tidak menyebar merata ke seluruh lapisan masyarakat, seperti sebaran asap rokok.

Rokok Memang Harus Mahal

Meski memiliki seorang suami yang perokok, saya setuju jika rokok harus mahal. Kenapa? Selain agar orang tua pada keluarga miskin dapat berpikir ulang dalam membeli rokok dan lebih mengutamakan gizi anaknya, juga agar rokok tidak mudah dibeli oleh anak-anak usia sekolah. Sudah tahukan kalau di Indonesia rokok bisa dibeli ketengan atau perbiji? Rokok ketengan yang harganya terjangkau oleh uang saku anak-anak sekolah inilah yang menjadi salah satu faktor kenapa anak sekolah sudah mulai mengenal dan mencoba rokok.

Masih ingat kasus anak balita yang fasih merokok? Atau masih ingat teman-teman jaman sekolah yang mencuri waktu dengan merokok di dalam kamar mandi sekolah atau dibalik tembok-tembok rahasia di lingkungan sekolah. Sedih tidak kalau anak-anak mengenal rokok bukan dari keluarganya atau lingkungan rumah, tapi justru dari sekolah, tempat di mana seharusnya mereka menimba ilmu dan tumbuh menjadi anak-anak yang sehat jasmani dan mental. Sedih kan ya?

Kalau kamu penasaran dengan ulasan tentang #RokokHarusMahal, masih bisa streaming di seluruh jaringan radio KBR. Atau kalau teman-teman setuju dengan kampanye #RokokHarusMahal, bisa ikut menandatangani petisi di www.change.org/rokokharusmahal.

Mari menjadi bagian dari pertumbuhan anak-anak Indonesia yang lebih sehat dan cemerlang. Sekecil apapun peran serta kita, Insyaallah bermanfaat untuk generasi mendatang. Selamat berkarya!

PUSPARAGAM ANAK INDONESIA: Ajang Unjuk Gigi Anak-Anak Indonesia Menyuarakan Mimpi

Temu Anak Peduli “Pusparagam Anak Indonesia” menjadi salah satu peringatan Hari Anak Nasional yang tidak akan saya lupakan. Di acara ini saya bertemu dengan banyak anak-anak dari berbagai daerah di seluruh pelosok Indonesia dengan berbagai macam karakter dan budaya. Rangkaian kegiatan yang berlangsung selama tiga hari tersebut, mengajak anak-anak untuk berani menyuarakan mimpi dan harapan mereka. Selama tiga hari anak-anak tersebut diajak untuk belajar tentang banyak hal, bermain, berbagi cerita dan bertemu dengan banyak teman baru.

Anak-anak yang rata-rata berusia antara 9 hingga 18 tahun tersebut bertemu untuk bertukar pikiran mengenai berbagai tema kebangsaan seperti gotong royong; literasi; kekerasan dan perundungan; toleransi; kepemimpinan; dan kewirausahaan. Di hari ketiga tersebut mereka menampilkan banyak hasil karya dan unjuk penampilan menyuarakan aspirasi, mimpi dan harapan mereka. Pertunjukan mulai dari flash mob, drama, karya literasi, hingga orasi tentang harapan-harapan mereka untuk Indonesia membuat saya tercengang. Anak-anak yang sepertinya setiap hari hanya bercanda, bermain, tertawa, dan bertingkah sesuka hatinya, ternyata memiliki buah pemikiran yang luar biasa hebat. Itu terbukti dari karya-karya mereka tentang Indonesia di masa mendatang.

Tak dapat dipungkiri, kelak di masa yang akan datang, merekalah pemegang tongkat estafet pemimpin-pemimpin Indonesia selanjutnya. Di tangan mereka wujud Indonesia akan bersolek seperti apa. Dengan anak-anak yang berani bermimpi dan memiliki harapan, maka bisa jadi wujud Indonesia pun semakin cerah dan membanggakan.

Anak-anak memang sudah selayaknya dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal dan mendapat dukungan dengan maksimal. Namun sayangnya tak selalu kondisi ideal bisa didapat oleh mereka. Banyak tantangan yang harus dihadapi anak-anak termasuk pengasuhan yang kurang memadai maupun kondisi miskin dan terpencil. Hal tersebut sering kali menjadi penyebab anak tidak memiliki identitas resmi. Bahkan banyak dari mereka yang jauh dari layanan pendidikan dan kesehatan yang memadai. Tak jarang kondisi ekonomi membawa mereka pada kegiatan yang eksploitatif, kenakalan remaja hingga pernikahan dini.

Erna Irnawati, Program Officer Program Peduli untuk Pilar Remaja dan Anak-anak Rentan mengatakan, Program Peduli fokus bekerja untuk anak-anak yang menjadi korban eksploitasi seksual komersial, anak-anak yang berhadapan dengan hukum, dan anak-anak pekerja migran. Program Peduli melihat di tengah keterbatasan dan kondisinya, anak-anak ini juga mampu bangkit dan menggapai mimpinya ketika mendapatkan akses, dukungan yang tepat, serta tercipta ruang aman bagi mereka. Mereka juga memiliki mimpi dan dapat mewujudkan cita-citanya serta berkontribusi untuk pembangunan Indonesia.

Yang tak kalah menarik dari acara temu anak peduli ini adalah, mulai dari pembawa acara, pengisi acara, hingga pengendali acara semua dilakukan oleh anak-anak. Di perayaan hari anak tersebut, mereka merayakan acara, mimpi, harapan dan aspirasinya. Di perayaan hari anak tersebut mereka bebas berbicara tentang kebangsaan dan masa depan. Hari itu mereka setara dan semartabat dengan kawan-kawan mereka di tempat lain dengan fasilitas yang lebih lengkap dan mumpuni. Hari itu mereka makan, menikmati tidur, bermain, seperti layaknya sebaya mereka yang memiliki kondisi lebih baik.

Sudah saatnya seluruh anak Indonesia Setara dan Semartabat. Keadilan sosial harus terwujud untuk seluruh anak-anak di Indonesia, baik yang di kota maupun di pelosok daerah, baik yang memiliki kondisi ekonomi layak maupun kurang layak. Semua berhak mendapat pendidikan yang setara, berhak mendapat fasilitas kesehatan yang sama rata, juga mendapat ruang yang sama untuk membicarakan ide dan gagasan mereka. Bukankah mereka sama-sama semartabat? Sama-sama anak-anak Indonesia!

Citi Parenting: Mendidik Anak Menjadi Generasi Cerdas Digital


Suatu hari di sebuah restoran cepat saji, saya melihat seorang ibu yang meminta anaknya untuk duduk diam dan menyodorkan gawainya. Saya melihat si ibu sedang asik ngobrol dan bercengkerama, sepertinya dengan beberapa teman lama. Anak yang tadinya rewel karena bosan dan tidak diizinkan bermain di playground, lantas duduk diam, khusyuk menghadap gawainya. Ketika lewat untuk cuci tangan, saya sengaja melirik permainan yang sedang asik ia mainkan. Ternyata itu membuat debaran detak jantung saya meningkat drastis, karena ternyata permainan yang ia mainkan adalah jenis permainan yang bukan untuk usianya.

Tahu kah mama/papa, bahwa permainan yang ada di aplikasi gawai itu ada rentang usianya? Ada banyak sekali permainan yang melibatkan tindak kekerasan dan kejahatan seksual dalam ceritanya. Tidak semua permainan dalam gawai cocok untuk anak-anak. Saya melihat si anak yang berusia sekitar 6 tahun tersebut bermain permainan balap mobil yang banyak berisi adegan kekerasan dan misi-misi yang kurang pantas untuk anak-anak.

Dari kejadian tersebut saya sempat merenung, sebenarnya banyak orang tua yang tahu dan pernah mendengar akan bahaya siber. Namun terkadang orang tua tidak tahu bagaimana cara mengalihkan anak-anak dari gawainya. Bahkan tak jarang justru orang tua sendiri yang menyodorkan gawai tersebut agar anaknya bisa duduk diam dan tidak rewel.

 

Membuat orang tua sadar sepenuhnya tentang bahaya siber tersebut dibutuhkan peran banyak pihak. Namun sayangnya seminar-seminar yang menyajikan materi tersebut terkadang tak terjangkau oleh khalayak kebanyakan. Mahalnya harga tiket masuk dan tingginya biaya yang dibutuhkan membuat seminar-seminar pengasuhan hanya bisa dijangkau oleh kalangan berdompet tebal. Tidak adakah uluran tangan pihak-pihak yang bisa membantu mengedukasi orang tua tentang dunia digital yang sudah sangat cepat berjalan?

Rupanya Citibank dan Prestasi Junior Indonesia (PJI) memiliki kegelisahan yang serupa. Melalui kegiatan CITI PEKA (Citibank Peduli dan Berkarya), Citibank Indonesia bersama PJI mengajak orang tua siswa dari sekolah dasar negeri Ketintang I untuk belajar menjadi orang tua cerdas dalam mendidik anak generasi digital. Melalui CITI PARENTING TALKSHOW Citibank menghadirkan psikolog kenamaan ROSLINA VERAULI, M.Psi, Psi. Dalam talkshow tersebut, para orang tua siswa diajak membuka mata tentang betapa mengerikannya bahaya dunia siber. Dari dunia siber, 71% anak-anak usia 8-12 berisiko terpapar bahaya seperti perundungan dunia maya, kecanduan video, bahkan hingga pelecehan seksual.

Orang tua juga diajak mensiasati dengan memberikan kegiatan-kegiatan positif yang bisa mengembangkan bakat anak dan mengasah kemampuan anak. Menghasilkan anak yang cerdas dan berprestasi dibutuhkan kerja keras orang tua dan banyak pihak. Menghindari bahaya dunia siber tidak bisa hanya dengan menutup semua akses anak-anak terhadap dunia digital. Bagaimanapun juga banyak manfaat positif yang bisa dipetik dari perkembangan teknologi. Orang tua juga diajarkan bagaimana mensiasati waktu untuk memenuhi kebutuhan anak akan dunia digital dengan pendampingan dan bimbingan untuk meminimilsir paparan bahaya siber.

 

Dengan positif parenting, bahaya siber pada anak-anak dapat diminimalkan. Positif parenting menekankan pola komunikasi yang positif antara orang tua dengan anak. Pola komunikasi positif menghindari pertanyaan-pertanyaan yang membuat anak tidak nyaman, merasa terpojok dan diinterogasi. Membangun komunikasi positif dibutuhkan kebiasaan dan praktek dalam keseharian. Pola komunikasi positif mengedepankan sikap saling menghargai dan keterbukaan. Dengan positif parenting anak akan merasa memiliki hak untuk melakukan sesuatu dan bisa memiliki pendapatnya.

Tak hanya sebatas itu, pada kesempatan tersebut, anak-anak SDN Ketintang I Surabaya juga diajak memanfaatkan gawai untuk media pembelajaran. Anak-anak belajar tentang pengelolaan financial sejak dini. Kakak-kakak dari PJI membimbing mereka untuk mengenali perbedaan kebutuhan dan keinginan dalam mengelola keuangan. Pembelajaran “Digital Financial Literacy For Children” tersebut juga mengajarkan tentang pengetahuan dasar kewirausahaan.

Untuk yang belum kenalan sama Prestasi Junior Indonesia, Mr. Robert Gardiner menjelaskan bahwa PJI adalah anggota organisasi non-profit terbesar di dunia, Junior Achievement Worldwide, yang berfokus pada pendidikan kewirausahaan, kesiapan kerja dan kesadaran finansial. Sementara Citibank Indonesia sendiri telah beroperasi di Indonesia sejak tahun 1968 dan memiliki kepedulian yang tinggi dan bersama PJI turut terlibat dalam pendidikan generasi muda. Kegiatan tersebut dapat terlaksana berkat pendanaan dari Citi Foundation. Semoga semakin banyak perusahaan-perusahaan yang ikut terlibat dalam pengembangan pendidikan dan pola asuh anak-anak di Indonesia.

Gaya Pengasuhan Ibu Dulu Ketika Anaknya Ujian

 

Hari ini saya dapat reminder dari wali kelas si bocah kalau bulan depan sebelum puasa, anak-anak sudah menghadapi ujian semester. Tak berapa lama, whatsapp group saya heboh dengan celoteh para ibu yang membahas tentang ujian sekolah. Beruntungnya isi celotehan bukan berbagi kepanikan menghadapi ujian, tetapi berbagi pengalaman bagaimana ibu-ibu kita dulu menghadapi anak-anaknya yang mau ujian. Isinya? Beragam. Ada yang diwajibkan dapat juara 1, ada yang super selow, belajar terserah, gak belajar, rasain sendiri. Bagaimana dengan ibu saya?

Ibu saya bukan seorang ibu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kehidupan ibu cukup keras dalam mengawal adik-adiknya. Beliau rela untuk tidak meneruskan sekolah demi adik-adiknya bisa bersekolah, hingga lulus sarjana. Sementara ibu sendiri hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD. Beliau menghabiskan masa mudanya dengan bekerja di sebuah pabrik kosmetik ternama di Surabaya.

Ibu tak pernah memaksakan kami untuk harus menjadi juara. Pun ibu tak pernah memberikan target kepada kami harus mendapat nilai tertentu. Untuk urusan nilai dan ranking, ibu sangat demokratis. Yang ibu tahu hanya ibu harus bekerja sekuat tenaga bersama bapak, demi memberikan hidup yang layak untuk empat anaknya.

Namun jangan dikata hal yang sama berlaku untuk urusan pekerjaan rumah. Saya dan adik-adik punya kewajiban untuk mencuci baju seluruh orang di rumah sejak kami masih duduk di sekolah dasar. Setiap pagi, selain harus mengisi air untuk mandi, kami harus membantu ibu mencuci baju. Awalnya tugas kami hanya membilas baju atau menjemur baju yang sudah dicuci saja. Lama kelamaan, tugas mencuci diserahkan kepada kami sepenuhnya. Kalau bangun kesiangan, jangan dikira kami bebas dari tugas mencuci baju. Kalau bangun kesiangan ya tetap harus selesaikan dulu mencuci baju, baru bisa berangkat sekolah. Sampai sekolah terlambat? Resiko ditanggung sendiri. Mungkin itu juga yang menyebabkan kami harus pandai-pandai mengatur waktu sendiri, sejak kami masih SD. Hampir tidak ada teriakan cempreng yang membangunkan kami. Lantas kenapa sekarang saya menikmati sekali gegoleran di tempat tidur kalau libur tiba ya? Anggap saja itu bentuk pelampiasan dan kemerdekaan. *ngeles*

Untuk urusan ujian, ibu tak pernah benar-benar tahu. Apakah besok mulai ujian atau tidak, ibu blasss gak paham. Jadi tidak ada teriakan panjang, atau tausiah berjam-jam ketika kami mau ujian. Suasana menjelang ujian, mau itu ujian ebtanas atau ujian catur wulan (dulu masih pakai sistem cawu), semuanya bergantung sama kesiapan kami masing-masing. Justru yang sering terjadi malah saya yang ngomel panjang untuk mengajak dua adik lelaki saya belajar.

Yaaaa… mohon dimaklumi, sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya, saya adalah mahluk paling bawel di rumah. Apalagi untuk urusan belajar dan urusan sekolah. Mungkin ibu bisa selow juga karena sudah ada saya yang nyinyirnya masyaAllah ketika adik-adiknya mau ujian. Hampir setiap malam saya yang nguprek-uprek adik dan membantu mereka belajar. Bahkan kalau bapak menyalakan TV saat kami belajar, sudah bisa ditebak siapa yang bakal nyinyir duluan.

Entah kesambet setan mana, yang jelas ketika berurusan dengan pelajaran di sekolah, saya mudah panik sendiri. Meski ibu atau bapak tidak pernah menegur saya atau bertanya dapat nilai berapa, saya merasa takut ketika teman-teman bisa melakukan sesuatu, tetapi saya tidak bisa. Kesadaran untuk belajar itu timbul karena ada rasa saya tidak ingin tertinggal, saya juga harus bisa.

Ibu tidak pernah mewajibkan jam sekian sampai jam sekian harus belajar. Ibu tidak pernah menanyakan hari ini saya ada PR atau ulangan harian saya dapat berapa? Ibu tidak tahu sama sekali apakah hari ini saya bisa menjawab pertanyaan di sekolah atau saya kena strap karena terlupa mengerjakan tugas. Mungkin yang ibu tahu hanya hari ini anaknya pulang sekolah tidak menangis. Itu saja sudah cukup.

Saya kecil adalah mahluk penakut dan cengeng. Masuk TK, saya berkali-kali membuat baju ibu sobek karena adu tarik. Saya tidak mau masuk kelas tanpa ditemani ibu. Saya kecil adalah sasaran empuk perundungan. Waktu TK saya punya teman yang rajin sekali memukul dengan keset atau penggaris setiap kali berbaris, dan saya adalah sansak setianya setiap hari. Masih terbayang jelas betapa takutnya saya setiap kali waktu sekolah tiba. Maka tak heran, saya pun takut bukan main ketika lupa mengerjakan tugas atau tidak bisa menjawab soal. Itu kenapa ibu tak perlu capek teriak untuk membuat saya belajar.

Meski tidak ada tuntutan dari bapak maupun ibu, kesadaran belajar dan mengatur waktu itulah yang membuat saya menjadi langganan juara ketika sekolah. Setiap ujian tiba, biasanya saya minta ibu membangunkan saya jam 3 pagi untuk belajar. Untuk masalah begadang, iman mata saya sangat lemah. Jadi jika ada yang harus saya kerjakan hingga larut malam, saya memilih tidur dulu, dan bangun lebih awal untuk mengerjakannya. Demikian juga ketika ujian. Saya memilih tidur dulu, dan bangun sebelum shubuh untuk belajar. Pagi buta itu biasanya saya sendiri. Setelah membangunkan saya, jika ibu terlalu capek, kadang ibu tidur lagi. Namun tak jarang ibu turut beranjak ke dapur untuk menjerang air dan membuatkan saya secangkir teh hangat. Setelah ditemani teh hangat, ibu kembali membiarkan saya sendiri khusuk dengan buku-buku.

Demikianlah gaya pengasuhan ibu saya dulu dalam masalah sekolah. Beberapa hal masih saya pakai hingga sekarang. Saya juga tidak pernah menuntut dua bocah kecil saya untuk memiliki nilai tertentu. Saya tidak pernah mewajibkan bocah kecil saya jam sekian harus belajar. Namun untuk membentuk disiplin belajarnya, biasanya saya berikan mereka pilihan, mau belajar siang selepas pulang sekolah, atau belajar malam hari setelah pulang mengaji. Mereka bebas memilih. Bahkan kalau bersama ayahnya, mereka juga bebas untuk tidak memilih keduanya. Tapi kalau sama bundanya, tetap harus dipilih salah satu. Selebihnya mereka bebas bermain dan bereksplorasi, main lego, membaca, bikin-bikin, pretend play, terserah.

Kebebasan yang kami berikan bukan berarti kami tidak peduli dengan pendidikan. Kami tetap concern dengan hal-hal yang menjadi minat dan bakat dua bocah tersebut. Mereka harus menguasai skill tertentu yang menjadi kesukaan mereka. Kami tidak mewajibkan mereka harus memiliki nilai 100 di semua pelajaran. Namun untuk hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, tanpa harus dikomando dan dipaksa, nilai 100 mudah saja tergenggam.

Seperti yang sering di dengungkan para alumni the urban mama, “there is always different story in every parenting style”. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam pola asuh. Apa yang terjadi dalam keluarga kami, adalah yang cocok bagi gaya kami. Tulisan kali ini pun hanyalah kenang-kenangan atas nama masa kecil. Jika kalian memiliki pendapat yang berbeda pun tak mengapa. Bebas untuk berbagi di kolom komentar. Semoga bisa membantu melegakan perasaan bagi yang sejalan dan senasib. Selamat (terus) belajar!

Cerita Di Balik Seuntai Gelang

 

Beberapa waktu yang lalu dua bocah bilang ingin ulang tahunnya dirayakan dengan bagi-bagi goodiebag. Ia ingin seperti teman-temannya yang bisa berbagi goodiebag. Berbagai ide isi goodiebag mereka utarakan. Sebelum bunda mules sendirian, maka diajaklah dua bocah berhitung.

Dua bocah didudukkan dan diajak berdiskusi tentang apa saja yang ingin dijadikan goodiebag, siapa saja yang akan mendapat goodiebag, dan berapa yang akan dibuat. Dari diskusi itu dua bocah belajar berhitung kira-kira berapa biaya yang dibutuhkan untuk merayakan ulang tahun sesuai keinginannya.

Rupanya dari cara itu mereka tahu berapa besarnya uang yang harus dikeluarkan ayah dan bunda untuk merayakan ulang tahunnya. Berawal dari itulah lalu si bocah berpikir bagaimana caranya mendapat uang untuk ditabung. Mulai dari ide mau jualan gambar, jual boneka, hingga tercetuslah ide jual gelang.

Ide itu mantap mereka eksekusi karena mereka bisa buat barangnya sendiri, harga jualnya terjangkau untuk teman-temannya dan barangnya mudah dibawa di tas sekolah. Akhirnya selama weekend kemarin mereka sibuk membuat gelang untuk dijual di sekolah.

Selama 2 hari bekerja, jadilah 11 untai gelang mungil yang siap dijual dengan harga 2.000an. Pas lagi beberes, eh ada om nuni yang datang bersama para ponakan yang ceriwis. Melihat duo kunyil yang heboh dengan barang dagangannya, dibelilah 6 gelang oleh si om.

Memang dari dulu si om adalah truly guardian angelnya Kira & Kara, maka yang dibeli om bukan sekedar untaian gelang, tapi om membayar dengan semangat dan cinta untuk duo kunyil. Kalai dipikir-pikir buat apa coba si om beli gelang sebanyak itu dengan warna yang unyu-unyu pula, kalau bukan untuk cinta dan semangat. Bisa ditebak bahagianya dua bocah setelah 6 gelangnya laku.

Ketika sore teman-teman kompleks nya datang untuk bermain, maka disuguhilah 2 kotak manik-manik yang bebas mereka bikin sendiri, gratis! Maka sore itu, teras rumah berubah menjadi tempat crafting para bocah-bocah cilik. Tetep yaaa yang heboh ya cewek-ceweknya, sementara anak laki sibuk lari-larian atau bermain lego.

Dari seuantai gelang yang awalnya mereka buat untuk iseng dipakai sendiri, lalu timbulah semangat dan asa untuk berbagi. Kita tidak bisa menebak dari mana anak-anak bisa belajar tentang banyak hal. Kita hanya perlu menyediakan banyak media untuk belajarnya, karena belajar adalah hak mereka dan memfasilitasinya adalah kewajiban kita.

Buku loakan, manik-manik sisa, kertas bekas, gunting, majalah usang, lem, kapur, atau hanya sekedar tempat yang nyaman untuk bertanya adalah fasilitas belajar yang tak ternilai harganya bagi mereka. Kami tak pernah keberatan mereka menghabiskan jajanan di rumah atau membuat halaman rumah jadi penuh coretan. Kami bahagia turut menjadi bagian dari coretan masa kecil mereka.

Dari seuntai gelang kami belajar tentang banyak hal, tentang semangat pantang menyerah dan tentang empati. Dari seuntai gelang untuk semangat belajar yang akan terus terbawa. Semoga!

Belajar Parenting dari kisah DILAN dan MILEA

Film Dilan 1990 ternyata feedbacknya luar biasa yaaa… Film yang diadaptasi dari Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq ini cukup menjadi hiburan yang renyah untuk anak muda. Eh bukan cuma anak muda ding, tapi juga ibu-ibu macam kami. heuheu…

Awalnya ketika ada ajakan nonton bareng teman-teman, ada rasa enggan. Selain karena anggaran nonton yang gak ada, juga karena ngerasa bukan genre film kesukaan saya. Tapi ketika ada tawaran untuk kedua kali, dan bioskop juga udah sepi, akhirnya cusss berdua sama teman nonton filmnya. Keluar dari bioskop, ternyata hati ikut berbunga-bunga. Serasa habis dihujani kata-kata indah. hahaha… receh sekali ya bahagianya. Seneng aja gitu digombalin.

Penasaran dengan isi novelnya, akhirnya ubek-ubek dan dapatlah 2 buah novel DILAN dan 1 novel MILEA. Dalam waktu 4 hari, 3 buku habiiisss… (Ibu macam apa coba? Kayak gak ada kerjaan ajaa…) Novelnya ringan, dengan gaya bahasa yang mengalir, membacanya jadi gak kerasa. Tahu-tahu sudah habis saja.

Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta anak SMA antara Dilan dan Milea. Mulai dari masa pendekatan hingga jadian, bahkan hingga putus. Bedanya, kalau novel DILAN diceritakan dari sudut pandang Milea, sedangkan MILEA diceritakan dari sudut pandang Dilan. Setelah baca ketiganya, kita jadi bisa menilai keseluruhan jalan cerita. Kita juga bisa menyelami bagaimana perbedaan jalan pikiran perempuan dan laki-laki, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dan mengambil keputusan.

Jadi, kalau kalian mau tahu kenapa Dilan dan Milea bisa sampai putus, wajib baca semua novelnya. Dengan begitu kamu tidak akan merasa patah hati yang berlebihan. Ayo ngaku, siapa yang patah hati dan gagal move on ketika tahu kalau Dilan dan Milea ternyata putus? hahaha… Gak usah baper! Baca novelnya dan nantikan seri film selanjutnya.

Sebagai seorang yang kini sudah punya anak dan pernah melewati masa-masa SMA dan ditembak sama Dilan versi KW Super, saya memiliki pesan moral yang berbeda. Ternyata setelah selesai membaca 3 novel tersebut, saya dibuat jatuh cinta pada ibunya DILAN. Kalau jatuh cinta sama DILAN kan sudah banyak yang mengalami ya? Lagian saya sudah menikah dan punya DILAN sendiri di rumah. Jadi sudah gak iri lagi sama yang di novel. Tapi kalau ibunya DILAN itu salah satu sosok ibu yang patut ditiru dan diteladani.

Siapa yang setuju kalau menghadapi anak balita dengan anak SMA itu bedanya jauuuhh… Jadi kalau kita tetap pada pola yang sama, bisa jadi anak SMA kita bakal kabur setiap hari dari rumah. ya kali anak SMA mana mau didikte macam anak TK “ayo bajunya diberesin! Mainannya jangan berantakan!”. Engap gak sih kalau di rumah isinya omelan mulu?!

Sebenarnya pada awalnya saya dibuat kagum oleh sosok DILAN yang menaruh respek tertinggi terhadap ibunya, yang kerap ia sapa dengan sebutan “bunda”. Sekesal apapun, semarah apapun, ketika ibunya yang berbicara, maka ia akan duduk diam dan tenang mendengarkan. Coba bayangkan, anak muda, laki-laki yang ada di usia sangat kritis, bisa duduk takzim mendengarkan omelan ibunya, itu yang hebat luar biasa pasti ibunya. Anak SMA itu kan masa-masa pemberontakannya luar biasa ya? itu usia yang pengennya ya “semau gue”, the only rule is no rules.

Demi belajar sifat ibunya, akhirnya khusus pada bagian interaksi dan percakapan sang bunda saya baca ulang. Bagaimana bunda berinteraksi dengan DILAN, dengan adik dan kakaknya, dengan teman-temannya, dan hasilnya menakjubkan! Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sosok sang bunda tentang mengasuh anak remaja:

Bunda memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Usia anak remaja adalah usia di mana ia belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusannya. karena itu, dibutuhkan dukungan bahwa keputusan anaknya adalah yang terbaik yang diambil oleh anaknya. Kalaupun memang ternyata keputusan yang diambil salah, maka anak akan belajar dari masa trial and error.

Seperti ketika Bunda harus kembali menghadapi Dilan yang tawuran dengan teman-temannya, sampai harus menginap di kantor polisi. Di situ digambarkan bahwa bunda bukan seorang yang mudah panik. Bunda memberi kesempatan bahwa Dilan sedang mempertanggungjawabkan keputusannya. Bunda pun yakin bahwa Dilan belajar sesuatu dari keputusannya. Bahkan saking kalemnya si bunda menghadapi Dilan, ia justru bisa meminta Milea untuk ikhlas dan sabar. Luar biasa bukan?

Dibandingkan harus marah-marah dan mengomel, bunda memilih memberikan kesempatan bagi Dilan untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? Daripada harus bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membahas kesalahan, sepertinya lebih bijak jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Bunda memberikan Kepercayaan kepada anaknya

Suatu hari Dilan kembali melakukan kesalahan berkelahi dengan temannya. Hingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya karena melanggar peraturan untuk kesekian kalinya. Bagaimana reaksi si Bunda?

Ia berkata bahwa Bunda percaya kepada anaknya. Apabila si anak berkelahi, tentu bukan karena si anak yang memulai. Si anak berkelahi itu karena melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Lantas bunda melanjutkan nasihatnya bahwa sebenarnya tidak semua hal harus diselesaikan dengan perkelahian. Bunda mengajarkan Dilan untuk berbuat bijaksana dengan menaruh kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya.

Bunda memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang reputasi geng motor? Ketika anaknya meminta motor dan memutuskan untuk ikut bergabung ke dalam geng motor, Bunda tidak lantas menjadi orang yang frontal melarang. Bahkan ketika anaknya dikenal sebagai panglima tempur sekalipun bunda masih bisa bersikap tenang. Ada masanya ketika Bunda memanfaatkan reputasi anaknya untuk mengatur muridnya yang bandel.

Bunda memberikan kebebasan bagi Dilan untuk mengambil keputusan, karena bunda percaya bahwa ia telah menanamkan pondasi yang cukup baik terhadap anak-anaknya agar mereka tak mudah terbawa arus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Terbukti, meski menjadi panglima tempur, Dilan digambarkan bukan sebagai sosok yang urakan.

Bunda Selalu Memberikan Pilihan, Bukan Paksaan.

Anak usia remaja bukan lagi anak yang sukarela diajari atau bahkan didikte melakukan sesuatu. Namun terkadang sebagai ibu kita punya tuntutan agar anak melakukan sesuatu. Namun masalah tidak akan berhenti jika si ibu melakukannya dengan memerintah atau memaksa anak. Nah! Bunda selalu punya pilihan untuk anak-anaknya yang seolah “memaksa” secara halus si anak melakukan sesuatu. Pilihan tersebutlah yang menggiring anak-anak melakukan hal yang dikehendaki bunda.

Seperti ketika Bunda meminta Disa untuk memanggil Banar, kakaknya, ia menggunakan kalimat:

“Bunda yang manggil atau Disa?”

Dengan kalimat pilihan tersebut, anak digiring untuk memanggil kakaknya, tanpa perlu bunda yang melakukannya. Cerdas bukan?

Bunda memberi tahu kapan ia akan marah.

Ini juga menjadi hal yang menarik dari sosok Bunda. Bunda ketika ia akan marah, maka ia memberi tahu kepada anaknya bahwa bunda akan marah. Dengan demikian ia meminta anaknya untuk bersiap-siap. Si anak akan otomatis duduk diam dan mendengarkan dengan takzim selama bunda menumpahkan amarahnya. Tidak ada yang membantah apalagi menyerang balik.

Bagaimana jika anaknya belum siap?

Maka bunda akan terus menunggu hingga anaknya siap. Bahkan tak jarang sampai lupa. Namun demikian, bunda tetap akan memberikan wejangannya ketika sudah merasa lebih tenang dan terkontrol. Sehingga anak pun tetap menaruh segan dan hormat kepada bundanya. Di sinilah seorang bunda dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya. Bukan hal yang mudah buat saya yang bawaannya pengen nyolot dan teriak. Tapi sangat berharga untuk dipelajari sebelum kedua bocah benar-benar beranjak remaja. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Waktu tidak bergerak mundur.

Menarik bukan mempelajari sifat bunda dan caranya “menaklukkan” anak remaja?

Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

 

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!

Saya Perempuan, Saya ibu. Siapa Saya?

Beberapa waktu yang lalu kami bersama teman-teman dari #BikinBikinDiTaman membuat mini project bertema parenting. Kegiatan ini diinisiasi oleh mbak Iput atau lebih dikenal dengan sebutan IbuRakaRayi.  Mini project tersebut dibuat karena terinspirasi dari berbagai seminar parenting yang sering kami ikuti. Kebetulan kami sama-sama senang berburu ilmu parenting dari satu seminar ke seminar yang lainnya

Dari sanalah kami membayangkan suasana seminar yang bisa sesantai ketika  kita sedang curhat kepada teman. Pasti sangat menyenangkan ya… Seandainya suasana seminar itu bisa senyaman kita biasa ngobrol di meja makan atau di sofa empuk, tentu akan lain rasanya. Nah, di samping itu, bulan Desember bertepatan dengan peringatan hari ibu. Jadi kenapa tidak kita coba untuk membuat satu project kecil untuk ngobrol santai bertema parenting bersama para ibu.

Dari berbagai pertemuan dan diskusi selama sebulan untuk membicarakan project sambil menanti jam sekolah usai, akhirnya keluar juga konsep project #NgobrolParentingDiTaman. Konsepnya masih akan terus diperbaiki, namun sebagai project permulaan, Alhamdulillah berjalan lancar. Menjelang hari H mendadak ada banyak sekali kegiatan dan kejadian yang membuat kami harus sedikit berakrobat demi mewujudkan mini project tersebut. Beruntung teman-teman dibalik #BikinBikinDiTaman sudah biasa diajak berakrobat. Alhamdulillah tektok via whatsapp lumayan lancar. Maka, berikut ringkasan bahasan di mini project #NgobrolParentingDiTaman kemarin:

Di awal sesi mbak Sherli, seorang psikolog dari Klinik Anakku Surabaya sebagai narasumber membagikan worksheet untuk diisi para peserta. Worksheet tersebut berisi pertanyaan seputar perasaan mereka menjadi ibu, dan seberapa jauh peserta mengenal diri sendiri. Worksheet tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi diri kita dan mengenal siapa kita.

Karena pada umumnya, setelah menjadi seorang ibu, kita lebih dikenal sebagai ibu dari si A, atau lebih sering dipanggil Mamanya si A. Sekarang coba mari kita ingat-ingat, untuk para ibu yang sudah memiliki anak usia sekolah, ada berapa ibu-ibu wali murid yang kita tahu nama aslinya? Berapa banyak ibu wali murid yang dipanggil sesuai nama aslinya, bukan nama anaknya? Misal, saya Wiwid adalah ibu dari Kira dan Kara. Biasanya kalau di sekolah lebih sering dipanggil “Mama Kira atau Mamanya Kara”, daripada dipanggil dengan sebutan “mbak Wiwid, atau bu Wiwid”. Benar atau tepat?

Apakah itu salah? Tidak. Menurut mbak Sherli, itu tidak salah. Hal tersebut bisa menjadi salah kalau membuat kita kehilangan identitas diri. Lebih buruk lagi, jika pada akhirnya semua hal baik atau buruk dari anak-anak  menjadi 100% karena ibunya. Sehingga jika ada komentar negatif tentang anak-anak, kita jadi lebih mudah tersinggung dan jadi lebih gampang baper. Bahayanya ketika ibu mudah baper, maka ia akan sibuk dengan luka hatinya sendiri, dibandingkan fokus mencari solusi untuk permasalahan anaknya.

Masih ingat ungkapan “It takes a village to raise a child”? Begitulah karakter anak dibentuk. Anak-anak memiliki karakter bukan dibentuk 100% oleh ibunya saja, tapi juga dipengaruhi oleh ayah, kakek, nenek,  guru, teman-temannya, saudara-saudaranya, bahkan juga lingkungannya. Itu kenapa baik-buruk seorang anak belum tentu 100% karena ibunya. Akan menjadi tidak adil terhadap diri sendiri jika ibu menghakimi dirinya dan merasa bersalah atau baper berkepanjangan.

Menjadi seorang ibu kita diajak untuk lebih sering “eling”. Mbak Sherli mengajak kita untuk mengingat apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu dan hal-hal apa saja yang sering membuat kita bête selama menjadi seorang ibu. Menjadi ibu itu dibutuhkan persiapan, bukan sekedar persiapan materi, namun juga kesiapan emosional, intelektual, bahkan kesiapan fisik.  Dengan persiapan yang matang, seorang perempuan akan menjadi lebih percaya diri menjadi seorang ibu. Dengan begitu ia akan lebih siap menghadapi segala macam penghakiman tanpa perlu menjadi baper.

Jika kita eling atau ingat semua hal yang membuat ibu bete atau kesal, maka ia akan tahu kapan harus mengantisipasi dengan introspeksi diri. Harapannya kita jadi tahu apa yang  harus dilakukan untuk memperbaiki diri dalam mendidik anak-anak.  Misal, saya paling kesal kalau saat sudah ngantuk berat Kira dan Kara memberantakan mainannya. Dengan mengetahui bahwa batas kesabaran dan kesadaran saya ada di titik nadir ketika mengantuk, maka saya memilih tidur dan meminta bantuan Ayahnya atau eyangnya menggantikan saya mendampingi Kira dan Kara bermain. Dengan demikian kondisi kondusif dalam mendidik anak dapat terus terjaga.

Baca Juga: Tingkat Kewarasan dan Jam Tidur

Seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling akan lebih mudah fokus mencari solusi dalam permasalahan mendidik anak-anak dibandingkan sibuk mengobati rasa bapernya sendiri. Seorang ibu yang memiliki kesiapan dan kematangan dalam ilmu, ia akan tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri atas semua capaian terbaiknya. Karena bagaimanapun, semua perjuangan ibu itu layak untuk dihargai. Sibuk angkat jemuran sambil menggendong anak yang rewel itu tidak mudah. Mendengar omelan manager yang omset perusahaannya turun ditambah rengekan anak di rumah yang sedang sakit itu bukan main rasanya. Itulah kenapa setiap perjuangan layak untuk dihargai. Setuju?

Tentu saja, untuk menjadi seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling dibutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif. Suami yang selalu siaga, orang tua dan mertua yang selalu hangat, bahkan juga teman-teman yang selalu menyediakan telinganya untuk menampung curhat. Ini serius, dukungan teman curhat itu bisa menjadi salah satu dukungan terbaik yang diberikan oleh support group yang bisa menguatkan dan membantu mengingatkan seorang ibu lho…

Ibu pun juga butuh curhat kok! Bisa kepada suami, orang tua, mertua, saudara atau bahkan temannya. Curhat menjadi sarana mengkomunikasikan isi pikiran dan perasaan seorang ibu. Apabila ibu mampu membangun komunikasi yang baik dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya maka akan terbangun emosi yang positif dalam menghadapi masalahnya. Ibu yang terakomodasi dengan baik untuk curhat dan mendapat masukan yang positif, maka si ibu akan lebih mudah menjadi “Waras” dan “eling”. Membangun komunikasi yang baik ini penting agar ibu mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu tak perlu malu kalau mau curhat ya buuuu…

Bahkan curhat kepada anak itu juga sah lhoo… Dengan sesekali curhat kepada anak, kita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal siapa ibunya sebenarnya. Bahkan kita sah lho mengungkapkan apa kesukaan kita dan apa yang tidak kita sukai kepada anak-anak. Jika biasanya setiap makan ayam ibu selalu mengutamakan anak-anaknya untuk mendapat daging terbaik, dan ibu rela makan bagian kepala, boleh kok sesekali ibu meminta sedikit bagian dagingnya, agar anak-anaknya tahu bahwa sesungguhnya ibunya tidak suka makan kepala ayam. Dengan memberikan kesempatan anak-anak mengenal ibunya, maka jika suatu saat si ibu membutuhkan sesuatu, anak-anaknya akan tahu harus berbuat apa. Bukankah ibu juga manusia yang suatu saat membutuhkan bantuan?

Baca juga: Mengembangkan Ketrampilan Sosial Anak

Untuk itu, ayo kita ingat-ingat lagi, siapa kita? Apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu? Apa yang membuat kita kesal dan bête dalam menjalan peran sebagai ibu? Apa alasan kita mau dan bersedia menjadi ibu? Apakah kita terpaksa atau dipaksa menjadi seorang ibu? Persiapan apa saja yang sudah kita lakukan dalam menjadi seorang ibu?

Semoga sedikit membantu mengingat dan mengenali diri.  Dengan demikian kita akan bisa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan menimba ilmu demi menghadapi tantangan mendidik anak yang tidak pernah ada habisnya. Dengan belajar terus menerus memperbaiki diri, kita bisa menjadi lebih baik setiap hari. Selamat hari ibu!

 

All pic taken by: Mbak Iput

Cerita Tentang Tantangan Membaca

Minggu lalu Kira dan Kara membawa pulang formulir dari sekolah yang isinya tentang laporan daftar buku untuk tantangan membaca. Rupanya sekolah mengadakan program tantangan membaca untuk seluruh muridnya. Tantangan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan cinta literasi di kalangan anak sekoah dasar. Program yang bagus nih!

Baca Juga: Ketika Si Kembar Masuk SD

Tapi ternyata setelah melewati satu minggu dari tantangan tersebut, saya dibuat mules dengan kenyataan-kenyataan yang saya dapati diantara para wali murid. Sebelum curhat tentang para wali murid yang bikin mules tersebut, saya mau curhat tentang perjalanan belajar membaca Kira dan Kara dulu boleh yaaa..

Kira dan Kara sudah akrab dengan buku sejak masih dalam kandungan. Saya senang membaca buku. Bahkan saat mereka dirawat di inkubator, saya rutin membacakan cerita. Mendengar atau tidak, tahu atau tidak, saya tidak peduli. Saya hanya ingin memberikan hal baik untuk mereka. Daripada mengeluh atau menangis di depan tabung inkubator, saya memilih membacakan cerita-cerita yang penuh semangat dan ceria khas anak-anak.

Pada perjalanan waktu, saya pernah membaca entah di artikel mana bahwa mengajarkan membaca pada anak-anak itu bisa dimulai sejak dini. Belajar membaca itu dimulai dengan membacakan buku sejak bayi. Kebiasaan ini bermanfaat untuk menumbuhkan rasa senang membaca dan cinta buku. Konon katanya anak yang biasa dibacakan buku sejak dini akan lebih cepat membaca dan lebih mudah memahami tulisan ketika ia sekolah nanti.

Namun apa kenyataan yang saya dapat di lapangan?

Diantara teman-teman sekelasnya, Kira dan Kara tergolong lambat dalam membaca kalimat. Meski mereka sudah hafal dan mengenal huruf sejak usia 4 tahun, namun entah mengapa ketika memasuki fase belajar membaca sepertinya sangat lambaaat sekali mereka menguasai kata. Menulis dan membaca huruf b dan d sering sekali terbalik hingga sekarang. Saya sempat merasa sedih.

Saya sempat membombardir mereka dengan memaksa belajar membaca dan membelikan segambreng buku tentang belajar membaca. Bukannya senang, mereka malah uring-uringan. Saya merasa mereka susah sekali fokus dalam mengeja kata. Segala macam metode “cara membaca cepat” saya praktekan, namun hasilnya nihil. Kesalahan bukan pada metodenya. Karena panik saya tidak pernah fokus menjalankan satu metode. Tentu saja hasilnya juga amburadul. Akhirnya saya pasrah mengikuti aliran dan pola yang ada.

Baca Juga: Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

Tuntutan kurikulum saat ini memang berat. Tapi memaksa mereka melakukan sesuatu tentu hasilnya tak pernah maksimal. Bahkan saya harus menabahkan diri ketika wali kelasnya berkali-kali memberi catatan pada saya tentang pelajaran menulis dan membaca dua bocah kunyil itu. Beruntung sekali sekolah membuat program tantangan membaca ini. Program ini membuka mata saya tentang jalur yang telah kami pilih.

Cerita itu berawal ketika ada seorang orang tua murid yang datang ke rumah saya menanyakan tentang tantangan membaca tersebut. Ia bercerita kalau kesulitan mencari bahan bacaan untuk anaknya karena di rumahnya tak banyak buku yang bisa dibaca. Kondisi ekonomi yang sulit tak bisa membuatnya dengan leluasa membelikan buku untuk si bocah. Lantas saya menawarkan untuk membaca buku di rumah bersama Kira dan Kara sepulang sekolah.

Apakah masalah selesai? Ternyata tidak.

Ketika Kira dan Kara mulai sibuk memilih buku, si bocah juga nampak antusias membuka-buka buku. Namun ternyata tak bertahan lama. 5 menit kemudian, ia nampak terlihat bosan. Baru dua halaman dibuka, ia sudah berpindah ke buku yang lainnya. Hingga Kira dan Kara menyelesaikan satu buku, tak satu bukupun ia selesaikan dengan tuntas. Ketika saya tanya apakah ada buku yang ia suka? Ia menjawab capek dan tak suka membaca. Lantas ketika saya minta ia membaca 2 kalimat, ternyata sebenarnya cara membacanya jauuuuh lebih lancar dibandingkan Kira dan Kara. Bahkan untuk buku yang ceritanya terbilang sangat sederhana untuk Kira dan Kara, tak mampu ia lahap. Padahal jika ia mau dan suka, buku yang hanya berisi beberapa halaman itu akan mampu ia selesaikan hanya dalam waktu 5 menit saja. Toh buku itu hanya berisi satu hingga dua kalimat sederhana dalam tiap halamannya.

Saya terpana ketika si ibu mengambil alih tugasnya dengan membaca sendiri dan menuliskan isi laporan tantangan membaca tersebut. Saya kecewa. Saya sedih. Saya merasa menyediakan diri untuk memanipulasi laporan siswa. Saya tidak suka cara itu. Mungkin saya saklek dan kaku, tapi saya tidak suka anak-anak melihat hal yang tidak jujur berlangsung di depan matanya. Kalau sejak kecil memanipulasi laporan membaca, nanti besar ia bisa memanipulasi laporan keuangan. Kan gawat!

Dari kejadian itu saya melihat bahwa rasa senang membaca dan senang mendengar cerita itu memang perlu ditanamkan sejak dini. Keterbatasan ekonomi seharusnya tak menjadi penghalang. Surabaya sudah memiliki perpustakaan daerah tempat kita bisa meminjam buku. Semoga kita tak pernah merasa lelah untuk membacakan anak-anak buku. Agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas literasi.

Si Kembar Masuk SD

Harusnya tulisan ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu. Berhubung jadi orang yang sok sibuk, jadilah terbengkelai. Kebetulan hari ini yang harusnya saya menyelesaikan deadline kerjaan, ndilalah semua dokumen kerjaan belum dikirim ke email. Orang yang bertugas kirim-kirim dokumen sedang cuti. Merasa memperoleh angin segar untuk “libur” sehari, maka disempatkan menulis curhatan ala bunda kunyil.

Dua bocah kunyil sekarang sudah SD! Hooorrreee…. Kira dan Kara masuk SD tepat di usia 7 tahun. Harusnya secara emosional dan motorik sudah cukup matang untuk menempuh petualangan menjadi siswa Sekolah Dasar. Maka daftarlah mereka ke SD incaran. Pilihan sekolahnya sesuai dengan diskusi dan kesepakatan bersama, antara ayah, bunda, Kira dan Kara. Para bocah tentu saja dilibatkan dalam diskusi. Ini karena mereka yang akan menjalani. Jadi semua harus sesuai kesepakatan bersama.

Pertimbangan Masuk SD Negeri

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Kira dan Kara ke SD Negeri. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diantaranya sangat sederhana dan klise ala orang tua malas berpikir rumit. Apa aja sih? Ini sebagian pertimbangannya:

Pertama, Sekolah Dasar Negeri adalah sekolah yang terdekat dari rumah kami. Kami ingin Kira dan Kara benar-benar belajar mandiri. Dimulai dengan berangkat dan pulang sekolah sendiri. Meski tersembunyi alibi bunda bebas antar jemput selama 6 tahun, namun percayalah, niat kami tulus. Kira dan Kara yang jarang main jauh dari rumah bisa mulai belajar dengan menghafal rute dari rumah ke sekolah. Meski jaraknya hanya selemparan batu, tapi bunda kunyil tetap saja melalui fase dag dig dug ketika melepas mereka berangkat sekolah sendiri.

Kedua, sekolah negeri memiliki pergaulan yang sangat beragam. Ibarat miniatur sosial, sekolah negeri lah tempat miniatur sosial sesungguhnya. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang tajir melintir sampai anak yang bergantian sepatu dengan kakaknya yang masuk sekolah siang. Serius, beneran ada dan nyata. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang usilnya naudzubillah hingga anak yang disuruh apa aja nurut. Di sekolah Negeri kamu bisa menemui anak yang super duper religius hingga anak yang omongannya udah mirip cerita kebun binatang. Jadi kamu mau cari tipe anak yang kayak gimana, Sekolah negeri lah tempatnya.

Nah, memasukkan duo bocah kunyil ke sekolah semacam itu, dibutuhkan doa dan kebulatan tekat maha dahsyat. Ya gimana yaa… Dengan dua bocah yang terbiasa ada di lingkungan yang serba mengayomi, serba mengasihi, dan serba aman nyaman sentosa, tiba-tiba harus masuk ke rimba raya pergaulan yang super dahsyat. Pasti ada fase jetlag. Pasti ada fase shock. Pasti ada fase mogok sekolah. Pasti ada fase nangis tiap hari. Pasti ada fase nyinyir antar orang tua. Pasti ada fase jengkel sama guru. Pasti ada fase kesal sama semuanya. Pasti itu…

Untuk itulah dibutuhkan persiapan hati yang sempurna. Bukan hanya hatinya dua bocah kembar ya… Yang paling utama dan paling penting justru hati orang tuanya.

Saya menyiapkan diri untuk tidak nyinyir berlebihan. Meski fitrah susah dilawan, namun sekarang sudah saatnya memakai rem untuk mulut sendiri biar gak gampang kelepasan nyolotnya. Bawaan bawel sudah dari sananya. Tinggal disalurkan ke kanal yang benar biar gak lepas dan memakan korban. Maka, saya hindari sebisa mungkin untuk komen berlebihan tentang banyak hal. Sebisa mungkin memberikan kontribusi saran, suara, komentar yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan nyinyir management yang tidak mudah buat bunda kunyil.

Lanjuuut… Pertimbangan ketiga adalah soal biaya. Masuk SD Negeri bebas biaya, ciiiin… Untuk tahun pertama kita hanya butuh beli seragam dan perlengkapan sekolah. Untuk siswa yang tidak mampu ada bantuan. Bahkan kalau mau menyumbangkan seragam layak pakai juga boleh bangeeet. Bebas biaya SPP pula. Daaaan untuk pemegang kartu KIS mendapat subsidi buku paket tematik dari sekolah. Happy kaaan… Itu bagian yang bikin bunda kunyil sedikit terhibur. Dengan demikian, jatah SPP sekolah bisa dialihkan ke dana les yang bermanfaat. Itulah akhirnya bunda kunyil bisa mendaftarkan duo kembar masuk les berenang. Untuk pertimbangan ini, saya sudah siap jika ada yang bergumam “pelit amat…”. Gakpapa lah yaa… Kita gak ada yang tahu isi dompet orang lain, kecuali disodori formulir LHKPN. Ya tapi siapalah saya, hanya pejabat teras rumah mertua, mana punya LHKPN untuk diumumkan. Jadi cukup saya, suami dan Tuhan yang tahu berapa isi dompet kami. *ngikik manis*

Setelah Si Kembar Masuk SD Negeri

Apa yang terjadi setelah duo bocah kembar masuk SD Negeri? Seperti perkiraan sebelumnya. Ada fase bocah pulang dengan wajah sumringah cerah ceria mendapat teman baru. Ada pula saatnya selama seminggu penuh pulang dengan menangis karena dijahilin temannya. Bahkan pernah pulang dengan wajah penuh marah, rupanya habis baku hantam saling pukul di sekolah.

Kok bisa?

Iya bisa, karena disuruh bunda. hahaha… Itu hari di mana saya sudah jengah tiap hari mendengar aduan tentang anak yang sama. Mulai dari digodain, lalu disenggol pas nulis, lalu berisik pas pelajaran, lalu dicolek-colek pas lagi ulangan, hingga dipukul ketika habis imunisasi. Lalu saya tanya, “kamu takut gak sama dia?”. Si bocah menjawab enggak. Dia menangis karena tidak tahan digangguin tapi gak bisa bales. Rupanya dia ingat sama wejangan bundanya, gak boleh membalas memukul jika dipukul. Itu sama saja jahatnya. Nah, ketika PMS dan rasa jengah sudah diubun-ubun, maka saya bilang “ya sudah kalau kamu gak takut, besok kalau kamu dipukul lagi, pukul balik saja…”

Trust me! Mungkin saat itu saya jadi bunda paling buruk sedunia. Biarlah. At least saya tahu seperti apa endingnya. Kalau ternyata keputusan itu salah, kami bisa belajar dari kejadian itu. Kalau memang mau dicaci atau diketawain, no need to worry, bunda kunyil sudah siap.

As we know, kejadian itu beneran keesokan harinya dua bocah saling beradu pukul hingga bocah saya memilih pergi karena ia tahu ini tidak akan selesai. Eh iya, si bocah yang jahil itu laki-laki yaa… Jadi bisa dibayangkan ketika bocah saya yang perempuan berpostur super mungil, dengan berat badan yang tak lebih dari anak umur 5 tahun, beradu pukul dengan bocah lelaki yang sering menggoda anak perempuan yang katanya “cengeng”. Bunda? Puas dooong… Gurunya? Gak kenapa-napa. Karena tahu yang usil memang yang laki, jadilah ketika mendapat aduan dari teman-temannya yang lain, si anak lelaki dipindah duduk paling pojok. Sendirian. That’s it! Case closed!

Kalau ada saran, komentar, atau nasihat, ledekan, tertawa puas karena merasa senasib, tuliskan saja di kolom komentar. Bebasss.. Insyaallah semua di approve kecuali spammer!

Kejadian itu satu-satunya? TIDAK. Itu hanya salah satu kejadian “ajaib” yang kami alami selama 3 bulan bersekolah di sekolah negeri. Yang lainnya? Tunggu saja, siapa tahu saya cukup selo untuk berbagi cerita di sini.

Sekian curhat hari ini, selamat melanjutkan hari!