Ajari Anak Berpikir Kritis

Duo kunyil senang sekali membaca buku tentang pengetahuan dan trivia, seperti “Einstein Aja Gak Tahu”, “Fakta Paling Aneh Di Dunia” dan sejenisnya. Dengan membaca buku-buku seperti itu, mereka merasa senang ketika bercerita dan makin bangga ketika yang diceritakan adalah informasi baru buat ayah atau bundanya. Merasa lebih tahu itu bisa menyenangkan dan bikin bangga ya?

“Bund, tahu gak kenapa sirup jagung itu manis, padahal rasa jagung kan gak manis-manis banget? Aku tahu lhoo…” lalu mereka akan ngoceh tentang betapa ajaibnya proses kimia, bla… bla…

Setelah mereka senang membaca lantas apa? Kini saatnya menanamkan pada anak untuk berpikir kritis, mempertanyakan kebenaran dari apa yang dibacanya. Fungsinya apa? Di tengah arus informasi yang super deras, kalau anak melahap begitu saja semua informasi yang diterimanya, tanpa tahu bagaimana menyaringnya, ya wassalam. Mereka bisa saja terjebak dan tenggelam dalam pusaran hoaks, disinformasi dan misinformasi.

Siapa yang sering menerima share berita di whatsapp group dengan sumber yang belum jelas asalnya. Ada berita yang kelihatannya mencerahkan, ada berita yang mengkhawatirkan, bahkan banyak juga berita yang menggembirakan, tapi siapa yang tahu kalau mungkin saja 90% diantaranya adalah hoaks. Coba telan saja semua berita yang dibaca di group whatsapp atau di sosial media tersebut, maka seminggu kemudian mungkin kita sukses menderita depresi akut.

Kita mungkin dulu memang tidak diajarkan untuk berpikir kritis. Banyak orang tua jaman dulu yang lebih suka anaknya menjadi penurut, ikut apa saja yang diperintahkan dan telan saja semua yang diajarkan. Kita belum diajarkan untuk berpikir kritis, banyak tanya itu berarti kita ceriwis dan tukang protes. Stempel yang mengerikan ya?

Nah, sekaranglah saatnya untuk MENGAJARKAN ANAK BERPIKIR KRITIS!

Bisa dimulai ketika anak bertanya tentang satu hal, biasakan untuk tidak memberi jawaban langsung. Ajak anak untuk berpikir atau paling tidak tanyakan pendapatnya. Diskusi dan interaksi dua arah dalam mencari jawaban akan melatih anak untuk berpikir dan mengasah logikanya.

Selain itu kita bisa mengajari anak dalam mencari referensi. Tidak perlu menjadi orang tua superhero. Tunjukkan juga kalau kadang ayah atau bunda tidak tahu dan perlu mencari jawabannya di sumber-sumber referensi yang dibutuhkan. Ajak anak dan ajari mereka cara mencari sumber referensi yang terpercaya. Dengan demikian, anak akan terlatih dalam memilah sumber-sumber berita yang jelas.

Kadangkala anak memiliki jawaban atas pertanyaan sesuai range usianya. Mereka menguasai ilmu yang dibacanya berdasarkan pengalaman dan latar belakang ilmu yang masih dimilikinya. Kalau memang kurang tepat, jangan dihakimi. Ajak anak diskusi. Pemahaman anak usia 8 tahun tentu akan berbeda dengan anak usia 15 tahun. Karena itu tidak perlu ditertawakan atau dihakimi.

Dorong anak untuk lebih banyak bertanya juga membantu anak untuk berpikir kritis. Jangan pernah menganggap anak yang banyak bertanya itu ceriwis, lancang, berisik apalagi membuat mereka merasa malu atau tidak nyaman untuk bertanya lagi. Jika anak tak lagi nyaman bertanya ke orang tuanya, maka jangan salahkan jika anak mencari jawaban sendiri di luar, dan mendapat jawaban yang keliru atau menyesatkan. Maka bersyukurlah ketika anak masih nyaman dan suka bertanya kepada orang tuanya. Itu berarti kita punya kesempatan untuk mengajarkan mereka hal yang benar menurut kita.

Dengan mendidik anak berpikir kritis dan terbiasa mencari sumber berita yang valid, harapannya sebaran hoaks-hoaks gak jelas di group whatsapp dan sosial media dapat mulai berkurang di lingkaran pertemanan. Paling tidak mereka tidak akan terseret arus informasi yang makin deras.

Lelah gak sih membaca sebaran-sebaran berita tak jelas yang orang dengan mudah klik share tanpa memperhatikan kebeneran dan keabsahan beritanya. Lalu mereka enak saja bilang “tidak tahu” tapi lebih lelah lagi mereka tidak mau tahu. “Penyakit” seperti itu bisa menimpa siapa saja, baik itu orang dengan pendidikan tinggi hingga mereka yang dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

So, buruan, selamatkan generasi penerus dengan mengajarkan anak-anak berpikir kritis!

 

Belajar Parenting dari kisah DILAN dan MILEA

Film Dilan 1990 ternyata feedbacknya luar biasa yaaa… Film yang diadaptasi dari Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq ini cukup menjadi hiburan yang renyah untuk anak muda. Eh bukan cuma anak muda ding, tapi juga ibu-ibu macam kami. heuheu…

Awalnya ketika ada ajakan nonton bareng teman-teman, ada rasa enggan. Selain karena anggaran nonton yang gak ada, juga karena ngerasa bukan genre film kesukaan saya. Tapi ketika ada tawaran untuk kedua kali, dan bioskop juga udah sepi, akhirnya cusss berdua sama teman nonton filmnya. Keluar dari bioskop, ternyata hati ikut berbunga-bunga. Serasa habis dihujani kata-kata indah. hahaha… receh sekali ya bahagianya. Seneng aja gitu digombalin.

Penasaran dengan isi novelnya, akhirnya ubek-ubek dan dapatlah 2 buah novel DILAN dan 1 novel MILEA. Dalam waktu 4 hari, 3 buku habiiisss… (Ibu macam apa coba? Kayak gak ada kerjaan ajaa…) Novelnya ringan, dengan gaya bahasa yang mengalir, membacanya jadi gak kerasa. Tahu-tahu sudah habis saja.

Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta anak SMA antara Dilan dan Milea. Mulai dari masa pendekatan hingga jadian, bahkan hingga putus. Bedanya, kalau novel DILAN diceritakan dari sudut pandang Milea, sedangkan MILEA diceritakan dari sudut pandang Dilan. Setelah baca ketiganya, kita jadi bisa menilai keseluruhan jalan cerita. Kita juga bisa menyelami bagaimana perbedaan jalan pikiran perempuan dan laki-laki, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dan mengambil keputusan.

Jadi, kalau kalian mau tahu kenapa Dilan dan Milea bisa sampai putus, wajib baca semua novelnya. Dengan begitu kamu tidak akan merasa patah hati yang berlebihan. Ayo ngaku, siapa yang patah hati dan gagal move on ketika tahu kalau Dilan dan Milea ternyata putus? hahaha… Gak usah baper! Baca novelnya dan nantikan seri film selanjutnya.

Sebagai seorang yang kini sudah punya anak dan pernah melewati masa-masa SMA dan ditembak sama Dilan versi KW Super, saya memiliki pesan moral yang berbeda. Ternyata setelah selesai membaca 3 novel tersebut, saya dibuat jatuh cinta pada ibunya DILAN. Kalau jatuh cinta sama DILAN kan sudah banyak yang mengalami ya? Lagian saya sudah menikah dan punya DILAN sendiri di rumah. Jadi sudah gak iri lagi sama yang di novel. Tapi kalau ibunya DILAN itu salah satu sosok ibu yang patut ditiru dan diteladani.

Siapa yang setuju kalau menghadapi anak balita dengan anak SMA itu bedanya jauuuhh… Jadi kalau kita tetap pada pola yang sama, bisa jadi anak SMA kita bakal kabur setiap hari dari rumah. ya kali anak SMA mana mau didikte macam anak TK “ayo bajunya diberesin! Mainannya jangan berantakan!”. Engap gak sih kalau di rumah isinya omelan mulu?!

Sebenarnya pada awalnya saya dibuat kagum oleh sosok DILAN yang menaruh respek tertinggi terhadap ibunya, yang kerap ia sapa dengan sebutan “bunda”. Sekesal apapun, semarah apapun, ketika ibunya yang berbicara, maka ia akan duduk diam dan tenang mendengarkan. Coba bayangkan, anak muda, laki-laki yang ada di usia sangat kritis, bisa duduk takzim mendengarkan omelan ibunya, itu yang hebat luar biasa pasti ibunya. Anak SMA itu kan masa-masa pemberontakannya luar biasa ya? itu usia yang pengennya ya “semau gue”, the only rule is no rules.

Demi belajar sifat ibunya, akhirnya khusus pada bagian interaksi dan percakapan sang bunda saya baca ulang. Bagaimana bunda berinteraksi dengan DILAN, dengan adik dan kakaknya, dengan teman-temannya, dan hasilnya menakjubkan! Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sosok sang bunda tentang mengasuh anak remaja:

Bunda memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Usia anak remaja adalah usia di mana ia belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusannya. karena itu, dibutuhkan dukungan bahwa keputusan anaknya adalah yang terbaik yang diambil oleh anaknya. Kalaupun memang ternyata keputusan yang diambil salah, maka anak akan belajar dari masa trial and error.

Seperti ketika Bunda harus kembali menghadapi Dilan yang tawuran dengan teman-temannya, sampai harus menginap di kantor polisi. Di situ digambarkan bahwa bunda bukan seorang yang mudah panik. Bunda memberi kesempatan bahwa Dilan sedang mempertanggungjawabkan keputusannya. Bunda pun yakin bahwa Dilan belajar sesuatu dari keputusannya. Bahkan saking kalemnya si bunda menghadapi Dilan, ia justru bisa meminta Milea untuk ikhlas dan sabar. Luar biasa bukan?

Dibandingkan harus marah-marah dan mengomel, bunda memilih memberikan kesempatan bagi Dilan untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? Daripada harus bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membahas kesalahan, sepertinya lebih bijak jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Bunda memberikan Kepercayaan kepada anaknya

Suatu hari Dilan kembali melakukan kesalahan berkelahi dengan temannya. Hingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya karena melanggar peraturan untuk kesekian kalinya. Bagaimana reaksi si Bunda?

Ia berkata bahwa Bunda percaya kepada anaknya. Apabila si anak berkelahi, tentu bukan karena si anak yang memulai. Si anak berkelahi itu karena melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Lantas bunda melanjutkan nasihatnya bahwa sebenarnya tidak semua hal harus diselesaikan dengan perkelahian. Bunda mengajarkan Dilan untuk berbuat bijaksana dengan menaruh kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya.

Bunda memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang reputasi geng motor? Ketika anaknya meminta motor dan memutuskan untuk ikut bergabung ke dalam geng motor, Bunda tidak lantas menjadi orang yang frontal melarang. Bahkan ketika anaknya dikenal sebagai panglima tempur sekalipun bunda masih bisa bersikap tenang. Ada masanya ketika Bunda memanfaatkan reputasi anaknya untuk mengatur muridnya yang bandel.

Bunda memberikan kebebasan bagi Dilan untuk mengambil keputusan, karena bunda percaya bahwa ia telah menanamkan pondasi yang cukup baik terhadap anak-anaknya agar mereka tak mudah terbawa arus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Terbukti, meski menjadi panglima tempur, Dilan digambarkan bukan sebagai sosok yang urakan.

Bunda Selalu Memberikan Pilihan, Bukan Paksaan.

Anak usia remaja bukan lagi anak yang sukarela diajari atau bahkan didikte melakukan sesuatu. Namun terkadang sebagai ibu kita punya tuntutan agar anak melakukan sesuatu. Namun masalah tidak akan berhenti jika si ibu melakukannya dengan memerintah atau memaksa anak. Nah! Bunda selalu punya pilihan untuk anak-anaknya yang seolah “memaksa” secara halus si anak melakukan sesuatu. Pilihan tersebutlah yang menggiring anak-anak melakukan hal yang dikehendaki bunda.

Seperti ketika Bunda meminta Disa untuk memanggil Banar, kakaknya, ia menggunakan kalimat:

“Bunda yang manggil atau Disa?”

Dengan kalimat pilihan tersebut, anak digiring untuk memanggil kakaknya, tanpa perlu bunda yang melakukannya. Cerdas bukan?

Bunda memberi tahu kapan ia akan marah.

Ini juga menjadi hal yang menarik dari sosok Bunda. Bunda ketika ia akan marah, maka ia memberi tahu kepada anaknya bahwa bunda akan marah. Dengan demikian ia meminta anaknya untuk bersiap-siap. Si anak akan otomatis duduk diam dan mendengarkan dengan takzim selama bunda menumpahkan amarahnya. Tidak ada yang membantah apalagi menyerang balik.

Bagaimana jika anaknya belum siap?

Maka bunda akan terus menunggu hingga anaknya siap. Bahkan tak jarang sampai lupa. Namun demikian, bunda tetap akan memberikan wejangannya ketika sudah merasa lebih tenang dan terkontrol. Sehingga anak pun tetap menaruh segan dan hormat kepada bundanya. Di sinilah seorang bunda dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya. Bukan hal yang mudah buat saya yang bawaannya pengen nyolot dan teriak. Tapi sangat berharga untuk dipelajari sebelum kedua bocah benar-benar beranjak remaja. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Waktu tidak bergerak mundur.

Menarik bukan mempelajari sifat bunda dan caranya “menaklukkan” anak remaja?

Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

 

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!

Saya Perempuan, Saya ibu. Siapa Saya?

Beberapa waktu yang lalu kami bersama teman-teman dari #BikinBikinDiTaman membuat mini project bertema parenting. Kegiatan ini diinisiasi oleh mbak Iput atau lebih dikenal dengan sebutan IbuRakaRayi.  Mini project tersebut dibuat karena terinspirasi dari berbagai seminar parenting yang sering kami ikuti. Kebetulan kami sama-sama senang berburu ilmu parenting dari satu seminar ke seminar yang lainnya

Dari sanalah kami membayangkan suasana seminar yang bisa sesantai ketika  kita sedang curhat kepada teman. Pasti sangat menyenangkan ya… Seandainya suasana seminar itu bisa senyaman kita biasa ngobrol di meja makan atau di sofa empuk, tentu akan lain rasanya. Nah, di samping itu, bulan Desember bertepatan dengan peringatan hari ibu. Jadi kenapa tidak kita coba untuk membuat satu project kecil untuk ngobrol santai bertema parenting bersama para ibu.

Dari berbagai pertemuan dan diskusi selama sebulan untuk membicarakan project sambil menanti jam sekolah usai, akhirnya keluar juga konsep project #NgobrolParentingDiTaman. Konsepnya masih akan terus diperbaiki, namun sebagai project permulaan, Alhamdulillah berjalan lancar. Menjelang hari H mendadak ada banyak sekali kegiatan dan kejadian yang membuat kami harus sedikit berakrobat demi mewujudkan mini project tersebut. Beruntung teman-teman dibalik #BikinBikinDiTaman sudah biasa diajak berakrobat. Alhamdulillah tektok via whatsapp lumayan lancar. Maka, berikut ringkasan bahasan di mini project #NgobrolParentingDiTaman kemarin:

Di awal sesi mbak Sherli, seorang psikolog dari Klinik Anakku Surabaya sebagai narasumber membagikan worksheet untuk diisi para peserta. Worksheet tersebut berisi pertanyaan seputar perasaan mereka menjadi ibu, dan seberapa jauh peserta mengenal diri sendiri. Worksheet tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi diri kita dan mengenal siapa kita.

Karena pada umumnya, setelah menjadi seorang ibu, kita lebih dikenal sebagai ibu dari si A, atau lebih sering dipanggil Mamanya si A. Sekarang coba mari kita ingat-ingat, untuk para ibu yang sudah memiliki anak usia sekolah, ada berapa ibu-ibu wali murid yang kita tahu nama aslinya? Berapa banyak ibu wali murid yang dipanggil sesuai nama aslinya, bukan nama anaknya? Misal, saya Wiwid adalah ibu dari Kira dan Kara. Biasanya kalau di sekolah lebih sering dipanggil “Mama Kira atau Mamanya Kara”, daripada dipanggil dengan sebutan “mbak Wiwid, atau bu Wiwid”. Benar atau tepat?

Apakah itu salah? Tidak. Menurut mbak Sherli, itu tidak salah. Hal tersebut bisa menjadi salah kalau membuat kita kehilangan identitas diri. Lebih buruk lagi, jika pada akhirnya semua hal baik atau buruk dari anak-anak  menjadi 100% karena ibunya. Sehingga jika ada komentar negatif tentang anak-anak, kita jadi lebih mudah tersinggung dan jadi lebih gampang baper. Bahayanya ketika ibu mudah baper, maka ia akan sibuk dengan luka hatinya sendiri, dibandingkan fokus mencari solusi untuk permasalahan anaknya.

Masih ingat ungkapan “It takes a village to raise a child”? Begitulah karakter anak dibentuk. Anak-anak memiliki karakter bukan dibentuk 100% oleh ibunya saja, tapi juga dipengaruhi oleh ayah, kakek, nenek,  guru, teman-temannya, saudara-saudaranya, bahkan juga lingkungannya. Itu kenapa baik-buruk seorang anak belum tentu 100% karena ibunya. Akan menjadi tidak adil terhadap diri sendiri jika ibu menghakimi dirinya dan merasa bersalah atau baper berkepanjangan.

Menjadi seorang ibu kita diajak untuk lebih sering “eling”. Mbak Sherli mengajak kita untuk mengingat apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu dan hal-hal apa saja yang sering membuat kita bête selama menjadi seorang ibu. Menjadi ibu itu dibutuhkan persiapan, bukan sekedar persiapan materi, namun juga kesiapan emosional, intelektual, bahkan kesiapan fisik.  Dengan persiapan yang matang, seorang perempuan akan menjadi lebih percaya diri menjadi seorang ibu. Dengan begitu ia akan lebih siap menghadapi segala macam penghakiman tanpa perlu menjadi baper.

Jika kita eling atau ingat semua hal yang membuat ibu bete atau kesal, maka ia akan tahu kapan harus mengantisipasi dengan introspeksi diri. Harapannya kita jadi tahu apa yang  harus dilakukan untuk memperbaiki diri dalam mendidik anak-anak.  Misal, saya paling kesal kalau saat sudah ngantuk berat Kira dan Kara memberantakan mainannya. Dengan mengetahui bahwa batas kesabaran dan kesadaran saya ada di titik nadir ketika mengantuk, maka saya memilih tidur dan meminta bantuan Ayahnya atau eyangnya menggantikan saya mendampingi Kira dan Kara bermain. Dengan demikian kondisi kondusif dalam mendidik anak dapat terus terjaga.

Baca Juga: Tingkat Kewarasan dan Jam Tidur

Seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling akan lebih mudah fokus mencari solusi dalam permasalahan mendidik anak-anak dibandingkan sibuk mengobati rasa bapernya sendiri. Seorang ibu yang memiliki kesiapan dan kematangan dalam ilmu, ia akan tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri atas semua capaian terbaiknya. Karena bagaimanapun, semua perjuangan ibu itu layak untuk dihargai. Sibuk angkat jemuran sambil menggendong anak yang rewel itu tidak mudah. Mendengar omelan manager yang omset perusahaannya turun ditambah rengekan anak di rumah yang sedang sakit itu bukan main rasanya. Itulah kenapa setiap perjuangan layak untuk dihargai. Setuju?

Tentu saja, untuk menjadi seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling dibutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif. Suami yang selalu siaga, orang tua dan mertua yang selalu hangat, bahkan juga teman-teman yang selalu menyediakan telinganya untuk menampung curhat. Ini serius, dukungan teman curhat itu bisa menjadi salah satu dukungan terbaik yang diberikan oleh support group yang bisa menguatkan dan membantu mengingatkan seorang ibu lho…

Ibu pun juga butuh curhat kok! Bisa kepada suami, orang tua, mertua, saudara atau bahkan temannya. Curhat menjadi sarana mengkomunikasikan isi pikiran dan perasaan seorang ibu. Apabila ibu mampu membangun komunikasi yang baik dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya maka akan terbangun emosi yang positif dalam menghadapi masalahnya. Ibu yang terakomodasi dengan baik untuk curhat dan mendapat masukan yang positif, maka si ibu akan lebih mudah menjadi “Waras” dan “eling”. Membangun komunikasi yang baik ini penting agar ibu mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu tak perlu malu kalau mau curhat ya buuuu…

Bahkan curhat kepada anak itu juga sah lhoo… Dengan sesekali curhat kepada anak, kita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal siapa ibunya sebenarnya. Bahkan kita sah lho mengungkapkan apa kesukaan kita dan apa yang tidak kita sukai kepada anak-anak. Jika biasanya setiap makan ayam ibu selalu mengutamakan anak-anaknya untuk mendapat daging terbaik, dan ibu rela makan bagian kepala, boleh kok sesekali ibu meminta sedikit bagian dagingnya, agar anak-anaknya tahu bahwa sesungguhnya ibunya tidak suka makan kepala ayam. Dengan memberikan kesempatan anak-anak mengenal ibunya, maka jika suatu saat si ibu membutuhkan sesuatu, anak-anaknya akan tahu harus berbuat apa. Bukankah ibu juga manusia yang suatu saat membutuhkan bantuan?

Baca juga: Mengembangkan Ketrampilan Sosial Anak

Untuk itu, ayo kita ingat-ingat lagi, siapa kita? Apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu? Apa yang membuat kita kesal dan bête dalam menjalan peran sebagai ibu? Apa alasan kita mau dan bersedia menjadi ibu? Apakah kita terpaksa atau dipaksa menjadi seorang ibu? Persiapan apa saja yang sudah kita lakukan dalam menjadi seorang ibu?

Semoga sedikit membantu mengingat dan mengenali diri.  Dengan demikian kita akan bisa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan menimba ilmu demi menghadapi tantangan mendidik anak yang tidak pernah ada habisnya. Dengan belajar terus menerus memperbaiki diri, kita bisa menjadi lebih baik setiap hari. Selamat hari ibu!

 

All pic taken by: Mbak Iput

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

“Bunda tadi Si N bilang sama aku. Katanya aku tidak boleh berteman sama si J karena agama kita beda. Apa benar aku tidak boleh berteman sama J, bund?”

Itu adalah salah satu curhat bocah kembarku. Kontan saja aku tersentak mendengar curhatnya. Dia dan teman-temannya baru berusia kurang lebih 7 tahun. Tapi mendengar alasan temannya hatiku bergejolak juga. Banyak pikiran berkecamuk. Darimana si kecil mendengar alasan seperti itu? Apa yang diajarkan orang tuanya? Dan pola pikir seperti apa yang mereka harapkan dari generasi ini?

Kita semua tahu. Anak-anak ibarat spon bersih yang siap menyerap apa saja yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Jika kita ingin spon menyerap warna biru, maka kita harus menyiapkan air berwarna biru. Jika kita ingin spon menyerap warna pelangi, maka kita juga harus menyiapkan air berwarna pelangi. Jika kita ingin anak-anak menjadi generasi yang maju, maka kita juga harus siap menjadi orang tua yang maju.

Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog (Mbak Nina)

Menurut psikolog, Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi, atau akrab disapa mbak Nina, di acara Parenting seminar SGM Eksplor, anak generasi maju adalah anak yang supel, kreatif dan mandiri. Untuk mendidik anak menjadi supel, kreatif dan mandiri, orang tua wajib mengembangkan keterampilan sosialnya. Agar si kecil mampu bersosialisasi, orang tua harus memastikan anak memiliki tubuh yang sehat dengan mencukupi nutrisinya. Didik si kecil untuk mengembangkan daya imajinasinya agar mampu menjadi anak yang kreatif. Orang tua juga wajib melatih si kecil mengolah emosinya untuk membentuk mereka menjadi mandiri. Dengan demikian si kecil akan mampu bersosialisasi dengan baik.

Kita tidak mungkin akan terus menerus membatasi pergaulannya. Semakin lama, si kecil pasti akan tumbuh besar dan memiliki lingkungan sosialisasi yang makin beragam. Tidak mungkin juga akan kita kurung di dalam rumah kan? Nah, untuk menghadapi lingkungan sosialisasi yang makin luas inilah dibutuhkan keterampilan bersosialisasi bagi si kecil. Latih mereka sejak dini, ketika lingkungan masih sangat terbatas.

Berikut beberapa tips hal yang diperlukan si kecil agar mereka mampu bersosialisasi dengan baik :

1. Bangun kedekatan dengan orang tua

Dengan membangun kedekatan dengan orang tua, anak-anak akan memiliki orang tempat bertanya dan bercerita tentang apa saja yang ia alami di luar sana. Dengan kedekatan pada orang tua, si kecil juga akan lebih percaya diri berteman dengan siapa saja. Bangun suasana agar si kecil nyaman bercerita tentang apa saja tanpa rasa takut atau was-was.

2. Rasa percaya kepada orang tua

Ini penting untuk memberikan rasa aman bagi si kecil. Dengan rasa percaya pada orang tuanya sendiri, si kecil tidak akan pergi kemana-mana ketika ia memiliki masalah. Ia percaya bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman untuk berlindung dan bercerita. Banyak anak-anak yang enggan bercerita kepada orang tuanya sendiri, karena orang tua tidak percaya pada si anak. Sehingga anak-anak lebih nyaman dan memilih bercerita pada orang lain. Tidak masalah jika tempatnya bercerita adalah orang yang tepat dan baik. Bagaimana jika ia bercerita pada orang yang salah? Tempat terbaik untuk bercerita dan bertanya adalah orang tua.

3. Mandiri

Latih anak menjadi mandiri dengan melakukan kebutuhan dasarnya sendiri. Melatih kemandirian tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini. Lakukan dari hal-hal kecil dengan pipis dan cebok sendiri. Berlanjut mandi sendiri. Hingga  melatih anak-anak untuk membereskan mainan dan kamarnya sendiri. Melatih kemandirian ini penting untuk menyiapkan anak-anak terjun ke lingkungan sosialisasi yang lebih beragam. Anak yang memiliki jiwa mandiri akan lebih siap menyelesaikan permasalahan yang ditemuinya dalam bersosialisasi.

4. Mengenal Emosi

Ajarkan anak untuk mengenali emosinya sejak dini. Jika anak-anak mengenal emosinya, ia akan berlatih untuk mengontrolnya. Kemampuan mengontrol emosi ini penting dalam bersosialisasi. Kita sendiri tidak nyaman berteman dengan orang yang pemarah atau penggerutu, bukan? Inilah pentingnya mengajarkan mengontrol emosi.

5. Menjaga Diri Sendiri

Kita tidak tahu siapa saja yang akan ditemui anak-anak di luar sana. Kita juga tahu sifat manusia sangat beragam. Kita juga tidak bisa memprediksi niat yang dimiliki semua orang. Karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, latih si kecil agar bisa menjaga diri sendiri. Ajarkan pada anak-anak mengenal anggota tubuhnya. Beri tahu mereka mana saja yang boleh disentuh orang lain, dan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ini penting untuk membuat si kecil mengerti bagian mana saja yang harus mereka lindungi. Karena berita yang kita dengar di media sosial dan televise bukanlah dongeng pengantar tidur. Hal itu nyata dan ada dimana-mana.

6. Kemampuan Komunikasi

Dengan kemampuan komunikasi yang baik, anak-anak akan dapat membangun hubungan yang baik dengan teman-temannya. Ajarkan pada mereka bagaimana caranya menghadapi teman yang sedang marah, teman yang sedang sedih, maupun teman yang sedang kesal. Dengan komunikasi yang baik juga menghindarkan anak-anak dari konflik yang berkepanjangan.

7. Fokus/konsentrasi dan Imajinasi

Kemampuan fokus atau konsentrasi dibutuhkan anak-anak dalam bergaul dengan teman-temannya. Kemampuan sosialisasi juga membutuhkan daya kreatif dalam berimajinasi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin bagus daya konsentrasi anak-anak, semakin kreatif si anak, akan semakin luwes ia bergaul.

8. Empati

Ini yang sering membuat miris. Generasi yang semakin dekat dengan dunia digital terasa semakin menurun rasa empatinya. Mereka yang terbiasa fokus dengan dirinya sendiri, membuat mereka menjadi anak yang krisis empati. Didik si kecil agar mampu memahami yang dirasakan orang lain. Dengan kemampuan memahami perasaan orang lain, anak-anak akan mampu berempati.

Naaaahhh… itulah tips-tips yang dibagi saat acara Parenting Seminar SGM EKSPLOR kemarin. Acara yang menghadirkan Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog sebagai salah satu narasumber ini berlangsung meriah dengan banyak orang tua yang antusias bertanya tentang tumbuh kembang si kecil. Parenting seminar yang diberi tema “Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Generasi Maju” ini juga memberikan edukasi yang lengkap untuk mendidik anak-anak menjadi generasi maju yang cerdas bersosialisasi. Orang tua pun nampak antusias mengacungkan tangan dan bertanya dalam sesi tanya jawab.

Dari penuturan Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor, seminar parenting ini diadakan sebagai wujud dukungan SGM Eksplor bagi orang tua untuk membentuk masa depan anak lebih baik. Dengan adanya seminar parenting yang diadakan di berbagai kota tersebut, diharapkan anak-anak bukan hanya sekedar mendapatkan nutrisi terbaik, namun juga memperolah pola asuh yang tepat. Dari seminar parenting tersebut diharapkan orang tua dapat mendampingi putra-putrinya  tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang maju, yaitu generasi yang memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, kreatif dan mandiri.

Acara yang dipandu MC cantik Cici Panda berlangsung dari jam 9 pagi hingga pukul 12 siang. Orang tua pulang dengan perasaan kenyang. Bukan hanya kenyang di perut oleh hidangan yang berlimpah, namun juga kenyang di otak dengan ilmu baru yang bermanfaat.