11 Tips Belanja Nyaman Bersama Anak Di Big Bad Wolf (BBW) Surabaya

11 TIPS BELANJA NYAMAN BERSAMA ANAK DI BIG BAD WOLF (BBW) SURABAYA

Gelaran bazaar buku internasional paling besar sudah dibuka di Surabaya. Kemarin tanggal 4 Oktober 2019 Big Bad Wolf (BBW) 2019 Surabaya resmi dibuka untuk umum. Puluhan ribu buku siap diserbu oleh antusiasme warga Surabaya. Bukan hanya untuk sekedar dibaca sendiri, bahkan para ibu-ibu yang doyan mencari peluang pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk membuka jastip BBW atau jasa titip belanja.

Jastip BBW Surabaya menjadi salah satu pilihan paling mudah untuk menghindari kalap dan kerempongan berburu buku atau kendala jarak yang jauh. Namun bagi banyak orang berbelanja buku rasanya kurang lengkap kalau belum memegang dan mencium aroma kertas langsung. Tapi apa jadinya jika hasrat berbelanja buku tak terbendung, tapi tidak ada yang menunggu si kecil di rumah?

Maka berikut beberapa tips berbelanja anti rempong bersama anak di Big Bad Wolf (BBW) Surabaya:

<1>

Kenakan outfit yang nyaman. Meski ruangan ber JX International ber-AC tetap kenakan baju yang nyaman. Terkadang dibutuhkan kelincahan dan cekatan untuk mendorong troli dan mengawasi si kecil di sela-sela meja yang penuh tumpukan buku.

<2>

Pakai alas kaki yang nyaman. Buat saya lebih nyaman memakai sepatu kets daripada memakai flat shoes atau sandal. Selain mengurangi rasa pegal di kaki, mengenakan sepatu kets juga ampuh menjaga kaki ketika harus thawaf dari satu meja buku ke meja yang lainnya bersama si kecil.

<3>

Sebelum berangkat, pastikan si kecil dan anda dalam keadaan kenyang. Tidak bisa dipungkiri, berbelanja buku di BBW Surabaya tidak cukup dalam waktu satu atau dua jam saja. Thawaf mengelilingi meja buku dibutuhkan tenaga yang ekstra apalagi ditambah harus sambil mengawasi anak-anak.

<4>

Rileks dan Nikmati. Tak perlu takut kehabisan buku atau harus berebut buku, karena Big Bad Wolf (BBW) Surabaya 2019 menyediakan puluhan ribu buku anak. Pilihannya pun bermacam-macam, mulai dari pop up book, sound book, activities book, story book hingga yang terbaru magic book. Magic book atau buku ajaib ini adalah buku cerita yang dilengkapi dengan teknologi augmented reality (AR). Dengan menggunakan aplikasi AR di ponsel pintar, gambar yang ada di buku bisa hidup dan bergerak, membuat aktivitas membaca menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.

<5>

Pilih waktu yang paling nyaman. Bagi saya waktu paling nyaman berbelanja buku di BBW Surabaya bersama anak-anak adalah pagi-pagi sekali. Setelah bangun tidur dan sholat shubuh, saya ajak para bocah sarapan. Selesai sarapan langsung berangkat. Pagi hari suasana BBW masih lumayan sepi. Setidaknya belum seramai siang atau sore hari. Anak-anak pun lebih nyaman memilih dan membuka-buka buku yang ingin dibelinya.

<6>

Ajarkan anak untuk memilih buku sendiri dengan melihat buku contoh atau sample book yang telah disediakan. Dengan adanya sample book yang tersedia di BBW, anak-anak dan orang tua lebih mudah memperkirakan isi buku dan kecocokan untuk anaknya. Sebagai pengunjung budiman dan auwsome, sebaiknya tidak membuka buku yang masih dalam kemasan, karena sudah disediakan sample book. Kalau orang tuanya terbiasa mematuhi peraturan, maka mudah bagi anak untuk diarahkan.

<7>

Pilih buku sesuai usia anak. BBW Surabaya menyediakan bermacam-macam jenis buku. Mulai buku yang hanya berisi gambar hitam putih saja, hingga buku untuk orang dewasa. Bijaklah dalam memilih buku. Pilih yang sesuai dengan usia anak. Keuntungan dengan membawa anak-anak berbelanja buku langsung adalah kita jadi mudah untuk berdiskusi dan memilih mana buku yang dibutuhkan atau disukai oleh mereka. Momen tersebut juga bisa menjadi sarana untuk melatih anak bijak dalam memilih serta membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

<8>

Jika anak sudah terlalu lelah dan bosan, sementara ayah atau ibunya masih belum puas berkeliling, maka kita bisa menitipkan anak di area playground di lantai 2. Ini salah satu hal yang keren di arena BBW Surabaya tahun ini. Dengan adanya area playground, orang tua bisa tenang sejenak dan lebih khusuk dalam memilih buku.

<9>

Tak perlu takut lapar atau haus. Jika para bocah sudah mulai rewel karena lapar dan haus, melipir saja ke lantai 2. Di lantai 2 ada berderet kedai makanan dan minuman serta tempat duduk yang nyaman. Sambil melepas lelah, anda dan si kecil bisa menikmati aneka sajian yang dijual di area food court ini.

<10>

Bawa sendiri koper atau tas belanja yang nyaman. Dengan koper atau tas belanja yang nyaman, akan mempermudah anda membawa hasil belanjaan tanpa takut kantong kresek jebol atau buku berjatuhan. Membawa koper atau tas belanja sendiri bisa menjadi sarana untuk mengajarkan anak-anak untuk merawat lingkungan dengan mengurangi sampah plastik.

<11>

Gunakan momen berbelanja untuk foto bersama si kecil. Foto yang diambil di area BBW berlangsung dan diunggah ke sosial media dengan diberi tagar #FotoDiBBWSBY2019 bisa berkesempatan memenangkan voucher belanja buku. Sampai di rumah, bongkar hasil belanjaan, jangan lupa sambil difoto lagi. Lalu unggah foto tersebut di sosial media dan beri tagar #BarbukBBWSBY2019. Ada sekitar 40 voucher sebesar @ 150.000 yang siap dibagikan setiap hari. Jadi jangan lewatkan kesempatan tersebut ya!

Ajang Big Bad Wolf (BBW) Surabaya tahun ini akan berlangsung selama 11 hari, yaitu mulai tanggal 4 oktober hingga 14 Oktober 2019 di JX International, Jl. A. Yani Surabaya. Harga buku yang ditawarkan juga bervariasi, mulai dari 10.000 hingga harga jutaan lengkap tersedia. Bukan hanya buku bahasa inggris, tapi juga ada buku bahasa Indonesia. Mulai buku bayi, balita, anak-anak, buku usia pre-teen, buku untuk kaum profesional, hingga buku cerita dan buku hobi ada semua di BBW. Cukup pastikan anda membawa uang cash yang cukup atau kartu kredit/debit BCA.

Jangan sia-siakan kesempatan, karena menabung buku dan ilmu itu jauh lebih berharga. Menabung uang ada masanya habis. Menabung ilmu dan ketrampilan akan bisa terus digunakan kapanpun dibutuhkan. Jadi jangan segan untuk mengeluarkan uang demi berbelanja buku. Itu moto saya sih… heuheu.

Selamat berbelanja! Selamat menabung ilmu!

Belajar Parenting dari kisah DILAN dan MILEA

Film Dilan 1990 ternyata feedbacknya luar biasa yaaa… Film yang diadaptasi dari Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq ini cukup menjadi hiburan yang renyah untuk anak muda. Eh bukan cuma anak muda ding, tapi juga ibu-ibu macam kami. heuheu…

Awalnya ketika ada ajakan nonton bareng teman-teman, ada rasa enggan. Selain karena anggaran nonton yang gak ada, juga karena ngerasa bukan genre film kesukaan saya. Tapi ketika ada tawaran untuk kedua kali, dan bioskop juga udah sepi, akhirnya cusss berdua sama teman nonton filmnya. Keluar dari bioskop, ternyata hati ikut berbunga-bunga. Serasa habis dihujani kata-kata indah. hahaha… receh sekali ya bahagianya. Seneng aja gitu digombalin.

Penasaran dengan isi novelnya, akhirnya ubek-ubek dan dapatlah 2 buah novel DILAN dan 1 novel MILEA. Dalam waktu 4 hari, 3 buku habiiisss… (Ibu macam apa coba? Kayak gak ada kerjaan ajaa…) Novelnya ringan, dengan gaya bahasa yang mengalir, membacanya jadi gak kerasa. Tahu-tahu sudah habis saja.

Novel ini berkisah tentang perjalanan cinta anak SMA antara Dilan dan Milea. Mulai dari masa pendekatan hingga jadian, bahkan hingga putus. Bedanya, kalau novel DILAN diceritakan dari sudut pandang Milea, sedangkan MILEA diceritakan dari sudut pandang Dilan. Setelah baca ketiganya, kita jadi bisa menilai keseluruhan jalan cerita. Kita juga bisa menyelami bagaimana perbedaan jalan pikiran perempuan dan laki-laki, tentang bagaimana mereka menghadapi masalah dan mengambil keputusan.

Jadi, kalau kalian mau tahu kenapa Dilan dan Milea bisa sampai putus, wajib baca semua novelnya. Dengan begitu kamu tidak akan merasa patah hati yang berlebihan. Ayo ngaku, siapa yang patah hati dan gagal move on ketika tahu kalau Dilan dan Milea ternyata putus? hahaha… Gak usah baper! Baca novelnya dan nantikan seri film selanjutnya.

Sebagai seorang yang kini sudah punya anak dan pernah melewati masa-masa SMA dan ditembak sama Dilan versi KW Super, saya memiliki pesan moral yang berbeda. Ternyata setelah selesai membaca 3 novel tersebut, saya dibuat jatuh cinta pada ibunya DILAN. Kalau jatuh cinta sama DILAN kan sudah banyak yang mengalami ya? Lagian saya sudah menikah dan punya DILAN sendiri di rumah. Jadi sudah gak iri lagi sama yang di novel. Tapi kalau ibunya DILAN itu salah satu sosok ibu yang patut ditiru dan diteladani.

Siapa yang setuju kalau menghadapi anak balita dengan anak SMA itu bedanya jauuuhh… Jadi kalau kita tetap pada pola yang sama, bisa jadi anak SMA kita bakal kabur setiap hari dari rumah. ya kali anak SMA mana mau didikte macam anak TK “ayo bajunya diberesin! Mainannya jangan berantakan!”. Engap gak sih kalau di rumah isinya omelan mulu?!

Sebenarnya pada awalnya saya dibuat kagum oleh sosok DILAN yang menaruh respek tertinggi terhadap ibunya, yang kerap ia sapa dengan sebutan “bunda”. Sekesal apapun, semarah apapun, ketika ibunya yang berbicara, maka ia akan duduk diam dan tenang mendengarkan. Coba bayangkan, anak muda, laki-laki yang ada di usia sangat kritis, bisa duduk takzim mendengarkan omelan ibunya, itu yang hebat luar biasa pasti ibunya. Anak SMA itu kan masa-masa pemberontakannya luar biasa ya? itu usia yang pengennya ya “semau gue”, the only rule is no rules.

Demi belajar sifat ibunya, akhirnya khusus pada bagian interaksi dan percakapan sang bunda saya baca ulang. Bagaimana bunda berinteraksi dengan DILAN, dengan adik dan kakaknya, dengan teman-temannya, dan hasilnya menakjubkan! Berikut beberapa hal yang saya pelajari dari sosok sang bunda tentang mengasuh anak remaja:

Bunda memberikan kesempatan kepada anaknya untuk berbuat salah dan memperbaikinya.

Usia anak remaja adalah usia di mana ia belajar untuk mempertanggungjawabkan semua keputusannya. karena itu, dibutuhkan dukungan bahwa keputusan anaknya adalah yang terbaik yang diambil oleh anaknya. Kalaupun memang ternyata keputusan yang diambil salah, maka anak akan belajar dari masa trial and error.

Seperti ketika Bunda harus kembali menghadapi Dilan yang tawuran dengan teman-temannya, sampai harus menginap di kantor polisi. Di situ digambarkan bahwa bunda bukan seorang yang mudah panik. Bunda memberi kesempatan bahwa Dilan sedang mempertanggungjawabkan keputusannya. Bunda pun yakin bahwa Dilan belajar sesuatu dari keputusannya. Bahkan saking kalemnya si bunda menghadapi Dilan, ia justru bisa meminta Milea untuk ikhlas dan sabar. Luar biasa bukan?

Dibandingkan harus marah-marah dan mengomel, bunda memilih memberikan kesempatan bagi Dilan untuk memperbaiki kesalahannya. Bukankah manusia tidak pernah luput dari kesalahan? Daripada harus bersusah payah menghabiskan tenaga untuk membahas kesalahan, sepertinya lebih bijak jika kita memberikan kesempatan pada anak-anak untuk memperbaiki kesalahannya.

Bunda memberikan Kepercayaan kepada anaknya

Suatu hari Dilan kembali melakukan kesalahan berkelahi dengan temannya. Hingga ia harus dikeluarkan dari sekolahnya karena melanggar peraturan untuk kesekian kalinya. Bagaimana reaksi si Bunda?

Ia berkata bahwa Bunda percaya kepada anaknya. Apabila si anak berkelahi, tentu bukan karena si anak yang memulai. Si anak berkelahi itu karena melakukan sesuatu yang menurutnya benar. Lantas bunda melanjutkan nasihatnya bahwa sebenarnya tidak semua hal harus diselesaikan dengan perkelahian. Bunda mengajarkan Dilan untuk berbuat bijaksana dengan menaruh kepercayaan dan mempertanggungjawabkannya.

Bunda memberikan kebebasan dalam mengambil keputusan.

Siapa yang tidak pernah mendengar tentang reputasi geng motor? Ketika anaknya meminta motor dan memutuskan untuk ikut bergabung ke dalam geng motor, Bunda tidak lantas menjadi orang yang frontal melarang. Bahkan ketika anaknya dikenal sebagai panglima tempur sekalipun bunda masih bisa bersikap tenang. Ada masanya ketika Bunda memanfaatkan reputasi anaknya untuk mengatur muridnya yang bandel.

Bunda memberikan kebebasan bagi Dilan untuk mengambil keputusan, karena bunda percaya bahwa ia telah menanamkan pondasi yang cukup baik terhadap anak-anaknya agar mereka tak mudah terbawa arus atau hanya sekedar ikut-ikutan. Terbukti, meski menjadi panglima tempur, Dilan digambarkan bukan sebagai sosok yang urakan.

Bunda Selalu Memberikan Pilihan, Bukan Paksaan.

Anak usia remaja bukan lagi anak yang sukarela diajari atau bahkan didikte melakukan sesuatu. Namun terkadang sebagai ibu kita punya tuntutan agar anak melakukan sesuatu. Namun masalah tidak akan berhenti jika si ibu melakukannya dengan memerintah atau memaksa anak. Nah! Bunda selalu punya pilihan untuk anak-anaknya yang seolah “memaksa” secara halus si anak melakukan sesuatu. Pilihan tersebutlah yang menggiring anak-anak melakukan hal yang dikehendaki bunda.

Seperti ketika Bunda meminta Disa untuk memanggil Banar, kakaknya, ia menggunakan kalimat:

“Bunda yang manggil atau Disa?”

Dengan kalimat pilihan tersebut, anak digiring untuk memanggil kakaknya, tanpa perlu bunda yang melakukannya. Cerdas bukan?

Bunda memberi tahu kapan ia akan marah.

Ini juga menjadi hal yang menarik dari sosok Bunda. Bunda ketika ia akan marah, maka ia memberi tahu kepada anaknya bahwa bunda akan marah. Dengan demikian ia meminta anaknya untuk bersiap-siap. Si anak akan otomatis duduk diam dan mendengarkan dengan takzim selama bunda menumpahkan amarahnya. Tidak ada yang membantah apalagi menyerang balik.

Bagaimana jika anaknya belum siap?

Maka bunda akan terus menunggu hingga anaknya siap. Bahkan tak jarang sampai lupa. Namun demikian, bunda tetap akan memberikan wejangannya ketika sudah merasa lebih tenang dan terkontrol. Sehingga anak pun tetap menaruh segan dan hormat kepada bundanya. Di sinilah seorang bunda dituntut untuk bisa mengendalikan emosinya. Bukan hal yang mudah buat saya yang bawaannya pengen nyolot dan teriak. Tapi sangat berharga untuk dipelajari sebelum kedua bocah benar-benar beranjak remaja. Jika tidak dimulai dari sekarang, kapan lagi? Waktu tidak bergerak mundur.

Menarik bukan mempelajari sifat bunda dan caranya “menaklukkan” anak remaja?

Review Buku: 7 Kebiasaan Anak Bahagia Karya Sean Covey (The 7 Habits of Happy Kids Collections)

Sudah kenal Sean Covey? Mungkin beberapa sudah sering mendengar tentang Stephen Covey ya? Stephen Covey adalah penulis buku laris berjudul “The 7 habits of highly effective people”. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan bahkan digunakan dalam seminar-seminar. Nah, Sean Covey ini adalah anak dari Stephen Covey yang mewarisi ajaran-ajaran sang ayah.

Di jagat sosial media bahkan blog sudah banyak yang mengulas tentang buku Stephen Covey yang memang keren itu. Berhubung kebiasaan baik itu perlu ditanamkan sejak dini, maka Sean Covey membuat juga yang versi untuk anak-anak, berjudul “The 7 habits of happy kids”. Kebiasaan-kebiasaan yang ditulis oleh SEAN di dalam buku cerita anak terbarunya ini mengacu dan berlandaskan buku Stephen Covey yang lebih dulu terbit. Hanya saja, Sean menulis menggunakan Bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. Sehingga kebiasaan-kebiasaan yang ingin di tanamkan akan lebih mudah dipahami. Karena apa yang ada di buku sama dengan yang sering mereka temui dalam kesehariannya.

Buku 7 habits for Happy Kids ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa termasuk, Bahasa Indonesia, menjadi judul “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Paket ini berisi 7 buku, yang masing-masing buku berisi 1 cerita anak. Cerita yang diulas di dalamnya berisi tentang kebiasaan baik 7 tokoh utama yang bisa ditanamkan untuk anak-anak agar mereka selalu memiliki jiwa bahagia.

Tidak bisa dipungkiri, tantangan mendidik anak jaman sekarang itu luar biasa yaa… Tekanan yang dimiliki anak-anak bukan hanya datang dari tugas-tugas sekolah, namun juga berasal dari tuntutan sosial mereka dalam berteman. Sementara orang tua tidak bisa membatasi pergaulan sosial anak-anak yang tentu semakin luas. Untuk memberikan pondasi yang kuat inilah, perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Kebiasaan inilah yang bisa mereka bawa agar jiwa-jiwa bahagia juga bisa terus mereka miliki dalam menghadapi tuntutan jaman yang semakin menggila.

7 kebiasaan ini sebenarnya nampak sederhana, namun sering luput dari orang tua untuk ditekankan pengajarannya dalam parenting mereka sehari-hari. Mendidik anak bukan hanya sekedar mengajarkan mereka mendapat nilai baik di sekolah, atau menghindarkan mereka dari rengekan berkepanjangan. Tapi orang tua juga selayaknya mengajarkan mereka menjadi mandiri. Bukan hanya sekedera mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, namun juga mandiri secara emosional. Artinya, ketika menemui kendala, mereka mampu mengatasinya sendiri, dan mengolah emosinya agar tidak merugikan orang lain.

Buku 7 Kebiasaan anak bahagia

7 Kebiasaan apa saja sih yang di tulis dalam set buku ini?

  • Menjadi diri sendiri

Pokey si Landak, tidak menyukai bulu-bulu tajam di tubuhnya. Teman-temannya menjauhi dan mentertawainya. Mereka tidak tahu mengapa Landak dipenuhi duri tajam di tubuhnya. Di cerita ini, anak-anak diajak untuk belajar mengenal dirinya sendiri. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang lain, namun kita bisa mengajarkan pada anak-anak untuk mengontrol apa yang ada pada dirinya dan mengendalikan perasaannya. Dengan mengenal dirinya sendiri, anak-anak akan lebih mudah mengontrol perasaan dan emosinya.

  • Mengenal Proses

Allie membayangkan dirinya menjadi dewasa. Ia bisa pergi tidur kapan saja, memakai riasan tebal, memakai baju-baju cantik, atau pergi ke swalayan sendiri. Ia belum menyadari bahwa untuk mencapai itu semua, ia harus melalui proses menjadi mandiri. Di cerita ini, anak-anak diajak mengenal proses. Tidak semua bisa langsung menjadi besar, atau langsung menjadi indah. Untuk mencapainya, ada yang namanya proses. Sebelum menjadi kue, tepung harus melalui proses dibuat adonan dan dimasak. Sebelum menjadi baju, benang harus dipintal menjadi kain dan dijahit. Agar kenyataan bisa seindah mimpi, penting untuk mengenalkan proses pada anak-anak.

  • Menjadi Teratur dan Disiplin

Betapa sedihnya Jumper ketika ia tidak dapat ikut bermain Basket karena tidak dapat menemukan sepatu ketsnya. Lubang rumahnya berantakan. Tak heran ia tidak dapat menemukan sepatu ketsnya. Membaca cerita itu, anak-anak belajar pentingnya untuk meletakkan benda-benda sesuai tempatnya. Menjadi teratur dan disiplin akan mempermudah segalanya. Jika ingin menjadi anak yang bahagia, maka bisa dimulai dengan menjadi teratur dan disiplin. Tidur, makan dan bermain sesuai waktunya.

  • Tidak Merasa Iri dan Membanding-bandingkan Diri Dengan Orang Lain

Sammy dan Sophie adalaha saudara kembar. Namun Sophie selalu berhasil melakukan semuanya lebih baik dari pada Sammy. Di sekolah, Sophie selalu mendapat nilai lebih tinggi dari Sammy. Sophie juga sering menjadi juara di banyak perlombaan. Itu membuat Sammy menjadi iri dan membandingkan dirinya dengan saudara kembarnya. Menanamkan rasa percaya diri pada anak-anak itu penting. Buku ini mengajak anak-anak untuk mencari kelebihan dan potensi yang ada pada dirinya sendiri. Karena semua anak itu memiliki keistimewaannya sendiri. Anak-anak akan lebih bahagia jika ia tahu apa yang dimilikinya juga berharga. Karena itu ajak anak-anak berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

  • Belajar Mendengarkan Orang Lain

Lily merasa dirinya sudah tahu segalanya. Ketika ia memutuskan untuk membuat kue, ia merasa sudah hafal semuanya, sehingga tidak perlu melihat resep kembali. Ternyata hasilnya jauh berbeda. Andai saja ia mau meluangkan waktu mendengar saran ayahnya… Begitu juga dengan anak-anak. Mereka akan belajar dari kegagalan. Sering anak merasa bisa dan merasa tahu, sehingga enggan untuk mendengarkan. Di cerita ini, anak-anak diajak belajar pentingnya mendengar dan membaca ulang.

  • Bekerja sama

Sophie harus berpasangan dengan Biff untuk mengerjakan tugas sekolah membuat puisi. Sophie tidak suka berpasangan dengan Biff, karena ia mengira Biff adalah anak yang jahat. Sophie belum pernah berbincang dan mengenal Biff. Apa yang terjadi setelah Sophie mengenal Biff?

Menjadi berbeda itu bukan sesuatu yang menakutkan. Di cerita ini, anak-anak diajak belajar untuk bekerja sama dengan siapa saja. Karena tidak ada 2 manusia yang sama di dunia, maka setiap orang pasti memiliki sesuatu yang istimewa. Perbedaan pendapat bisa saja terjadi setiap saat. Itulah pentingnya melihat dari segala sudut pandang yang berbeda, dan belajar bekerja sama mencari jalan keluar terbaik.

  • Empati

Kakek Goob meninggal. Padahal Goob sangat dekat dan sering bermain bersama kakeknya. Setiap hari Goob murung dan malas melakukan apa saja. Goob sudah lama tidak masuk sekolah. Apa yang dilakukan teman-teman Goob agar ia kembali ceria? Empati adalah salah satu hal terpenting dalam bersosialisasi. Hingga saat ini, masih banyak orang tua yang lupa mengajarkan berempati kepada anak-anaknya. Ditambah lagi kebiasaan era digital yang lebih individualis, makin mengikis rasa empati anak-anak. Karena itu penting mengenalkan anak-anak untuk menjadi peka dengan lingkungannya dan belajar berempati.

Buku ini juga berisi parents corner atau pojok orang tua. Di halaman ini diuraikan apa saja hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak-anak, sesuai dengan isi cerita. Di sini juga ada beberapa pertanyaan yang bisa digunakan orang tua untuk mereview ulang isi cerita bersama anak-anak. Sehingga kita tahu seberapa jauh daya tangkap si anak terhadap isi cerita. Selain itu, halaman ini juga dilengkapi panduan bagi orang tua dalam berdiskusi dengan anak tentang pesan moral yang ditangkap dari cerita tersebut.

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan poster Pohon 7 Kebiasaan atau The 7 habbits Tree. Di dalam poster ini digambarkan 7 kebiasaan yang bisa dimulai dari akar, yaitu kebiasaan yang dimulai dari sendiri, hingga kebiasaan ketika bergabung bersama teman-teman. Kebiasaan-kebiasaan ini yang akan membuat anak-anak memiliki jiwa yang bahagia dan tumbuh menjadi anak mandiri. Kebiasaan yang ada di poster ini bisa ditanamkan sedini mungkin dan menjadi self-reminder juga untuk orang tua.

Menarik bukan?

Dari buku ini anak-anak bukan hanya sekedar membaca atau mendengarkan cerita. Mereka diajak untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini. Kebiasaan-kebiasaan baik inilah yang akan terus mereka bawa dan menjadi bekal untuk tumbuh tangguh dan kuat dalam menghadapi tantangan derasnya arus informasi di era digital. Satu set buku Koleksi Cerita 7 Kebiasaan Anak Bahagia ini bisa diperoleh kisaran harga Rp. 120.000an hingga Rp. 160.000an.

Selamat membaca!

Dongeng Putri Pemberani

Seperti yang sering saya ceritakan di artikel-artikel sebelumnya, Kara, salah satu dari gadis kembar saya memiliki karakter yang sedikit unik. Kara sangat menyukai semua hal yang berbau princess, tetapi dia juga suka memanjat, melompat  dan lari kesana kemari. Jauh lebih banyak gerak dibandingkan Kira yang sedikit boyish.  Karena itulah ketika saya mendapat buku “Dongeng Putri Pemberani” karya Fitri K dan Watiek Ideo ini saya merasa bertemu karakter dongeng yang pas untuk Kara dan mungkin juga untuk Kira.

IMAG3619

Continue reading Dongeng Putri Pemberani