Ajari Anak Berpikir Kritis

Duo kunyil senang sekali membaca buku tentang pengetahuan dan trivia, seperti “Einstein Aja Gak Tahu”, “Fakta Paling Aneh Di Dunia” dan sejenisnya. Dengan membaca buku-buku seperti itu, mereka merasa senang ketika bercerita dan makin bangga ketika yang diceritakan adalah informasi baru buat ayah atau bundanya. Merasa lebih tahu itu bisa menyenangkan dan bikin bangga ya?

“Bund, tahu gak kenapa sirup jagung itu manis, padahal rasa jagung kan gak manis-manis banget? Aku tahu lhoo…” lalu mereka akan ngoceh tentang betapa ajaibnya proses kimia, bla… bla…

Setelah mereka senang membaca lantas apa? Kini saatnya menanamkan pada anak untuk berpikir kritis, mempertanyakan kebenaran dari apa yang dibacanya. Fungsinya apa? Di tengah arus informasi yang super deras, kalau anak melahap begitu saja semua informasi yang diterimanya, tanpa tahu bagaimana menyaringnya, ya wassalam. Mereka bisa saja terjebak dan tenggelam dalam pusaran hoaks, disinformasi dan misinformasi.

Siapa yang sering menerima share berita di whatsapp group dengan sumber yang belum jelas asalnya. Ada berita yang kelihatannya mencerahkan, ada berita yang mengkhawatirkan, bahkan banyak juga berita yang menggembirakan, tapi siapa yang tahu kalau mungkin saja 90% diantaranya adalah hoaks. Coba telan saja semua berita yang dibaca di group whatsapp atau di sosial media tersebut, maka seminggu kemudian mungkin kita sukses menderita depresi akut.

Kita mungkin dulu memang tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Banyak orang tua jaman dulu yang lebih suka anaknya menjadi penurut, ikut apa saja yang diperintahkan dan telan saja semua yang diajarkan. Kita belum diajarkan untuk berpikir kritis, banyak tanya itu berarti kita ceriwis dan tukang protes. Stempel yang mengerikan ya?

Nah, sekaranglah saatnya untuk MENGAJARKAN ANAK BERPIKIR KRITIS!

Bisa dimulai ketika anak bertanya tentang satu hal, biasakan untuk tidak memberi jawaban langsung. Ajak anak untuk berpikir atau paling tidak tanyakan pendapatnya. Diskusi dan interaksi dua arah dalam mencari jawaban akan melatih anak untuk berpikir dan mengasah logikanya.

Selain itu kita bisa mengajari anak dalam mencari referensi. Tidak perlu menjadi orang tua superhero. Tunjukkan juga kalau kadang ayah atau bunda tidak tahu dan perlu mencari jawabannya di sumber-sumber referensi yang dibutuhkan. Ajak anak dan ajari mereka cara mencari sumber referensi yang terpercaya. Dengan demikian, anak akan terlatih dalam memilah sumber-sumber berita yang jelas.

Kadangkala anak memiliki jawaban atas pertanyaan sesuai range usianya. Mereka menguasai ilmu yang dibacanya berdasarkan pengalaman dan latar belakang ilmu yang masih dimilikinya. Kalau memang kurang tepat, jangan dihakimi. Ajak anak diskusi. Pemahaman anak usia 8 tahun tentu akan berbeda dengan anak usia 15 tahun. Karena itu tidak perlu ditertawakan atau dihakimi.

Dorong anak untuk lebih banyak bertanya juga membantu anak untuk berpikir kritis. Jangan pernah menganggap anak yang banyak bertanya itu ceriwis, lancang, berisik apalagi membuat mereka merasa malu atau tidak nyaman untuk bertanya lagi. Jika anak tak lagi nyaman bertanya ke orang tuanya, maka jangan salahkan jika anak mencari jawaban sendiri di luar, dan mendapat jawaban yang keliru atau menyesatkan. Maka bersyukurlah ketika anak masih nyaman dan suka bertanya kepada orang tuanya. Itu berarti kita punya kesempatan untuk mengajarkan mereka hal yang benar menurut kita.

Dengan mendidik anak berpikir kritis dan terbiasa mencari sumber berita yang valid, harapannya sebaran hoaks-hoaks gak jelas di group whatsapp dan sosial media dapat mulai berkurang di lingkaran pertemanan. Paling tidak mereka tidak akan terseret arus informasi yang makin deras.

Lelah gak sih membaca sebaran-sebaran berita tak jelas yang orang dengan mudah klik share tanpa memperhatikan kebeneran dan keabsahan beritanya. Lalu mereka enak saja bilang “tidak tahu” tapi lebih lelah lagi mereka tidak mau tahu. “Penyakit” seperti itu bisa menimpa siapa saja, baik itu orang dengan pendidikan tinggi hingga mereka yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

So, buruan, selamatkan generasi penerus dengan mengajarkan anak-anak berpikir kritis!

 

Mengasah Empati Dan Daya Pikir Anak Melalui Permainan Di BebeLand

Mengasah Empati Dan Daya Pikir Anak Melalui Permainan Di BebeLand

“Bund, orang-orang itu sudah tahu kalau tiap musim hujan rumah mereka pasti kena banjir, kenapa kok masih suka buang sampah di sungai?” Ujar kunyil suatu hari ketika mereka melewati perkampungan padat penduduk.

Pertanyaan semacam itu sudah sering saya terima dari duo kunyil. Lain waktu dia juga bertanya

“Bund, kemarin si A jatuh di tangga. Sama teman-temanku bukannya ditolongin malah diketawain. Jatuh itukan sakit, kenapa diketawain? Itukan bukan hal yang lucu.”

Dari banyaknya pertanyaan duo kunyil setiap harinya, kadang bermuara pada satu hal. Ternyata mendidik anak itu bukan sekedar memberi makan kenyang dan mengantarkan sekolah setiap hari. Ada tanggung jawab moral yang harus dibawa orang tua sampai akhirat kelak.

Mendidik anak itu juga harus menanamkan empati. Mendidik anak itu juga harus menanamkan kecerdasan logika dan sosial. Nilai bagus di sekolah, belum tentu hasil akhirnya anak juga akan memiliki moral yang bagus. Pendidikan moral inilah yang kadang luput dari banyak orang tua. Hingga mereka baru sadar ketika anaknya mulai dewasa dan bergaul dengan bermacam-macam orang. Ketika si bocah tumbuh menjadi anak yang tidak memiliki karakter dan mudah terseret pergaulan, orang tua hanya bisa menyalahkan keadaan.

Menanamkan Empati Dan Daya Pikir Mulai Dari Mana?

Konon kata ibu psikolog cantik, anak lahir dengan memiliki potensi IQ dan EQ yang dibawanya. IQ adalah kecerdasan Intelektual, sedangkan EQ adalah kecerdasan emosional. Jadi anak-anak lahir sudah diberi paket lengkap sama Gusti Allah. Nah, selanjutnya tergantung kita, orang tuanya, apakah paket lengkap itu mau diaktifkan semua, atau gak dipakai sama sekali.

Sama seperti handphone yang punya banyak fitur, tapi kalau si pemakaianya gagap teknologi ya fitur-fitur yang sudah terinstal gak akan ada gunanya. Smartphone di tangan orang yang gak smart ya sama kayak gawai jadul yang cuma bisa buat telpon sama sms.

Demikian juga anak-anak yang diciptakan sempurna oleh Sang Maha Pencipta. Mereka sudah dibekali oleh rasa ingin belajar, rasa peduli dan kecerdasan berpikir. Tugas orang tua adalah mengasahnya setiap hari untuk mengaktifkan fitur-fitur tersebut. Kalau fiturnya sudah aktif semua bisa dijadikan bekal anak seumur hidup.

Mengasahnya tidak harus melalui nasihat berbusa-busa setiap hari. Mengasah empati, rasa peduli dan kecerdasan berpikir bisa melalui permainan. Nah, dalam rangka membantu orang tua mengasah kecerdasan berpikir dan rasa peduli inilah BEBELAC menghadirkan BEBELAND.

8 Jenis permainan yang ada di Bebeland

Pada tanggal 29-30 September 2019 kemarin Bebelac menghadirkan Bebeland di Tunjungan Plaza. Bekerja sama dengan psikolog cantik, Roslina Verauli, Bebelac mendukung orang tua dalam memberikan stimulasi pada anak untuk mengasah rasa peduli dan cara berpikirnya. Kemampuan dalam berpikir, menggunakan logika disertai dengan rasa peduli akan membantu anak dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi.

Bebeland terbagi dalam 3 zona, yaitu Bebetown, Bebeforest dan Bebesea. Tiap-tiap zona, anak-anak akan diberi misi untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Permainan dalam menyelesaikan masalah tersebut sudah dirancang sedemikian rupa sehingga dapat sekaligus memberikan stimulasi motorik pada anak.

Seperti misalnya di Bebetown anak-anak diminta untuk membantu warga kota yang sedang mengalami masalah mati listrik dan jam kota yang mati. Di 2 permainan “light the city” dan permainan “fix the gears” anak-anak dilatih untuk mencari solusi dan membantu orang lain. Reward yang diperoleh dalam menyelesaikan misi tersebut, selain ucapan terima kasih yang tulus dari mbak-mbak dan mas-mas cakep, anak-anak juga akan mendapat pin yang bisa ditempel di baju seragamnya. Seru ya!

Rasa peduli anak-anak tak hanya dilatih dengan membantu orang lain, tetapi juga membantu menyelamatkan hewan dan lingkungan. Di BebeForest anak-anak diajak mencari solusi ketika ada kucing yang ada di atas rumah pohon dan takut turun. Melalui permainan “rescue the cat” anak-anak juga bisa sekaligus melatih motorik kasarnya dengan naik-turun wahana permainan. Di Bebeforest, selain ada permainan “Rescue the cat”, ada juga permainan “Feed the Animal” dan “Find the way”.

Bebeland juga membawa isu yang sedang hangat tentang laut. Melalui wahana Bebesea anak-anak diajak untuk menyelamatkan karang, menolong penyu dan menolong teman. Melalui permainan “Preserve the Turtle”, “Coral savior”, dan “Helping Friends” anak-anak diajak untuk peduli dan merawat karang dan seluruh penghuni lautnya. Permainan-permainan yang ada di dalamnya pun membuat dua kunyil saya susah beranjak pulang. Mereka asik memperhatikan penyu hasil kreasinya bisa berenang berlenggok-lenggok di layar raksasa.

Demikianlah ibu-ibu, PR kita dalam mendidik anak ternyata masih panjang. Masih banyak value yang harus ditanamkan dan dirawat di diri anak-anak kita. Mempunyai anak ternyata tak cukup hanya dengan memberikan gizi lengkap bagi tubuhnya, kita juga wajib memberikan gizi lengkap bagi otaknya. Terima kasih juga untuk Bebelac yang sudah mau peduli dengan kerempongan orang tua mendidik anak di era serba digital dan modern seperti ini. Kami menunggu inovasi-inovasi seru lainnya. Selamat (terus) belajar!

Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Kehamilan

Memiliki anak yang kritis dan berani bertanya itu memang harus banyak-banyak disyukuri. Meskipun kami sering sekali kena skak mat lewat pertanyaan-pertanyaan dua bocah kunyil. Terkadang pertanyaan mereka di luar dugaan. Tak jarang mereka tidak terima hanya dengan jawaban datar atau menggantung. Kalau diburu rasa penasaran, mereka akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sering bikin kami pijit kening.

Seperti beberapa hari yang lalu duo kunyil pulang sekolah tiba-tiba bertanya “Bunda, kata si C kalau nanti sudah umur 10, kita tidak boleh berteman sama anak laki-laki. Si C bilang kalau kita berteman sama anak laki-laki nanti bisa bikin hamil.”

Sontak saya kaget sekaligus ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Tapi sebisa mungkin saya tahan dan tetap menunjukkan wajah biasa seolah itu adalah pertanyaan yang wajar. Tujuannya agar mereka tidak merasa malu atau takut untuk terus bertanya lagi. Maka pelan-pelan pun saya jelaskan kepada mereka bahwa perempuan bisa hamil itu melalui proses bertemunya sel sperma milik laki-laki dengan sel telur milik perempuan.

Seperti bunga sebelum menjadi buah, maka harus melalui penyerbukan, di mana benang sari bertemu putik yang dibantu oleh angin atau serangga. Sampai di sini duo kunyil paham dengan proses penyerbukan yang harus dilalui sebelum menjadi buah. Kami sudah pernah membahas hal tersebut ketika mereka berusia 6 tahun.

Duo kunyil juga paham kalau laki-laki memilki sel sperma dan perempuan memiliki sel telur. Bunda haid setiap bulan untuk mengeluarkan sel telur yang tidak dibuahi pun mereka juga sudah pernah belajar sebelumnya. Kami mengajarkan tentang hal tersebut ketika mereka bertanya kenapa bunda tidak sholat. Saya jelaskan tentang apa itu haid dan bagaimana siklus haid setiap bulan bisa terjadi pada perempuan.

Ketika menjelaskan proses haid dan memperkenalkan tentang sel sperma dan sel telur, mereka tidak bertanya lebih lanjut. Pada saat itu mungkin pertanyaan mereka sudah cukup terjawab. Namun tanpa diduga, sore itu mereka mengajukan pertanyaan lanjutan yang bikin jantung saya berdebar. Tiba-tiba mereka bertanya “bagaimana sel sperma laki-laki bisa bertemu dengan sel telur perempuan, Bunda? Tidak mungkin dibantu angin atau serangga seperti penyerbukan kan ya? Tidak mungkin juga hanya dengan ngobrol seperti kata si A ya, Bund?”

Dengan beralasan sambil menata baju saya sedikit mengulur waktu untuk mencari kata-kata yang mudah dimengerti anak tanpa harus merusak fitrah belajar mereka. Sungguh itu pertanyaan yang membuat saya berpikir cukup keras dan banyak-banyak berdoa agar apa yang saya sampaikan menjadi hal yang baik.

Maka dengan banyak merapal istighfar saya sampaikan kepada mereka bahwa proses bertemunya sel sperma dan sel telur itu melalui proses yang melibatkan organ tubuh kita. Sama seperti kita ingin berkenalan dengan orang lain maka harus berjabat tangan. Atau ketika kita ingin berdoa dengan menengadahkan tangan. Proses pembuahan pun juga melibatkan anggota tubuh laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut saya sebutkan kepada mereka bahwa proses tersebut hanya boleh dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Kalau kata kebanyakan orang itu bernama “berhubungan b*d*n”.

(maaf di sensor agar tidak kena banned google)

Saya cukup lega ketika mereka tidak mempermasalahkan tentang organ tubuh lebih lanjut. Mereka lantas bertanya kenapa harus menikah? Kurang lebih berikut jawaban yang saya berikan:

Menikah adalah wujud komitmen dua orang dewasa yang ingin membangun rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Pernikahan juga untuk menjaga manusia agar lebih sehat dan fokus. Itu juga yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia dianugerahi akal, pikiran dan hati untuk menjaga keluarganya. Karena itu hanya orang dewasa yang sudah siap berkomitmen yang berani menikah dan membangun keluarga.

Saya jelaskan panjang lebar tentang apa itu komitmen dan tanggung jawab ketika sudah berkeluarga. Tentunya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Perumpamaan pun juga saya pakai yang mudah dilihat anak-anak. Misalkan kalau orang yang sudah siap berkeluarga dan memiliki anak, suatu saat anaknya rewel minta es krim, orang dewasa akan tahu bagaimana caranya mencari uang untuk anak-anak dan istrinya. Tidak mungkin kan anaknya rewel trus ditinggal di pinggir jalan, trus beli anak baru lagi? Mereka pun menanggapinya dengan tawa tergelak-gelak.

Hingga akhirnya bahasan pun beralih tentang pacaran. Kebetulan pula sehari sebelumnya mereka melihat tulisan “Dilarang pacaran di taman” mereka pun lantas bertanya banyak hal tentang pacaran. Namun karena ada tugas domestik memanggil, Insyaallah dilanjutkan di artikel berikutnya. Semoga masih diberi waktu agar saya bisa terus berbagi cerita.

Semoga kita sama-sama menjadi orang tua yang diberi kemampuan menjawab pertanyaan anak-anak tanpa menghilangkan fitrah belajar mereka. Jawaban kita akan diminta pertanggung jawabannya hingga akhirat kelak. Semoga kita sama-sama menjadi orang tua yang bijak dan berpengetahuan luas. Yang jelas, jangan pernah lelah untuk ikut belajar. Selamat (terus) belajar!

Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Tuhan

MENJAWAB PERTANYAAN ANAK TENTANG TUHAN

Sebagai orang tua, kadang kita mendapat pertanyaan-pertanyan ajaib dari anak-anak, termasuk pertanyaan tentang Tuhan. Duo kunyil saya adalah dua mahluk mungil yang kadang membuat saya tiba-tiba blingsatan ketika mendapat pertanyaan yang ajaib. Bekal berupa literasi, banyak baca, banyak sharing dengan teman-teman psikolog menjadi senjata utama saya dalam menghadapi serangan mendadak tersebut.

Namun begitu, sudah semestinya kita bersyukur ketika anak-anak banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan ajaib. Itu berarti logika anak berjalan dengan baik. Pertanyaan aneh bin ajaib kadang tidak pernah terpikirkan oleh otak kita yang sudah banyak terkontaminasi aneka kebutuhan hidup. Namun jika ditelaah lebih dalam, sesungguhnya pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para bocah tersebut adalah pertanyaan hidup yang hakiki.

Menghadapi pertanyaan-pertanyaan itu selalu saya usahakan untuk menjawab sebenar-benarnya dan sejujur-jujurnya. Saya tidang ingin memberikan jawaban bercandaan apalagi jawaban yang salah dan tidak masuk akal. Karena anak-anak sangat serius ketika mengajukan pertanyaan. Jawaban yang kita berikan tersebut akan selalu menjadi pegangan bahkan kunci yang akan mereka bawa hingga besar. Orang tua tentu gak mau kan kalau anak-anak memiliki pemahaman yang salah hanya karena pertanyaannya tidak ditanggapi dengan serius oleh orang tuanya?

Nah, berikut beberapa pertanyaan yang pernah saya dapatkan dari duo kunyil tentang ALLAH, AGAMA dan seputar KETUHANAN lengkap dengan jawaban yang pernah saya berikan.

  1. Bunda, siapakah Allah itu? Kenapa aku harus jadi anak kesayangan Allah?

Ini adalah pertanyaan klasik yang mungkin banyak ditanyakan anak-anak pada usia balita. Jadi menjawabnya juga gak perlu pakai ayat-ayat yang belibet. Gunakan kata-kata sederhana yang biasa dipakai anak-anak dalam obrolan sehari-hari. Berikut kurang lebih jawaban yang saya berikan:

Allah adalah yang menciptakan manusia, kamu, kakak, adik, ayah dan bunda. Allah yang membuat matahari, membuat air, membuat siang dan malam, membuat kucing.

saya mengubah kata “menciptakan” menjadi “membuat” karena saat itu anak-anak bertanya “apa itu menciptakan, Bund?”

Allah itu Maha Kuasa. Kita boleh minta apa saja sama Allah. Nah, kalau kita jadi kesayangannya Allah, kira-kira gimana? Senang gak?

Menghadapi pertanyaan dadakan, terkadang saya memberikan pertanyaan sebagai umpan balik untuk membantu melatih anak menggunakan logika dan pola pikirnya. Metode bertanya balik ini juga biasanya saya gunakan untuk mengulur waktu sambil berpikir dan memancing anak mengeluarkan ide dan pemikirannya. Seru lho, karena terkadang jawaban mereka lucu-lucu dan unik.

         2. Bunda, kenapa mas M tidak sholat, tidak puasa? Kenapa agamanya berbeda?

Pertanyaan ini saya dapat ketika duo kunyil sudah mulai masuk bangku sekolah dan mulai bersosialisasi dengan banyak teman dan kakak kelas. Kebetulan sekolah kami adalah sekolah umum, sehingga ada beberapa murid yang berbeda agama. Berikut jawaban yang kurang lebih saya berikan:

Mas M tidak sholat karena cara ibadahnya berbeda dengan kita. Beragama dan cara beribadah itu sama kayak kita berjalan. Kalau kakak mau ke sekolah apakah jalan yang dilewatin sama teman-temannya semua sama? Ada yang lewat gang 7, ada yang lewat jalan raya, ada yang lewat gang 9, macam-macam. Tapi tujuannya sama, sama-sama menuju sekolah. Begitu juga dengan agama dan cara beribadahnya, berbeda-beda, tapi tujuannya sama, sama-sama ingin disayang Allah, mendapat pahala dan masuk surga.

           3. Bunda, kalau Allah maha Kuasa, kenapa Allah tidak membuat semua orang jadi kaya dan punya uang yang banyak? Kenapa ada yang miskin dan ada anak kecil yang sakit parah?

Pertanyaan ini pernah saya dapatkan ketika si kunyil habis nonton berita yang isinya semacam liputan penggalangan dana. Waktu itu sempat bingung juga mencari kata yang sederhana dan mudah dimengerti itu seperti apa. Jadi saya gunakan jurus bertanya balik lalu berdiskusi.

Kalau bunda kasih kakak permen yang banyaaaak setiap hari kira-kira gimana?

Lalu anak-anak berebut menjawab: enak, tapi bikin gigi cepet rusak. Nanti gigiku sakit, dan sejenisnya.

Nah, seperti itulah Allah mengajarkan kita untuk selalu menjaga tubuh. Kalau gak ada rasa sakit, kita gak akan belajar bagaimana menjaga tubuh, merawat tubuh dan mengenal tubuh kita sendiri. Padahal tubuh kan perlu dirawat dan dijaga.

Dengan cara itu pula Allah mengajarkan kita untuk saling menyayangi dengan sesama, saling membantu teman yang sedang sakit dan belajar menjadi manusia yang bermanfaat.

Sekarang kalau semuanya dikasih uang yang banyak, kira-kira ada yang mau gak bersusah payah bangun pagi cuma untuk bikin tempe? Ada gak yang pagi-pagi jual sayur dan jual tempe?

Kembali anak-anak akan berebut menjawab dengan pertanyaan-pertanyaan yang unik. Anak-anak akan berusaha mengungkapkan argumen dan idenya. Saat itulah kita bisa memberikan apresiasi apapun jawaban anak, agar anak percaya diri memberikan pendapatnya.

Demikian sekelumit yang bisa saya bagi untuk sore ini. Karena adzan maghrib sudah berkumandang, saatnya masuk kandang dulu. Sebenarnya masih buanyak banget pertanyaan-pertanyaan ajaib yang diajukin kunyil dan sempat saya dokumentasikan untuk keperluan pribadi. Insyaallah jika ada kesempatan akan kembali dibagi di sini. Have a great parenting moment!

Berkat #AksiFlashBunda Drama Keluarga Berakhir Dengan Yang Halal


Sore ketika mandi, saya tersentak mendapati ada benjolan di payudara kiri. Hingga beberapa hari saya periksa, benjolan itu masih ada dan makin terasa membesar. Karena penasaran saya pun datang ke dokter umum langganan. Ibu dokter kemudian menyarankan saya untuk datang ke klinik onkologi.

Saat itu saya masih remaja, belum menikah. Cerita tentang tumor dan kanker bukan hal baru. Keluarga saya memiliki gen tumor yang sangat kental. Budhe, tante bahkan ibu saya semua memiliki riwayat pernah memiliki penyakit tumor. Maka ketika dokter onkologi memvonis benjolan itu harus diangkat, saya bisa menanggapinya dengan kalem.

Ternyata yang justru shock adalah Ibu. Beliau tidak menyangka kalau anaknya memiliki penyakit yang sama persis dengan dirinya. Sebenarnya sebelum melakukan operasi pengangkatan benjolan di payudara, saya pernah melakukan beberapa kali operasi kecil. Benjolan di payudara ini bukan benjolan pertama yang saya miliki. Operasi tumor ini adalah operasi ketiga kalinya yang pernah saya jalani.

Sebelumnya saya pernah memiliki benjolan di daun telinga. Saya tidak pernah ingat tepatnya kapan, yang jelas benjolan itu sudah ada sejak saya masih sangat kecil. Benjolan di daun telinga itu tidak besar, tetapi ada lubang sebesar jarum jahit yang selalu mengeluarkan cairan. Ketika benjolan mulai membesar, maka cairan akan keluar dari lubang ketika ditekan. Cairan itu memiliki bau yang anyir dan tidak sedap. Ketika masih kecil saya tak terlalu memperhatikan. Semakin besar, cairan itu terasa semakin mengganggu. Maka ketika SMA saya memutuskan benjolan itu harus diambil.

Itulah operasi kecil pertama yang saya lakukan. Operasi yang dilakukan bersamaan dengan momen Mike Tyson menggigit telinga Evander Holyfield. Tak heran, ketika kembali masuk sekolah, bekas operasi saya menjadi bahan bercanda teman-teman. Lumayanlah menjadi bahan hiburan paska operasi.

Tak Seindah Foto Instagram

Ternyata meski telah beberapa kali menjalani operasi dan berkali-kali merawat luka sendiri, ternyata setelah punya anak, itu beda rasanya. Pantesan ketika aku kalem mau berangkat operasi, tapi justru ibuk yang nangis sesenggukan gak berhenti. Padahal rasanya biasa saja ketika harus berbaring di ruangan dingin dengan cahaya lampu yang menyilaukan. Hanya ada rasa pasrah. Ternyata pas anak jatuh dan ada benjol di dahinya itu gak bisa sekalem itu. Lupakan kata pasrah. Yang tersisa hanya panik.

Percayalah, apa yang nampak indah di foto instagram, dibaliknya terselip jatuh bangunnya perasaan yang tak tergambarkan. Kalau ada foto ibu yang mengobati luka anaknya sambil tersenyum setelah anaknya jatuh itu bohong bangeeeet. Kalaupun ada ibu yang benar seperti itu, sembah sujud untuk beliau yang selalu mampu kalem dan tenang di segala cuaca dan kondisi.

Duo kunyil saya kalau jatuh atau terbentur hebohnya bukan main. Apalagi kalau tahu ada luka atau lebam. Byuuuh… nangisnya bisa didengar orang seluruh RW. Ditambah lagi ada uti akungnya yang gak kalah heboh. Lengkaplah drama di keluarga kami. Percayalah itu bukan hal yang mudah untuk kami lalui.

Kami punya rekor ketika duo kunyil masa-masa lincah ke sana kemari, Kira jatuh dari tempat tidur sebanyak 4 kali. Ajaibnya lagi, waktu jatuh ada saya dan suami yang mendampingi di dua sisi yang berbeda. Itupun ternyata si bocah bisa lolos dan meluncur mulus ke… lantai!

Lebam? Pasti!

Benjol? Iya!

Masih tetep kalem? Enggaklah…

Kami sama-sama panik. Apalagi kepala bocah masih mungil, jadi deg-deg’an. Belum tahu si anak harus diapain, diobatin pakai apa karena anaknya nangis heboh. Lalu tanya kanan kiri, semua teman dan saudara di whatsapp’in. Ternyata bekal pengetahuan tentang pertolongan pertama pada anak jatuh itu penting. Banget!

Coba sini tunjuk tangan ada gak yang anaknya gak pernah jatuh sama sekali? Kalau anak aktif dan bereksplorasi dengan normal pasti pernah jatuh kan? Normal kok. Wajar. Gak usah panik. (Sungguh nasehat yang sia-sia). Karena semua anak pasti pernah jatuh, lantas apakah semua calon orang tua pernah belajar tentang pertolongan pertama pada anak jatuh?

Meskipun sudah sampai 4 kali jatuh dari tempat tidur, kami masih saja merasa panik. Memang kadar paniknya bisa berkurang banyak. Tapi pertanyaan dan rasa khawatir itu masih suka hinggap. Meskipun panik, kami selalu berusaha untuk berpikir rasional. Tidak mudah memang, tapi harus terus diusahakan. Caranya? Ya belajar!

Pertolongan Pertama Pada Anak Jatuh

Biar makin pinter, nih saya bagi hasil belajar sekian lama. Berikut pertolongan pertama yang dapat dilakukan oleh orang tua jika anaknya jatuh.

  1. Periksa apakah anak dalam kondisi sadar atau tidak setelah jatuh. Jika setelah jatuh anak sadar dan menangis, maka orang tua boleh sedikit bernafas lega. Namun jika ternyata setelah jatuh anak tidak sadarkan diri, sebaiknya jangan diubah posisinya dan langsung hubungi gawat darurat. Kecuali jika anak dalam posisi berbahaya, maka boleh dipindahkan.
  2. Periksa apakah ada luka serius atau tidak, seperti patah tulang atau terkilir. Jika ada, segera hubungi petugas kesehatan terdekat.
  3. Periksa apakah ada luka terbuka, lebam atau benjol. Jika ada luka terbuka, bersihkan dan beri obat antibakteri. Jika ada benjol atau lebam, bersihkan dan beri obat antikoagulan yang bisa membantu memecah pembekuan darah. Kalau masih awam tentang obat antikoagulan, nanti kita bahas lagi dibawah ya.
  4. Perhatikan apakah anak muntah atau berkurang kesadarannya setelah jatuh. Jika terjadi muntah atau anak merasa ngantuk berlebihan, segera bawa ke petugas kesehatan.
  5. Tenangkan anak yang sedang menangis. Selain karena rasa sakit, biasanya anak menangis karena kaget dan takut.

Adakah Obat Antikoagulan di Kotak P3K mu?

Obat antikoagulan berfungsi untuk memecah pembekuan darah, seperti lebam atau benjol. Ketika kulit terkena benturan benda tumpul maka pembuluh darah terkecil yang ada di bawah kulit akan pecah. Kalau pembuluh darah terkecil ini pecah, maka darah akan keluar dan mengalir dan menyebar ke jaringan-jaringan di sekitarnya. Itu kenapa setelah terbentur kulit kita memerah tetapi tidak ada darah yang menetes.

Setelah satu atau dua hari, darah yang keluar dan menyebar ke sekitar jaringan itu akan menggumpal dan berubah menjadi warna biru. Hal tersebut menandakan hemoglobin tidak mendapat pasokan oksigen. Itulah yang disebut lebam. Fungsi obat antikoagulan ini membantu mempercepat proses penguraian kembali darah yang menggumpal tersebut. Agar lekas terurai kembali maka antikoagulan akan menghambat protein yang berperan dalam proses pembekuan darah.

Nah kalau lebam sudah mulai berwarna kehijauan dan mulai kecoklatan itu pertanda proses penyembuhan sedang berlangsung. Lantas adakah antikoagulan yang bisa dibeli di apotek terdekat dan aman digunakan? Ada. Namanya Thromboflash.

Thromboflash berisi antikoagulan yang membantu memecah pembekuan darah. Thromboflash mengandung bahan aktif bernama Heparin Sodium 200 IU. Heparin inilah yang bekerja menghambat protein yang berperan membekukan darah. Thromboflash aman karena mudah digunakan. Tidak lengket dan sedikit efek sampingnya.

Cara penggunaanThromboflash:

  • Cuci permukaan kulit yang akan diolesi thromboflash.
  • Oleskan tipis pada permukaan kulit yang lebam. Tak perlu digosok atau dipijit karena Thromboflash mudah meresap.
  • Jangan dioleskan pada luka terbuka.
  • Hentikan pengobatan jika muncul rasa gatal, ruam atau reaksi alergi lainnya.
  • Hati-hati penggunaan obat pada area sensitive seperti mata, mulut dan hidung.
  • Karena obat ini termasuk obat luar, jangan sampai tertelan ya!

Kenapa harus Thromboflash? Bukankah ada obat sejenis yang memiliki manfaat sama? Karena Thromboflash sudah memiliki sertifikasi hallal dari MUI. Pada dasarnya Heparin yang terkandung dalam obat koagulan biasanya terbuat dari mucosa hewan. Kebanyakan terbuat dari mucosa Babi atau Porcine, namun Thromboflash terbuat dari mucosa Sapi atau Bovine. Jadi aman dan nyaman menggunakannya.

Benar-benar Thromboflash menjadi sahabat keluarga ya. Jangan remehkan luka lebam. Meski kalian sudah menjalani banyak operasi, tapi kalo menghadapi anak lebam masih takut, berarti wajib sedia Thromboflash di rumah. Di rumah kami, berkat Thromobflash yang memberikan aksi perlindungan yang flash, drama keluarga berakhir dengan yang halal. Sudah terbukti kan kalau Thromboflash gak tanggung-tanggung melindungi konsumen.Gimana, sudah adakah Thromboflash di kotak P3K mu?

Pentingnya Sinergi Akal, Fisik dan Sosial dalam Tumbuh Kembang Anak

Suatu hari salah satu bocah saya pulang sekolah dengan berurai air mata. Setelah berganti baju dan sedikit tenang, ia bercerita. Rupanya di sekolah, pada saat jam olah raga, dia mengalami perundungan. Ia dijauhi teman-temannya. Ketika pembagian kelompok untuk pelajaran olah raga, tidak ada satu pun yang mau satu kelompok dengannya.

Si bocah ditolak di manapun. Mereka tidak mau satu kelompok karena menganggap si bocah terlalu lamban untuk pelajaran olah raga. Mereka tidak mau berisiko kalah jika memasukkan si bocah ke dalam kelompoknya. Tak heran jika ia menjadi sedih dan hatinya luka.

Tidak mudah memang, bocah saya lahir dalam kondisi prematur. Usia 5 bulan ia baru bisa mengangkat leher. Usia 7 bulan ia baru bisa duduk. Namun ia bisa mengejar ketertinggalan pertumbuhan fisik dan motorik kasarnya ketika usia 13 bulan. Ia mulai berani melangkahkan kakinya dan belajar jalan.

Namun begitu, pertumbuhan berat badannya yang lambat, terkadang menjadi kendala ketika berurusan dengan stimulasi fisik dan motorik kasar. Badannya terbilang mungil. Ketika teman-teman seusianya sudah bisa mengayuh sepeda roda 2, ia masih berkutat menguatkan otot kakinya berlatih sepeda roda 4.

Berbeda dengan saudara kembarnya yang memiliki berat badan dan pertumbuhan fisik yang jauh lebih stabil. Saudara kembarnya bisa dengan mudah mengejar ketertinggalannya dan tumbuh dengan penuh percaya diri. Maka dari sinilah perjuangan dimulai dan terus berjalan hingga kini.

Fase Tumbuh Kembang Anak

Di setiap usianya, anak-anak memiliki fase tumbuh kembang yang berbeda-beda. Maka sifat alamiah yang berkembang pada anak-anak juga berbeda. Untuk anak usia 0-1 tahun, Fase yang berkembang adalah indera penglihatan, pendengaran dan peraba. Umumnya anak usia ini memiliki sifat “I am what I am given”. Aku adalah apa yang diberikan kepadaku. Anak usia 0-1 tahun jika banyak diberikan senyum, maka ia akan mudah dan cepat belajar tersenyum. Dia akan belajar sesuai dengan apa yang ia lihat.

Fase anak usia 1-3 tahun dan anak usia 3-6 tahun umumnya memiliki fase tumbuh kembang yang kurang lebih sama. Mereka akan bereksplorasi untuk merangsang pertumbuhan motorik kasarnya, motorik halus, kemampuan bicara bahasa dan personal sosial. Meski fase perkembangannya serupa, namun sifat yang dimiliki berbeda.

Anak usia 1-3 tahun memiliki sifat “I am what I will”, atau aku adalah apa yang aku inginkan. Apapun yang diinginkan, mereka akan melakukannya pantang menyerah. Mereka ingin jalan, meski harus jatuh bangun seribu kali, maka akan terus dilakukannya tanpa mengenal istilah “kapok”. Demikian juga ketika mereka ingin naik turun tangga. Meski yang lihat sudah capek, tapi si bocah tetap saja naik turun tanpa mengenal lelah.

Anak usia 3-6 tahun memiliki sifat “I am what I can imagine”. Anak usia ini akan berkembang mengikuti daya imaginasinya. Jika banyak meihat film atau bermain dengan unsur kekerasan, maka jangan heran kalau ia lebih pandai memukul dari pada menolong temannya. Demikian juga sebaliknya, ketika ia bermain pura-pura dengan banyak unsur kebaikan, maka bisa jadi ia tumbuh menjadi anak yang berbudi pekerti.

Sedangkan untuk anak usia 6-12 tahun, ia memiliki sifat “I am what I can learn”, aku adalah apa yang yang pelajari. Anak di usia ini adalah anak-anak yang akan berkembang perilaku dan kecerdasannya. Yang mereka butuhkan adalah tumbuh dengan perilaku baik dan cerdas. Agar ia tumbuh dengan perilaku baik dan cerdas, maka ia harus menuntaskan tumbuh kembang pada fase sebelumnya dengan optimal dan seimbang.

Keseimbangan Tumbuh Kembang Akal, Fisik dan Sosial

Apa yang terjadi pada bocah kunyil saya, salah satu penyebabnya adalah adanya ketidak seimbangan pertumbuhan fisiknya dengan akal dan sosialnya. Pertumbuhan fisik yang sedikit terlambat membuatnya tumbuh menjadi kurang percaya diri. Rasa kurang percaya diri itulah yang menyebabkan ia tidak dapat bersosialisasi dengan optimal. Akibatnya, ia menjadi sasaran empuk perundungan.

Tidak mudah memang, karena tumbuh kembang setiap anak memiliki tantangan yang berbeda-beda. Namun begitu sudah menjadi tugas orang tua untuk terus memantau dan memberikan stimulasi pada buah hatinya agar tumbuh kembang akal, fisik dan sosialnya bisa seimbang dan bersinergi dengan baik. Stimulasi yang dimaksud adalah kegiatan INTERAKTIF antara orang tua dengan anak agar anak mendapat pengalaman belajar untuk menguasai kemampuan tertentu.

Menurut Dr. dr. Ahmad Suryawan, SpA(K), narasumber dalam acara Parenting Club yang diadakan bersama Clozette, agar tumbuh kembang akal, fisik dan sosial anak dapat bersinergi dengan baik, orang tua harus melakukan pemantauan. Pemantauan sinergi akal, fisik dan sosial harus:

  • Rutin, untuk mengetahui perubahan kemampuan anak di setiap tahap usia.
  • Sejak Dini, karena kepintaran anak di usia awal akan membentuk kepintaran di usia selanjutnya.
  • Reguler atau kontinyu. Untuk anak usia 0-1 tahun regular setiap bulan. Berjenjang, anak usia 1-3 tahun bisa dilakukan setiap 3 bulan sekali dan anak usia 3-6 tahun cukup dilakukan 6 bulan sekali.
  • Dialami sehari-hari, tidak boleh memaksa dan harus dilakukan saat interaksi dengan anak. Pemantauan berjalan dengan alami dan mengalir.
  • Terdokumentasi agar tercatat rutin. Bisa dalam bentuk KIA, KMS atau catatan kesehatan anak.

Tujuan pemantauan tersebut agar orang tua tahu strategi stimulasi apa yang harus dilakukan agar tumbuh kembangnya makin optimal. Apabila terjadi sesuatu dan memerlukan konsultasi ahli, dokter atau tenaga ahli akan lebih mudah memberikan diagnosa dan solusinya. Apabila anak memiliki sinergi akal, fisik dan sosialnya baik maka anak dapat tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berperilaku baik.

KALKULATOR AFS

Memantau tumbuh kembang akal, fisik dan sosial anak ternyata bisa dilakukan dengan cara sederhana oleh orang tua sendiri. Dalam acara parenting club kemarin, kami diperkenalkan dengan KALKULATOR AFS, yaitu aplikasi yang dikreasi dan diverifikasi oleh Dr. Ahmad Suryawan, dr., SpA(K), Dokter Spesialis Anak-Konsultan tumbuh kembang pediatri sosial untuk membantu orang tua menilai tingkat sinergi akal, fisik dan sosial anak, usia 6 bulan hingga 7 tahun.

Cara menggunakannya pun cukup mudah. Orang tua cukup menjawab pertanyaan-pertanyaan yang direkomendasikan sesuai dengan jenjang umur anak. Dalam menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan kepekaan dari orang tua atau pengasuh dalam melihat dan mengamati tumbuh kembang si kecil.

Selesai semua pertanyaan terjawab orang tua dapat mengetahui hasil dari pemantauan sinergi akal, fisik dan sosial anak.

Ada juga rekomendasi stimulasi s yang dapat dilakukan secara rutin bersama si kecil. Stimulasi tersebut dapat dilakukan secara bertahap sesuai usia dan kemampuan si kecil.

Nah, kalau sudah ada tolok ukur untuk mengetahui sinergi perkembangan kecerdasan si kecil, orang tua jadi tahu kan apa yang harus dilakukan untuk stimulasi lanjutannya. Dengan adanya kalkulator AFS tersebut, bukan berarti lantas orang tua jadi absen, tidak ikut posyandu lagi yaa… Untuk Balita wajib tetap harus ke Posyandu untuk mengetahui tumbuh kembang si kecil di bawah pengawasan ahli. Jadi mam, makin mudah, semoga bisa bikin makin tenang yes? Semangat belajar terus bareng si kecil yaaa…!

Terima kasih Parentingclub.co.id dan Clozette untuk acara yang berfaedah dan menyenangkan. Acara yang membahas tumbuh kembang kemarin ditutup dengan belajar membuat socks doll. Senangnya bisa mendapat kesempatan untuk melakukan #KalkukulatorAFSReview yang spesial. Sungguh sangat bermanfaat.

Ketika Anakku Menjadi Korban Perundungan

Sudah beberapa hari salah satu bocah kunyilku pulang dengan wajah sendu. Bocahku yang satu ini memang lumayan spesial. Dia seperti mewarisi masa kecilku. Berbadan mungil, sifat introvert, tidak mudah bergaul dengan kecerdasan motorik yang pas-pasan. Maka bisa ditebak, ia ia menjadi sasaran empuk pelaku perundungan.

Ceritanya setiap jam pelajaran olah raga, ia selalu mendapat perlakuan yang semena-mena dari temannya. Didorong kesana kemari, dijauhi, diledek dan ditertawakan setiap melakukan gerakan. Sedih pasti ya… Karena saya tahu persis seperti apa rasanya.

Sebagai ibu, rasanya tentu pengen lompat saat itu juga ke sekolah demi melindungi si bocah mungil. Tapi tentu itu tak menyelesaikan masalah. Si bocah harus bisa menyelesaikan masalahnya. Si bocah harus tumbuh jauh lebih kuat.

Biasanya apa sih yang membuat seorang anak menjadi pelaku perundungan? Dari beberapa tulisan yang pernah saya baca pelaku perundungan biasanya melakukan untuk menarik perhatian teman atau guru. Ada juga pelaku perundungan yang merasa penting dan memegang kuasa sehingga cenderung mencari pengaruh dengan memegang kendali teman-temannya yang lebih inferior.

Selain itu anak-anak yang melakukan perundungan ada juga yang melakukannya karena pengaruh dari lingkungan sekitar atau dari TV. Bahkan beberapa pelaku perundungan melakukannya sebagai cara untuk mencari teman atau mencari pengakuan dari lingkungannya.

Biasanya mereka tidak banyak yang menyadari efek yang diterima oleh si korban. Korban bukan hanya mengalami rasa takut, tetapi juga rasa percaya dirinya akan terampas. Bahkan beberapa anak korban perundungan mengalami trauma emosional yang berkepanjangan. Pekerjaan panjang untuk orang tua, baik orang tua korban perundungan maupun pelaku.

Anak-anak yang mengalami perundungan biasanya menunjukkan beberapa perilaku yang tidak seperti kesehariannya. Saya masih beruntung, bocah kunyil saya masih sering curhat dan cerita tentang apa apa saja. Namun beberapa anak tidak bisa cerita ke orang tuanya. Namun bisa dilihat dari beberapa tanda di bawah ini:

  • Suli tidur. Anak yang menjadi korban perundungan dan mengalami trauma berat biasanya susah tidur atau sering mengalami mimpi buruk ketika tidur.
  • Sulit fokus di sekolah. Anak lebih mudah melamun dan susah menaruh perhatian.
  • Beberapa anak mencari banyak alasan agar bisa bolos atau menghindar bertemu pelaku perundungan.
  • Anak-anak yang biasanya suka melakukan sesuatu, jadi menjauhkan diri dari kegiatan favoritenya.
  • Anak tampak gelisah, lesu dan mudah putus asa.

Nah, kalau si bocah punya tanda-tanda di atas dan mengaku mengalami perundungan, apa sih yang harus dilakukan orang tua? Orang tua harus tetap tenang. Selow aja, buibu. Marah dan teriak-teriak di sekolah tidak akan menyelesaikan masalah kok. Bahkan mungkin bisa jadi malah merusak nama baik kita sendiri.

Berikut beberapa hal yang mungkin bisa dilakukan orang tua ketika tahu anaknya mengalami perundungan:

  1. Mencari bantuan di sekolah. Jika anak-anak mengalami perundungan, ada baiknya orang tua berkonsultasi dengan pihak sekolah dan meminta memediasi anak-anak yang sedang bermasalah dengan temannya.
  2. Beberapa orang tua ada yang langsung berbicara dan menjadi mediator bagi anaknya dengan si pelaku perundungan. Namun perlu diingat, sebagai mediator harus berlaku seadil mungkin.
  3. Gali potensi anak untuk meningkatkan rasa percaya dirinya. Karena rasa percaya diri akan membuat anak menjadi lebih tangguh ketika mendapat perundungan.
  4. Bicara tentang pengalaman sendiri. Sebagai orang yang dulu juga sering menjadi korban perundungan, maka berbagi cerita kepada anak bisa menjadi motivasi si anak untuk lebih berani dalam mempertahankan dirinya.
  5. Bentuk persahabatan di luar sekolah. Dengan memiliki teman di luar lingkungan sekolah, anak akan merasa dirinya bisa diterima. Dengan lingkungan pergaulan yang lebih luas, anak juga akan lebih cerdas dalam bersosialisasi dan belajar mengatasi masalah di dalamnya.
  6. Terus pantau keadaan si anak dan caranya berinteraksi denga si pelaku.

Demikian buibu, menjadi tetap tenang, selow dan berfikir menggunakan kepala dan hati yang adem itu penting. Karena tindakan emosional tidak akan menyelesaikan masalah. Ketahuilah bahwa sesungguhnya dalam membentuk lingkungan yang kondusif untuk anak-anak kita itu dibutuhkan peran serta kita juga. Jika ada sesuatu yang kurang nyaman, maka kita juga harus bisa membantu mengajari dan menjadi orang tua serta guru bagi semua teman-teman anak-anak kita.

It takes a village to raise a child

Dibutuhkan orang banyak untuk membesarkan seorang anak. Ya kali, kita manusia sudah fitrahnya sebagai mahluk sosial. Kita tidak bisa hidup sendiri. Apa yang kita lakukan, apa yang kita inginkan akan selalu berpengaruh pada orang lain. Demikian juga dalam mendidik anak, akan selalu ada pengaruh dari lingkungan. Karena itu mari ikut turun tangan membentuk lingkungan yang kondusif bagi anak-anak kita tumbuh. Sudah saatnya kita bangkit dan turun tangan!

Serunya Menghabiskan Akhir Pekan Di Funtopia Balloon Park


Setelah 12.345 kali pertanyaan tentang “Kapan aku bisa main ke Funtopia?” akhirnya hari sabtu kemarin tibalah hari yang ditunggu-tunggu. Kami terbebas dari serbuan pertanyaan tentang Funtopia tetapi harus dibayar dengan badan yang remuk redam karena lelah dan hati yang bahagia.

Bermain di Funtopia adalah momen yang sangat dinanti oleh Kira dan Kara. Bagaimana tidak. Tiba-tiba Kira dan Kara tanpa sengaja melihat saya sedang mengintip instagram Funtopia Balloon Park dan bertanya, apa itu, di mana, di Surabaya ada gak, dan segala macam kalimat yang penuh rasa ingin tahu.

Maka tak heran ketika Sabtu kemarin kami akhirnya datang ke Funtopia Balloon Park ternyata anak-anak melesat tak terkendali penuh dengan rasa bahagia.Bermain dan berlompatan dari satu wahana ke wahana yang lain. Seolah tak pernah kehabisan baterai, mereka lupa makan, lupa jajan, bahkan lupa gadget.

Padahal biasanya hari sabtu dan minggu adalah hari screen-time Kira dan Kara. Duo kunyil itu hanya diperbolehkan bermain gawainya hanya pada akhir pekan. Anehnya ketika sibuk bermain di Funtopia mereka sama sekali tidak menagih bermain gawai. Bahkan ketika kami sampai di rumah pun, mereka mendadak menjadi anak yang super sweet, yang langsung cuci kaki dan tangan, gosok gigi, ganti baju lalu beranjak tidur tanpa harus duel mulut dengan bundanya.

Ada keajaiban apa di Funtopia hingga duo kunyil begitu manis dan menyenangkan?

Funtopia Balloon Park adalah wahana bermain balon-balon raksasa dengan aneka macam bentuk dan tema. Funtopia Balloon Park sebelumnya sudah ada di Jakarta dan Bandung. Sekarang saatnya nih Surabaya beruntung bisa ikut menikmati wahana-wahana balon raksasanya. Berkat TRAVELOKA dan Beyond Screen Production lah hingga Funtopia Balloon Park bisa hadir di Surabaya.

Bermain di Funtopia menyenangkan karena anak-anak bebas bermain, melompat, memanjat, dan berseluncur tanpa rasa was-was. Permainan ini juga bikin anak-anak lupa waktu, lupa makan bahkan lupa gawainya. Karena ada 8 balon raksasa yang akan menemani anak-anak bermain.

  • Mistery Maze

  • Traveloka Track
  • Old Octopus

  • Crown Castle
  • Candy Cane

  • Bunny Boo
  • Catterpilar Cave

  • Mighty Mushroom

 

Nah, ada yang anaknya susah pisah dengan gawainya kah? Coba diajakin main ke Funtopia deh. Tapi jangan dibiarkan main sendiri, sementara orang tuanya sibuk selfie. Orang tuanya juga ikutan lompat-lompatan dan menyusuri labirin balon raksasa bersama anak-anak. Jadi anak merasa ada teman bermain yang seru juga. Iya dong, kalau mau anaknya pisah sama gawainya, orang tuanya juga musti siap pisah sama gawainya juga.

Balon raksasa ini bukan hanya bisa dinikmati oleh anak-anak, tetapi juga orang dewasa. Jangan takut, karena wahana ini sudah dirancang sedemikan rupa dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan kekuatan sehingga aman juga untuk orang dewasa.

Kira dan Kara bermain di Funtopia mulai dari pukul 3 sore dan baru beranjak pulang jam 8 malam. Ternyata tak terasa 5 jam mereka asik bermain melompat, berlari, memanjat dan menyusuri terowongan maupun labirin berkali-kali, berulang-ulang. Kalau lelah bisa juga istirahat di semacam gazebo yang sudah ada penjual makanan dan minuman yang siap menghilangkan dahaga dan lapar. Mulai dari nasi goreng, mie pangsit, hingga waffle aneka rasa tersedia. Minuman mulai dari es teh sampai jus juga lengkap. Tak perlu takut kelaparan.

Berhubung wahana bermain Funtopia merupakan balon raksasa yang berisi udara, maka anak-anak seperti berada di atas trampoline raksasa dengan aneka bentuk dan permainan di dalamnya. Anak-anak bisa bermain perosotan, mandi balok yang terbuat dari gabus, atau meniti labirin, menyusuri terowongan maupun memanjat jamur raksasa. Permainan ini akan mengasah motorik kasar anak.

 

Anak yang motorik kasarnya terstimulasi dengan baik akan membawa banyak manfaat. Berikut beberapa manfaat menstimulasi motorik kasar anak:

  • Anak dapat melatih pernafasan dan menjaga kesehatan jantung. Seperti layaknya berolahraga, anak-anak yang berlari, melompat di atas balon raksasa ini akan dapat melatih kesehatan jantung dan pernafasan.
  • Melancarkan sirkulasi darah. Anak yang aktif bergerak akan jarang mengeluh badannya lelah. Biasanya mereka akan jauh lebih lincah dan seolah punya cadangan energi yang tak ada habisnya. Hal tersebut dikarenakan aliran sirkulasi darah yang lancar, sehingga tubuh pun tidak mudah sakit.
  • Membentuk postur tubuh yang lebih baik. Anak yang rajin olah raga dan aktif bergerak akan memiliki postur tubuh yang lebih tegap dan lebih baik. Tulang-tulangnya lebih banyak terlatih sehingga kesehatan tulang lebih terjaga. Pertumbuhannya pun jadi lebih maksimal.
  • Anak yang terstimulasi motorik kasarnya dengan baik akan memiliki kemampuan koordinasi tubuh yang lebih baik juga. Jika koordinasi tubuhnya baik, maka keseimbangan dan refleksnya pun juga lebih baik. Karena itu penting mengajak anak aktif bergerak.
  • Anak-anak yang memiliki koordinasi tubuh yang baik dan memiliki kemampuan motorik kasar yang lebih baik, akan membuat mereka jauh lebih percaya diri. Tentu saja menjadi bagus untuk membangun kecerdasan sosial anak.

Setelah tahu manfaat bermain dan aktif bergerak itu banyak sekali, tak perlu takut dong ya kalau anak-anak banyak berkeringat di luar. Karena itu yuk, mumpung masih ada sarana bergerak aktif yang menyenangkan bagi anak dan orang tua, saatnya mampir ke Funtopia Balloon Park.

Kalau mau lebih murah, tiket masuk bisa dibeli di www.traveloka.com. Kalau gak keburu bisa juga beli di tempat acara, tapi gak ada harga diskon. Yang perlu dipersiapkan untuk mengajak anak bermain di Funtopia Balloon Park diantaranya:

  • Kaos kaki (wajib ya, buibu…)
  • Pakai baju yang nyaman, mudah menyerap keringat dan memudahkan anak bergerak bebas.
  • Baju ganti. Surabaya panas dan mudah sekali berkeringat, jadi siapkan baju ganti untuk anak-anak.
  • Payung/topi. Again, Surabaya lagi super panas. Kalau main sore atau pagi, ada baiknya siapin payung/topi untuk menemani anak-anak bermain.
  • Sunblock. kalau main di pagi atau sore hari, wajib ya… maklum Surabaya mataharinya ada 5.

Biar makin yakin, boleh lho simak keseruan Kira dan Kara bermain di Funtopia di video youtube di bawah. Lalu kisah petualangan kami hari itu berakhir dengan dua anak yang gak mau pulang. Sementara kami tarik nafas dulu, silahkan lho kalau mau langsung pesen tiketnya. Enjoy your time!

 

Kira dan Mobil Hotwheels : Tentang Pelajaran Pantang Menyerah

 

Sudah lama Kira menginginkan mobil Hotwheels. Mobil-mobilan yang bagi kami terbilang mahal untuk ukuran mainan. Mengingat kualitas mainannya memang bagus, maka layak juga harganya sedikit mahal. Iyalah, untuk saya yang terbiasa membeli mainan 5000an, kalau harus membelikan mainan 30.000 ya lumayan juga. Apalagi kalau si bocah maunya koleksi. Bisa bikin mules kantong bundanya.

Nah, untuk mengakomodir keinginan tersebut, saya meminta Kira mengumpulkan uang sakunya. Setiap hari senin dan selasa, Kira mendapat jatah uang saku 2000. Jatah uang sakunya memang hanya seminggu dua kali, sesuai tingkat sekolahnya. Nanti naik ke kelas tiga, berhak menerima uang saku seminggu 3 kali, dan seterusnya.

Untuk mengumpulkan uang 30.000 itu berarti harus sabar menanti hingga 7 minggu, atau sekitar 2 bulan. Itupun jika dia tidak tergoda membeli jajanan di sekolahnya. You  may call me, emak kejam. Tapi begitulah buat saya proses yang harus dilewati.

Pada perjalanan waktu, ternyata ada kejadian yang membuat saya takjub. Ketika uangnya sudah terkumpul 12.000 ia melihat akung mau ke rumah sakit tanpa memakai sandal di kursi rodanya. Ketika Kira bertanya, Saat itu akung menjawab kalau sandalnya rusak. Tanpa diduga, Kira dan Kara memberikan semua hasil mengumpulkan uang sakunya untuk membeli sandalnya akung. Kata mereka, kasihan akung kan sudah tidak bekerja, tidak punya uang saku, jadi tidak punya uang.

Mendengar itu, ayahnya yang sudah lama gatel membelikan hotwheels dan barbie, pulang kantor langsung bawa hotwheels. Runtuh juga pertahanannya mendengar cerita anak-anaknya. Apa yang kami lakukan bukan sekedar tentang seberapa mahal harga mainan, tetapi tentang melatih bocah dalam meraih apa yang mereka inginkan.

Kira dan Kara tumbuh di lingkungan yang bagi kami sangat kondusif. Jika meminta sesuatu, dan mereka tahu ayah atau bundanya tak mampu, maka ada uti, akung atau om/tantenya yang siap membantu. Untuk itulah, terkadang fight spirit yang mereka miliki kurang terasah. Maka dari itu tega tak tega, suka tak suka, kami memanfaatkan momen hotwheels tersebut untuk merangsang fight spirit mereka.

Ternyata dari perjalanan mengumpulkan uang tersebut, kami belajar banyak hal. Bahwa menahan diri itu bukan hanya hal yang harus dipelajari anak-anak, tetapi juga orang tua. Di saat kami ada rezeki yang dapat kami belikan mainan apapun untuk Kira dan Kara, rasanya saat itu juga ingin melompat ke mall untuk membawa pulang bingkisan. Namun kini kami belajar untuk menahan diri. Bukan karena kami tidak sayang, tapi kami ingin membuat tantangan-tantangan yang dapat di lalui duo kunyil demi melatih kemampuannya berjuang mendapatkan sesuatu.

Seperti kita tahu terkadang kondisi di dunia bisa saja tidak seideal yang kita inginkan. Tentu kita tidak ingin bocah tiba-tiba menghadapi masalah lantas menyerah. No. Jangan sampai!

I won’t give up, no I won’t give in
Til I reach the end and then I’ll start again
No I won’t leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

Seperti lagu soundtrack Zootopia yang sering kami nyanyikan sama-sama, kami ingin Kira dan Kara pun tidak lelah untuk selalu berdiri lagi ketika jatuh.

Buibu pasti ngeri kan kalau dengar anak-anak masih usia belasan tahun sudah bunuh diri. Dengan tipikal bocah yang kadang penuh drama, maka mumpung masih ada di tangan kami, maka kami ciptakanlah tantangan-tantangan yang ketika melihat mereka jatuh kami masih mampu untuk memberikan semangat dan dorongan untuk berdiri lagi. Harapannya tentu suatu saat ketika kami sudah tak lagi mampu mendampingi, mereka telah memiliki bekal untuk tak pernah menyerah.

Nah, berikut hasil rangkuman perjalanan hati bersama Kira, Kara dan tantangan HOTWHEELS beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa hal yang kami lakukan untuk membentuk anak memiliki semangat pantang menyerah:

  • Memberikan tantangan-tantangan kecil sesuai usia dan kemampuannya. Tantangan ini akan meningkat seiring usianya bertambah. Tantangan yang diciptakan orang tua tentu akan berada dalam ambang batas pengawasan orang tua yang risikonya dapat ditoleransi. Sehingga ketika mereka jatuh orang tua dapat memberikan semangat dan motifasi untuk mereka berdiri lagi.

 

  • Mengupas setiap masalah yang mereka temui dan mereka alami bersama orang-orang sekitarnya di luar lingkungan keluarga. Terkadang mereka bermasalah dengan teman, guru, atau orang lain yang mereka temui yang bukan dari keluarganya. Saatnya orang tua menahan diri untuk ikut campur, dan memberikan kesempatan untuk mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika ingin memberikan bantuan, berikan masukan atau saran yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun tetap biarkan anak-anak menghadapinya dengan kemampuannya. Terkadang mereka memiliki daya improvisasi yang tidak kita duga dalam menyelesaikan masalahnya.

 

  • Ketika anak-anak pulang menangis, mengeluh, jangan lantas memarahi atau memberikan stempel “penakut, cemen, lemah” atau semacamnya. Ketika mengalami saat jatuh, wajar kok dilampiaskan dengan rasa sedih, marah, menangis atau teriak. Bagi kami yang penting setelah itu anak-anak dapat kembali tegak berdiri dan siap menghadapi masalahnya lagi. Memang dibutuhkan kekuatan hati seluas samudra. Tapi bukankah di saat seperti ini lah kita pun juga tengah belajar meluaskan hati. Biarkan mereka menumpahkan isi hatinya, setelah itu beri motivasi untuk berdiri lagi.

 

  • Beri mereka pengertian bahwa kadang apa yang kita inginkan tidak bisa semua kita dapatkan. Bahkan ada beberapa keinginan yang harus didapatkan dengan bekerja keras dan perjuangan. Beri contoh perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan orang tua atau nenek/kakeknya dalam mendapatkan sesuatu. Bisa jadi cerita dan kisah nyata menjadi motivasi yang akan selalu mereka ingat.

 

  • Tak lupa landasi anak-anak dengan iman yang kuat. Ajarkan tentang doa dan kisah agama yang bisa menjaga kekuatan hati anak-anak. Bagaimanapun juga Tuhan lah tempat berlindung dan meminta yang paling bisa diandalkan di saat terjatuh. Bukankah Tuhan yang Maha Kuat?

Bagaimana dengan buibu? Adakah pengalaman memberikan tantangan pada anak-anak dan mendapat suatu pelajaran bersama mereka? Kalau ada yang punya tips dan ilmu serupa, dengan senang hati bisa dibagi di kolom komentar. Siapa tahu ilmunya bisa menjadi bekal jariyah yang bisa terus dibaca bahkan di saat kita sudah tiada. Selamat berbagi!

Ajak Anak Bermain di Wahana Balon Raksasa Ala Funtopia

AJAK ANAK BERMAIN DI WAHANA BALON RAKSASA ALA FUNTOPIA – Beberapa waktu lalu, Kira dan Kara mengeluh jenuh. Segala macam buku dibongkar dan dibolak-balik. Seperti layaknya anak yang sedang bosan, mereka hanya melihat sekilas buku-buku yang berserakan, tanpa dibaca. Melihat gelagat yang tidak sehat, saya pun meminta ayahnya untuk mengajak mereka bermain di luar rumah.

Biasanya kita selalu menyempatkan untuk bermain di taman atau area outdoor hanya untuk menyalurkan energi para bocah yang kadang berlebih. Berhubung beberapa minggu ini kita sedang sama-sama ribet dengan project kerjaan, akibatnya anak-anak lebih banyak hanya berdiam diri di dalam rumah dan menghabiskan waktu bersama mainannya.

Setelah sejenak mereka diajak berkeliling naik sepeda, moodnya kembali membaik. Sebenarnya intinya para bocah itu terkadang hanya butuh menghabiskan energinya. Masalahnya kadang orang tua kurang perhatian dan terlalu sibuk dengan urusannya sendiri. Lego, buku, puzzle, dan permainan lain memang bagus untuk anak-anak. Namun tidak bisa dipungkiri juga kalau ada kalanya para bocah butuh lompat-lompat, panjat-panjat atau bebas berlarian.
Anak-anak yang tidak leluasa menggunakan energinya untuk kegiatan yang aktif dan positif, akan mudah lesu dan merasa bosan. Ujung-ujungnya main gadget lagi-gadget lagi. Seperti kata penjelasan Mia Lukmanto, CEO dan Founder Beyond Screen Production, ”Saat ini, tren penggunaan gadget sudah tidak memandang usia dan anak usia prasekolah sudah paham teknologi. Artinya, kreativitas para orangtua dalam menyediakan kegiatan pengganti screen time anak sangat dibutuhkan, karena aktivitas fisik sangat berperan dalam menstimulasi kecerdasan anak. Otak dan daya tahan tubuh saling bergantung dan bekerja timbal balik, sehingga pemberian stimulasi menjadi sama pentingnya dengan pemberian nutrisi”.

Lebih Christian Suwarna, Senior Vice President Business Development Traveloka menjelaskan,

“Arena permainan outdoor dengan ragam hiburan yang bisa dinikmati seluruh keluarga sepanjang hari merupakan sebuah konsep yang langka untuk kehidupan perkotaan saat ini.”

Bener banget yaa… gak heran kalau anak-anak jadi lebih mudah bosan kalau orang tuanya tidak ikut turun tangan untuk memberikan stimulasi dan mengarahkan energinya untuk kegiatan yang aktif dan positif.

Pada tahu gak kalau rasa bosan inilah yang biasanya memicu anak melakukan tindakan-tindakan negatif untuk mencari tantangan dan menggunakan energinya. Itu kenapa, penting buat orang tua memiliki jeda sejenak ketika anak sudah mengeluh dan nampak jenuh. Karena itu Traveloka bersama Beyond Screen Production berkomitmen membawa ragam alternatif hiburan yang menyenangkan untuk anak, yang sekaligus bisa menjadi sarana stimulasi untuk mengasah hobi, keterampilan dan kreativitas mereka. Hingga dalam waktu dekat hadirlah FUNTOPIA BALLOON PARK di Surabaya. Hoorreee…

APA ITU FUNTOPIA, KAPAN DAN DIMANA? Nah kalau ada yang sedang mati ide melakukan kegiatan luar rumah, boleh dicoba nih untuk datang ke FUNTOPIA Balloon Park. Funtopia Balloon Park adalah arena bermain yang berisi wahana balon-balon raksasa yang bisa digunakan untuk bermain, melompat, memanjat, berlari dengan aman untuk anak-anak.

Pas banget kaaan… Kebetulan kami sedang sama-sama bosan naik sepeda mulu tiap sore, jadi akhir pekan nanti kita putuskan untuk bersenang-senang melepaskan adrenalin di Funtopia Balloon Park. Kalau biasanya susah sekali mengajak ayah untuk keluar rumah, kali ini kita sukses iming-iming si Bapak untuk ikut bermain di wahana balon raksasa ini.

Funtopia Balloon Park ini sudah dirancang sedemikian rupa dengan mempertimbangkan kekuatan dan keamanan sehingga bisa digunakan untuk bukan hanya anak-anak tetapi juga remaja dan orang dewasa. Seperti misalnya arena MISTERY MAZE adalah salah satu wahana yang paling tinggi mencapai 13 meter atau setara gedung lantai 3 yang bisa digunakan orang tua untuk menemani anak-anaknya bermain mengelilingi labirin balon raksasa tersebut. Seru kan? Seru dong pasti!

Selain Mistery Maze ada apa lagi? Banyaaak kak. Berikut beberapa diantaranya:

  • Traveloka Track, merupakan perosotan raksasa
  • Candy cane adalah balon raksasa yang menyerupai dunia permen
  • Caterpillar cave, di mana anak-anak bisa menelusuri terowongan besar yang berbentuk ulat
  • Old Octopus adalah balon raksasa yang berbentuk gurita dan tentakelnya bisa digunakan sebagai perosotan.
  • Crown Castle Yang pasti disukai para princess dan pangeran cilik. Sebuah kastil raksasa dari balon yang akan memenuhi fantasi anak-anak tentang dunia kerajaan.
  • Mighty Mushroom, jamur raksasa yang aman dipanjat oleh anak-anak.
  • Tak ketinggalan Bunny Boo si kelinci raksasa berwajah imut.

Funtopia Balloon Park akan diadakan di PENINSULA – Bukit Darmo Golf Surabaya mulai tanggal 3 November sampai 2 Desember 2018. Anak-anak bisa menikmati wahana balon raksasa tersebut setiap hari sabtu dan minggu, mulai pukul 07.00 sampai pukul 22.00. Funtopia tidak hanya menyediakan wahana bermain balon raksasa, tetapi juga food court agar pengunjung tidak kelaparan atau kehausan setelah lelah bermain. Nantinya akan ada juga berbagai kompetisi yang bisa diikuti, diantaranya jingle dance, jingle song, fun visit, fun drawing, fun story dan masih banyak lagi.


Tiket bermain Funtopia Balloon Park bisa dibeli melalui www.traveloka.com maupun datang langsung ke arena bermainnya di Bukit Darmo Golf. Kalau mau dapat harga early bird, bisa beli melalui TRAVELOKA dengan harga Rp.65.000 (enam puluh lima ribu rupiah) untuk tiket anak-anak usia 2 – 16 tahun dan Rp.40.000 (empat puluh ribu rupiah) untuk orang dewasa usia 17 tahun ke atas. Tiket pre sale atau early bird sudah bisa dibeli sejak tanggal 23 oktober hingga 2 november 2018. Masih ada waktu nih. Kemarin saya beli bahkan dapat harga promo tambahan melalui aplikasi Traveloka di smartphone. Harga yang banyak diskonnya begini emang favorite para ibu yaa…

Untuk tiket harga normal Rp 80.000 (delapan puluh ribu rupiah) untuk anak-anak usia 2-16 tahun dan Rp 40.000 (empat puluh ribu rupiah) untuk orang dewasa. Mayan banget kan diskonnya kalau bisa beli early bird. Buruan mumpung masih ada waktu. Cara belinya bisa dilihat di bawah yaa…

1.Klik aplikasi Traveloka dan pilih Traveloka Aktivitas & Rekreasi, lalu klik Funtopia Balloon Park – Surabaya

 

2. Klik jumlah tiket yang akan dibeli, nanti akan kelihatan jumlah yang harus dibayar.

 

3. Pilih tanggal kunjungan yang telah direncanakan.

 

4. Masukkan data kontak pemesan tiket sesuai isian kolom

 

5. Isi kolom data pemegang tiket sesuai dengan kartu identitas yang dimiliki.

 

6. Selanjutkan akan terlihat jumlah yang harus dibayar, kemudian pilih metode pembayaran.

 

7. Setelah dilakukan pembayaran, maka kita akan menerima e-voucher yang akan digunakan sebagai tiket masuk ke wahana Funtopia Balloon Park.

 

Jadi siapa yang akan ikut seru-seruan di Funtopia bulan depan? Jangan sampai kelewatan yaaa… Btw, jangan lupa kasih ucapan terima kasih juga buat Beyond Screen Production yang sudah bersusah payah bersama timnya dan Traveloka mewujudkan mimpi para bocah bermain di Funtopia Balloon Park seperti kota-kota lain.