Memahami Generasi Milenial

Suatu hari Kira dan Kara pulang sekolah mengadu. Temannya melarang mereka makan permen Y, karena katanya ada kandungan minyak Babinya. Tak terima, Kira dan Kara memaksa saya untuk melihatnya di Google. Karena permen Y adalah salah satu jajanan favoritenya. Sebenarnya bisa saja saya mengiyakan apa yang dibilang temannya. Toh selama ini saya sudah cukup jengah melihat mereka mulai gemar makan permen. Namun ternyata, mereka jauh lebih kritis dari yang saya kira. Dengan sigap diambilnya tablet, dan dibukanya aplikasi mesin pencari. Begitulah generasi masa kini.

Generasi jaman Kira dan Kara ini sering disebut Generasi Milenial. Generasi milenial atau generasi yang tumbuh di millennium baru, adalah generasi yang lahir di tahun 2000 ke atas. Ada juga yang memberikan nama mereka adalah Gen-Z. Generasi ini tumbuh di tengah-tengah perkembangan pesat teknologi dan derasnya arus informasi.

Tantangan mendidik anak generasi milenial tentu berbeda dengan mendidik anak-anak generasi sebelumnya. Teknologi di tangan anak zaman sekarang adalah mainan sehari-hari. Istilah-istilah keren yang mungkin asing di telinga kita, sudah akrab di telinga mereka. Mencari informasi hanya cukup menjentikkan jari diantara jajaran keyboard, maka seluruh informasi yang dibutuhkan tersedia di depan mata.

Kira dan Kara adalah anak-anak generasi milenial. Youtube dan Google adalah mainan mereka sehari-hari. Ketika ada pertanyaan yang mentok dan tidak bisa dijawab bundanya, mereka sudah bisa berinisiatif mencarinya di google. Ketika mendapat tugas sekolah tentang pergerakan matahari, mereka bisa mencari ilustrasi ilmiahnya di youtube sesuai kata kunci yang mereka pilih sendiri. Tablet, laptop sudah akrab di tangan mereka. Meski semua masih berstatus milik bunda atau ayah, namun lincah mereka mainkan. Tentu saja semua masih dengan pendampingan. Karena tak semua informasi yang tersedia, ramah untuk pemahaman anak-anak. Begitulah sedikit gambaran tumbuh kembang anak generasi milenial.

GENERASI MILENIAL DAN NORMA

Akan menjadi tidak mudah, ketika orang tua dan anak memiliki pendapat yang berbeda tentang norma. Pemahaman norma bagi anak generasi milenial berbeda dengan pemahaman norma bagi generasi tahun 80’an. Anak yang tumbuh di era gadget mudah digenggam, adalah anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan ponsel pintar di tangan. Anak generasi 80’an adalah anak-anak yang bermain bersama teman menggunakan daun, batu dan kayu. Pola interaksi sosial yang berbeda inilah yang membentuk pemahaman yang berbeda tentang norma dan adab bergaul.

Mengajarkan anak generasi milenial tentang norma tidak bisa dengan ceramah dan nasihat setiap hari. Apa yang kita bicarakan akan menjadi angin lalu dan sebatas mampir di telinga. Menyamakan persepsi antara orang tua dan anak bukan lagi menjadi hal yang mudah. Tantangan orang tua bukan sekedar mendidik mereka untuk mendapat nilai tertinggi di sekolah, melainkan justru bisa berkomunikasi baik dan lancar dengan anaknya sendiri. Percayalah, berkomunikasi bukan lagi menjadi hal yang mudah.

Ironis bukan?

Di era yang katanya teknologi informasi begitu pesat berkembang, justru komunikasi orang tua dengan anak menjadi amat sulit. Di zaman yang ketika berbicara dengan orang di tempat yang jauh bisa langsung bertatap muka, justru pola bicara orang tua dan anak sangat susah untuk saling beradu mata. Teknologi yang katanya bisa membuat yang jauh terasa dekat, ternyata justru menjauhkan yang dekat. Apakah orang tua akan terus menutup mata akan hal ini?

FILM MY GENERATION

Upi melihat cerita dan fenomena generasi milenial ini menjadi kisah yang layak untuk diangkat ke layar lebar. Film yang menceritakan tentang kisah persahabatan remaja SMU ini mengambil cerita dari sudut pandang remaja yang mempertanyakan sikap orang tuanya. Dalam film ini Upi  sebagai Sutradara mengajak orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya sebagai teman diskusi, bukan sebagai obyek perintah dan penanaman dogma.

4 pemain baru mengisi tokoh utama dalam film ini. Zeke yang diperankan oleh Bryan Angelo,  Konji diperankan oleh Arya Vasco, Lutesha sebagai Suki dan Alexandra Kosasie sebagai Orly. 4 Remaja yang yang merasa libur sekolahnya berantakan, dan kemudian menemukan petualangan yang tak terduga dalam menghabiskan masa liburannya. Selisih pendapat dengan orang tua, naik dan turunnya emosi persahabatan hingga masalah-masalah yang dihadapi empat remaja ini menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan mereka.

Seperti film-film Upi pada umumnya, film My Generation ini juga memberikan gambaran yang terlalu berani untuk menelanjangi realitas kehidupan remaja masa kini. Karena itu pro dan kontra sudah mulai muncul sejak sebelum film ini tayang di bioskop. Memang tidak semua kehidupan remaja persis sama seperti yang tergambar dalam film ini. Namun kita juga tidak bisa menutup mata adanya realita kehidupan remaja yang sekarang sedang menjadi trend. Simak saja siapa selebgram yang sempat menjadi idola di kalangan anak muda dengan jumlah follower sosmed jutaan.

Dalam film ini juga, Upi menyodorkan kaca kepada kita untuk melihat diri sendiri, sudahkah kita memanusiakan anak-anak kita? Orang tua bukan Tuhan yang bisa menghakimi dan menempelkan stempel di wajah anak-anaknya. Orang tua juga manusia yang bisa salah dan khilaf. Sebagai orang tua, sudahkah kita bercermin contoh seperti apa yang sudah kita tunjukkan dan berikan kepada anak-anak kita?

My Generation memberikan gambaran sisi lain remaja generasi milenial yang sebenarnya open minded dan terbuka. Mereka adalah pribadi yang tidak ingin terikat dogma. Jika orang tua mendapati anak-anaknya malas pergi sekolah, tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah, jangan lantas memberikan mereka label pemalas. Mungkin sudah saatnya orang tua memberikan penyegaran dalam metode belajar anak-anak. Ajak mereka berkomunikasi tentang apa yang mereka inginkan dan ajarkan berpikir untuk menemukan solusi bersama-sama. Karena sesungguhnya anak-anak generasi milenial adalah anak-anak yang kritis dan kreatif.

Film yang akan tayang pada tanggal 9 November 2017 serentak di seluruh bioskop di Indonesia ini menjadi reminder untuk orang tua agar mereka mau membuka mata melihat realita kehidupan remaja. Sudah saatnya orang tua juga bepikir dan mengevaluasi diri sendiri tentang pola komunikasi yang dibangun dengan anak-anaknya.

Film ini tidak mengajak atau memberikan teladan pada kebebasan bergaul. Film ini mengajak kita berpikir dan bersikap kritis terhadap moral yang sebenarnya kita tanamkan pada anak-anak kita. Gambaran keterbukaan dan kebebasan bergaul yang ditampilkan dalam film ini hanyalah salah satu potret yang ditunjukkan tentang realita kehidupan remaja saat ini. Namun sesungguhnya yang ingin disoroti dalam film ini bukan pada kebebasan bergaul, namun pada pola komunikasi dan pola asuh penanaman moral yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya.

Tak hanya diisi oleh talenta-talenta baru, film My Generation ini juga akan dilengkapi oleh pemain lama seperti, Surya Saputra, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan masih banyak lagi. Untuk mengerjakan film bergenre remaja ini, Upi juga telah melakukan riset social media hearing selama 2 tahun. Riset yang intensif ini juga digunakan Upi untuk melihat gaya percakapan dan pola dialog dalam komunikasi remaja. Sehingga adegan dalam film dapat mengalir halus sesuai trend anak remaja masa kini.

Bagaimana? Sudah siap untuk menonton bersama para anak remaja kita?

Sudah saatnya kita membuka diri untuk mendapatkan nada yang sama dengan anak-anak kita. Agar harmoni dalam keluarga bisa terus terjaga. Semoga kita tetap amanah dalam menjaga titipan-Nya.

……………

disclaimer: Semua foto yang digunakan di artikel ini diambil dari media sosial My Generation Film (IFI Sinema)

 

 

 

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak

“Bunda tadi Si N bilang sama aku. Katanya aku tidak boleh berteman sama si J karena agama kita beda. Apa benar aku tidak boleh berteman sama J, bund?”

Itu adalah salah satu curhat bocah kembarku. Kontan saja aku tersentak mendengar curhatnya. Dia dan teman-temannya baru berusia kurang lebih 7 tahun. Tapi mendengar alasan temannya hatiku bergejolak juga. Banyak pikiran berkecamuk. Darimana si kecil mendengar alasan seperti itu? Apa yang diajarkan orang tuanya? Dan pola pikir seperti apa yang mereka harapkan dari generasi ini?

Kita semua tahu. Anak-anak ibarat spon bersih yang siap menyerap apa saja yang mereka lihat, dengar dan rasakan. Jika kita ingin spon menyerap warna biru, maka kita harus menyiapkan air berwarna biru. Jika kita ingin spon menyerap warna pelangi, maka kita juga harus menyiapkan air berwarna pelangi. Jika kita ingin anak-anak menjadi generasi yang maju, maka kita juga harus siap menjadi orang tua yang maju.

Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog (Mbak Nina)

Menurut psikolog, Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi, atau akrab disapa mbak Nina, di acara Parenting seminar SGM Eksplor, anak generasi maju adalah anak yang supel, kreatif dan mandiri. Untuk mendidik anak menjadi supel, kreatif dan mandiri, orang tua wajib mengembangkan keterampilan sosialnya. Agar si kecil mampu bersosialisasi, orang tua harus memastikan anak memiliki tubuh yang sehat dengan mencukupi nutrisinya. Didik si kecil untuk mengembangkan daya imajinasinya agar mampu menjadi anak yang kreatif. Orang tua juga wajib melatih si kecil mengolah emosinya untuk membentuk mereka menjadi mandiri. Dengan demikian si kecil akan mampu bersosialisasi dengan baik.

Kita tidak mungkin akan terus menerus membatasi pergaulannya. Semakin lama, si kecil pasti akan tumbuh besar dan memiliki lingkungan sosialisasi yang makin beragam. Tidak mungkin juga akan kita kurung di dalam rumah kan? Nah, untuk menghadapi lingkungan sosialisasi yang makin luas inilah dibutuhkan keterampilan bersosialisasi bagi si kecil. Latih mereka sejak dini, ketika lingkungan masih sangat terbatas.

Berikut beberapa tips hal yang diperlukan si kecil agar mereka mampu bersosialisasi dengan baik :

1. Bangun kedekatan dengan orang tua

Dengan membangun kedekatan dengan orang tua, anak-anak akan memiliki orang tempat bertanya dan bercerita tentang apa saja yang ia alami di luar sana. Dengan kedekatan pada orang tua, si kecil juga akan lebih percaya diri berteman dengan siapa saja. Bangun suasana agar si kecil nyaman bercerita tentang apa saja tanpa rasa takut atau was-was.

2. Rasa percaya kepada orang tua

Ini penting untuk memberikan rasa aman bagi si kecil. Dengan rasa percaya pada orang tuanya sendiri, si kecil tidak akan pergi kemana-mana ketika ia memiliki masalah. Ia percaya bahwa orang tuanya adalah tempat yang aman untuk berlindung dan bercerita. Banyak anak-anak yang enggan bercerita kepada orang tuanya sendiri, karena orang tua tidak percaya pada si anak. Sehingga anak-anak lebih nyaman dan memilih bercerita pada orang lain. Tidak masalah jika tempatnya bercerita adalah orang yang tepat dan baik. Bagaimana jika ia bercerita pada orang yang salah? Tempat terbaik untuk bercerita dan bertanya adalah orang tua.

3. Mandiri

Latih anak menjadi mandiri dengan melakukan kebutuhan dasarnya sendiri. Melatih kemandirian tidak bisa instan, harus dimulai sejak dini. Lakukan dari hal-hal kecil dengan pipis dan cebok sendiri. Berlanjut mandi sendiri. Hingga  melatih anak-anak untuk membereskan mainan dan kamarnya sendiri. Melatih kemandirian ini penting untuk menyiapkan anak-anak terjun ke lingkungan sosialisasi yang lebih beragam. Anak yang memiliki jiwa mandiri akan lebih siap menyelesaikan permasalahan yang ditemuinya dalam bersosialisasi.

4. Mengenal Emosi

Ajarkan anak untuk mengenali emosinya sejak dini. Jika anak-anak mengenal emosinya, ia akan berlatih untuk mengontrolnya. Kemampuan mengontrol emosi ini penting dalam bersosialisasi. Kita sendiri tidak nyaman berteman dengan orang yang pemarah atau penggerutu, bukan? Inilah pentingnya mengajarkan mengontrol emosi.

5. Menjaga Diri Sendiri

Kita tidak tahu siapa saja yang akan ditemui anak-anak di luar sana. Kita juga tahu sifat manusia sangat beragam. Kita juga tidak bisa memprediksi niat yang dimiliki semua orang. Karena itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, latih si kecil agar bisa menjaga diri sendiri. Ajarkan pada anak-anak mengenal anggota tubuhnya. Beri tahu mereka mana saja yang boleh disentuh orang lain, dan bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh oleh orang lain. Ini penting untuk membuat si kecil mengerti bagian mana saja yang harus mereka lindungi. Karena berita yang kita dengar di media sosial dan televise bukanlah dongeng pengantar tidur. Hal itu nyata dan ada dimana-mana.

6. Kemampuan Komunikasi

Dengan kemampuan komunikasi yang baik, anak-anak akan dapat membangun hubungan yang baik dengan teman-temannya. Ajarkan pada mereka bagaimana caranya menghadapi teman yang sedang marah, teman yang sedang sedih, maupun teman yang sedang kesal. Dengan komunikasi yang baik juga menghindarkan anak-anak dari konflik yang berkepanjangan.

7. Fokus/konsentrasi dan Imajinasi

Kemampuan fokus atau konsentrasi dibutuhkan anak-anak dalam bergaul dengan teman-temannya. Kemampuan sosialisasi juga membutuhkan daya kreatif dalam berimajinasi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Semakin bagus daya konsentrasi anak-anak, semakin kreatif si anak, akan semakin luwes ia bergaul.

8. Empati

Ini yang sering membuat miris. Generasi yang semakin dekat dengan dunia digital terasa semakin menurun rasa empatinya. Mereka yang terbiasa fokus dengan dirinya sendiri, membuat mereka menjadi anak yang krisis empati. Didik si kecil agar mampu memahami yang dirasakan orang lain. Dengan kemampuan memahami perasaan orang lain, anak-anak akan mampu berempati.

Naaaahhh… itulah tips-tips yang dibagi saat acara Parenting Seminar SGM EKSPLOR kemarin. Acara yang menghadirkan Anna Surti Ariani S.Psi M.Psi Psikolog sebagai salah satu narasumber ini berlangsung meriah dengan banyak orang tua yang antusias bertanya tentang tumbuh kembang si kecil. Parenting seminar yang diberi tema “Peran Orang Tua Dalam Mengembangkan Keterampilan Sosial Anak Generasi Maju” ini juga memberikan edukasi yang lengkap untuk mendidik anak-anak menjadi generasi maju yang cerdas bersosialisasi. Orang tua pun nampak antusias mengacungkan tangan dan bertanya dalam sesi tanya jawab.

Dari penuturan Astrid Prasetyo, Marketing Manager SGM Eksplor, seminar parenting ini diadakan sebagai wujud dukungan SGM Eksplor bagi orang tua untuk membentuk masa depan anak lebih baik. Dengan adanya seminar parenting yang diadakan di berbagai kota tersebut, diharapkan anak-anak bukan hanya sekedar mendapatkan nutrisi terbaik, namun juga memperolah pola asuh yang tepat. Dari seminar parenting tersebut diharapkan orang tua dapat mendampingi putra-putrinya  tumbuh dan berkembang menjadi generasi yang maju, yaitu generasi yang memiliki kemampuan sosialisasi yang baik, kreatif dan mandiri.

Acara yang dipandu MC cantik Cici Panda berlangsung dari jam 9 pagi hingga pukul 12 siang. Orang tua pulang dengan perasaan kenyang. Bukan hanya kenyang di perut oleh hidangan yang berlimpah, namun juga kenyang di otak dengan ilmu baru yang bermanfaat.

Festival Ngidam SGM Bunda: Karena Ibu Hamil Wajib Bahagia

FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA: Karena Ibu Hamil Wajib Bahagia

Hal paling menyenangkan ketika hamil adalah masa-masa semua perhatian keluarga tertuju pada kita. Terlebih ketika kami memperoleh kabar kalau janin yang saya kandung kembar. Maka semua perhatian seperti tertuju pada cucu kembar yang akan lahir. Apapun yang menjadi keluhan saya, keinginan saya memperoleh perhatian penuh dari suami dan mertua. Jika biasanya saya terlambat pulang dari kantor tidak ada yang bingung karena sudah terbiasa lembur di kantor, sejak hamil saya pulang telat 5 menit saja, telepon saya tak berhenti bordering. Makanan apapun yang saya inginkan, suami akan berusaha untuk membelikannya. Pernah saya ingin makan Pizza dikala uang di dompet sangat tiris. Suami pun rela tak makan demi membelikan Pizza untuk istrinya yang sedang hamil.

Istimewa ya?

             Baca Juga : Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan

Masa-masa kehamilan layak untuk dirayakan. Masa-masa kehamilan layak untuk dinikmati dengan penuh rasa bahagia. Konon katanya, apapun yang dirasakan seorang ibu hamil, akan dirasakan pula oleh janin yang sedang dikandungnya. Karena itu sangat disayangkan jika sepanjang kehamilan ibu hamil terus merasa sedih dan tertekan. Ibu hamil wajib bahagia! Ibu hamil wajib merasakan dimanja. Demi lahirnya generasi-generasi yang bahagia juga. Iya kan? Iya dooong!

Nah! Karena alasan itulah SGM Bunda merayakan kehamilan setiap perempuan di Indonesia dengan mengadakan event FESTIVAL NGIDAM. Festival ini adalah festival pertama yang pernah diselenggarakan di Indonesia. Bertempat di Royal Plaza pada 5 dan 6 Agustus 2017 lalu, SGM BUNDA benar-benar memanjakan ibu hamil dan ibu menyusui dengan berbagai macam kegiatan. Hari itu atrium utama Royal Plaza dipenuhi ibu hamil dan menyusui yang berkeliling dari satu booth ke booth yang lain.

FESTIVAL NGIDAM dibuka dengan rangkaian edukasi dan testimoni yang menghadirkan dr. Muhammad Ardian C.L, SpOG, M.kes yang menjelaskan tentang “ngidam” yang biasanya dirasakan pada ibu hamil. Perubahan hormon yang terjadi selama masa kehamilan membuat ibu hamil menjadi sensitive terhadap rasa dan bau tertentu. Rasa inilah yang sering diterjemahkan sebagai “ngidam”. Yang perlu diwaspadai adalah rasa mual yang sering muncul selama masa perubahan hormone. Akibat rasa mual ini biasanya asupan nutrisi pada ibu hamil menjadi bekurang. Karena itu penting untuk menjaga asupan makanan sehat pada ibu hamil untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pada janin yang dikandungnya.

Lebih lanjut dr. Ardian menuturkan bahwa dukungan dari lingkungan sekitar dan anggota keluarga sangat dibutuhkan oleh ibu hamil. Support dapat diberikan dengan mengontrol dan memastikan kecukupan gizi dan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu hamil. Karena itu jangan sakit hati yang ketika orang tua atau mertua kita jadi lebih bawel ketika hamil. Semua itu mereka lakukan agar cucu mereka dapat lahir dengan sehat, dan menantunya pun bisa terus mendampingi pertumbuhannya. Begituuuu…

Christina Natalia, Marketing Manager SGM Bunda menuturkan bahwa FESTIVAL NGIDAM SGM Bunda hadir untuk memberikan aktivitas yang seru pada ibu hamil sekaligus memberikan edukasi nutrisi yang dibutuhkan. Pemahaman terkait nutrisi ini penting untuk pemenuhan gizi seimbang pada ibu hamil dan janin yang dikandungnya, terutama selama masa 1000 hari pertama kehidupan. Susu sebagai salah satu komponen yang mengandung gizi tinggi menjadi salah satu sumber makanan yang dapat dikonsumsi ibu hamil. Namun seringnya ibu hamil yang sedang mengalami masa mual biasanya jauh lebih sensitive. Karena itu penting untuk memberikan susu kehamilan yang memiliki rasa lebih segar namun tidak eneg dan mudah diterima ibu hamil. Dengan begitu pemenuhan zat gizi mikro dapat terus diberikan pada ibu hamil.

Di acara FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA ini juga menghadirkan bintang tamu ayah ganteng DUDE HERLINO dan band favorit para bunda YOVIE & THE NUNO. Buat yang sedang ngidam ketemu artis, bisa puas banget memandang wajah mereka dari dekat. Alyssa Subandono yang dijadwalkan hadir, ternyata harus menunda kehadirannya karena baru saja melahirkan buah hatinya. Selamat ya untuk bunda Icha dan Ayah Dude!

Ada apa aja sih di booth-booth FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA?

Area booth dibagi menjadi beberapa bagian, diantaranya Booth Konsultasi, Booth NGIDAM JAJAN, Booth NGIDAM DIMANJA, dan Photo Booth.

Booth Ngidam Jajan dipenuhi oleh berbagai macam jajanan dari pusat-pusat kuliner ternama di Surabaya yang mungkin jauh dari rumah untuk dijangkau. Sebut saja salah satunya es potong NJONJA yang rasanya sangat khas di lidah. Banyak lagi booth-booth jajanan yang bisa ditemui dengan mudah di FESTIVAL NGIDAM kali ini.

Booth Dimanja benar-benar membuat wanita hamil merasakan indahnya dimanja. Treatment yang diberikan membuat saya yang saat itu sedang tidak hamil saja jadi merasa rileks dan segar kembali. Ada booth pijat relaksasi, manicure pedicure, hingga booth make up. Lengkap!

 

Sudah kenyang, sudah cantik, mari kita abadikan di photo booth! Puas kan?

Belum? Keseruan masih berlanjut di hari kedua dengan banyak kegiatan. Mulai dari membuat resep sehat yang bisa dikonsumsi ibu hamil, fashion show ibu hamil, hingga senam hamil untuk menjaga ibu hamil tetap fit dan energik selama menjalani aktivitasnya.

Buat yang ada di kota lain, sabar dan berdoa ya. Semoga FESTIVAL NGIDAM SGM BUNDA bisa juga mampir ke kota kalian. Bocoran informasinya sih bulan depan bakal hadir di BEKASI. Horeee… Tunggu tanggal mainnya ya bunda! Selamat merayakan kebahagiaan!

Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan

Biaya-Biaya Yang Dibutuhkan Selama Masa Kehamilan Hingga Setelah Melahirkan – Untuk mendapatkan anak cerdas dan sehat itu perlu persiapan. Bukan hanya persiapan fisik, persiapan ilmu, namun juga persiapan finansial. Buat para calon ayah mungkin yang ada dipikiran ketika mengetahui istrinya hami adalah memikirkan biaya persalinan. Padahal selama masa kehamilan dan setelah melahirkan ada biaya-biaya yang harus disiapkan juga. Seorang suami siaga itu bukan hanya ada di samping istri ketika menjelang persalinan saja, tetapi juga menjadi suami yang harus siaga secara finansial.

Berikut beberapa biaya-biaya yang harus dipertimbangkan para calon orang tua:

MASA KEHAMILAN

Selama masa kehamilan dibutuhkan biaya-biaya yang kadang tak terpikirkan oleh para calon orang tua, namun ternyata wajib dikeluarkan juga. Setelah testpack menunjukkan dua garis merah, calon ayah dan ibu bisa mempersiapkan biaya-biaya sebagai berikut:

  • Biaya Kontrol Rutin

Seorang ibu hamil wajib melakukan kontrol secara rutin ke tenaga medis terdekat untuk memantau kondisi kesehatan ibu dan calon buah hatinya. Selain itu selama melakukan kontrol calon ibu dapat berkonsultasi dengan tenaga medis tentang banyak hal mengenai kehamilan dan persalinan. Ketika kontrol rutin, ibu hamil juga akan dibekali beberapa macam vitamin yang harus dikonsumsi untuk menjaga asupan nutrisi sehat selama masa kehamilan. Kontrol rutin tidak harus dilakukan ke dokter di rumah sakit, namun juga bisa dilakukan ke bidan atau puskesmas terdekat. Semua bisa disesuaikan dengan budget biaya yang dimiliki setiap pasangan.

  • Biaya USG

Sesekali lakukan kontrol USG untuk melihat kondisi janin dalam keadaan sehat dan prima. Dengan melakukan USG bidan atau dokter dapat melihat kondisi janin dan memberitahukannya kepada orang tua. Beberapa dokter atau bidan tidak memasukkan biaya USG kedalam biaya kontrol rutin. Namun USG dapat diberikan jika orang tua berkenan atau meminta. Jika dana tidak memungkinkan, orang tua dapat melakukan USG hanya pada saat-saat tertentu sesuai saran petugas medis. Namun bagaimanapun juga, Biaya USG musti dipersiapkan.

  • Biaya Vitamin Tambahan

Untuk mendapatkan anak cerdas dan sehat, dibutuhkan kecukupan nutrisi sehat selama masa kehamilan. Untuk menjaga angka kecukupan nutrisi pada ibu hamil, petugas kesehatan biasanya memberikan resep yang berisi vitamin yang harus dikonsumsi ibu hamil. Vitamin tersebut bisa berupa zat besi, asam folat, kalsium atau vitamin yang lain. Karena kebutuhan vitamin pada ibu hamil berbeda, maka pastikan asupan nutrisi sehat selalu aman terpenuhi dengan menyisihkan sebagian uang untuk keperluan tersebut.

  • Biaya Tasyakuran

Sepertinya sudah jamak terjadi pada banyak keluarga untuk mengadakan pesta tasyakuran sebagai wujud rasa bahagia atas rejeki kehamilan yang di dapat. Bentuk tasyakuran bisa bermacam-macam tergantung agama dan adat istiadat setempat. Tasyakuran bisa berupa mengadakan pengajian, mengundang tetangga sekitar rumah, mengadakan kebaktian, baby shower, acara adat seperti mitoni, ataupun adat-adat yang lain. Karena pasti dibutuhkan biaya yang tidak sedikit, tidak perlu malu atau menuruti gengsi. Diskusikan dengan keluarga besar yang bisa dimintai bantuan untuk mengurus acara tasyakuran. Sesuaikan budget tasyakuran dengan dana yang dimiliki.

  • Membeli Kebutuhan Bayi

Setelah kehamilan mulai menginjak trisemester terakhir, para calon orang tua biasanya akan mempersiapkan kebutuhan bayi yang akan dilahirkan. Mulai dari popok, baju bayi, bedong, peralatan mandi, hingga berbagai macam perintilan keperluan bayi. Untuk baju, popok maupun bedong sebaiknya tidak perlu terlalu banyak, mengingat baju bayi baru lahir hanya dipakai untuk beberapa bulan saja. Pada umumnya pertumbuhan fisik bayi akan meningkat dengan cepat. Karena itu sesuaikan dengan kebutuhan dan menjaga agar tidak mudah lapar mata. Untuk menghindari over budget, ayah atau ibu bisa mencari testimoni yang terdapat pada banyak website parenting mengenai keperluan bayi. Apakah bisa langsung dibeli atau bisa dicoba untuk sewa. Misalkan soal stroller dan tempat tidur bayi. Tidak semua bayi mau tidur sendiri di box bayi, dan tidak semua bayi bisa menikmati di dorong menggunakan stroller. Beberapa bayi lebih suka  digendong dan didekap ibunya. Sesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan masing-masing keluarga.

MASA PERSALINAN

Memasuki masa persalinan, banyak ibu yang sudah mulai merasa mudah lelah, sesak nafas, sulit tidur dan aneka keluhan tambahan. Para suami juga mulai merasa harap-harap cemas menanti kelahiran sang buah hati dan menyediakan diri menjadi tenaga ekstra untuk tempat mengeluh istrinya dan memijit punggungnya. Di saat bersamaan, seorang suami juga musti siaga secara finansial.

Berikut beberapa biaya yang dibutuhkan selama masa persalinan

  • Biaya Persalinan

Pertimbangkan dan diskusikan dengan istri dan tenaga medis, akan menggunakan metode persalinan normal, atau Caesar. Diskusikan juga tempat persalinan dan cari tahu berapa perkiraan biaya lahir di tempat tersebut. Jangan lupa untuk memilih kelas biaya persalinan sesuai kemampuan. Tanyakan apakah biaya dapat dibantu menggunakan asuransi. Dan cari tahu dengan detil biaya-biaya apa saja yang bisa ditutup menggunakan asuransi.

  • Dana Darurat

Persiapkan dana tambahan yang dibutuhkan jika terjadi hal-hal darurat yang tidak dapat tertutupi dengan asuransi. Selama mas persalinan, semua kemungkinan bisa saja terjadi baik pada ibu maupun bayinya. Setidaknya anda tahu harus menyiapkan jauh sebelum hari persalinan tiba.

PASCA PERSALINAN

Setelah persalinan, ibu dan bayi siap pulang ke rumah, akan ada dana tambahan yang dibutuhkan lagi. Tidak perlu berkecil hati, karena jika semua dipersiapkan sedini mungkin, maka tidak akan menganggu pos dana sehari-hari

Berikut beberapa biaya yang dibutuhkan setelah persalinan:

  • Biaya Imunisasi

Setelah bayi lahir wajib di imunisasi untuk memberikan kekebalan pada tubuh bayi terhadap jenis-jenis penyakit tertentu. Imunisasi tersedia mulai dari yang diwajibkan pemerintah, hingga imunisasi tambahan sesuai permintaan orang tua. Jika imunisasi dilakukan di posyandu, maka biaya imunisasi bisa dihilangkan, karena untuk imunisasi wajib, pemerintah memberikan secara gratis. Namun jika memutuskan untuk melakukan imunisasi di klinik dokter, maka cari tahu berapa perkiraan biayanya. Masing-masing imunisasi memiliki harga yang berbeda-beda.

  • Biaya Kontrol Bayi Rutin

Setelah melahirkan hingga 1-2 tahun ke depan, ada baiknya orang tua melakukan kontrol secara rutin untuk memantau tumbuh kembang buah hatinya. Apakah tumbuh kembangnya sudah sesuai usianya atau belum, bisa dilihat dan dipastikan oleh dokter atau tenaga medis terdekat. Apabila ada kejanggalan atau keanehan yang ditemui, bisa dilakukan tindakan sedini mungkin oleh petugas kesehatan. Selama masa kontrol tersebut, ayah atau ibu bisa juga berkonsultasi mengenai kesehatan buah hatinya. Tentukan tempat kontrol rutin dan sesuaikan dengan dana yang dimiliki.

  • Biaya Kontrol Ibu

Setelah melahirkan, selain bayi, ibu juga wajib kontrol selama minimal 3 bulan untuk memastikan kesehatan organ reproduksinya. Persiapkan dana tambahan untuk melakukan kontrol agar kesehatan ibu melahirkan dapat terus terjaga. Dengan melakukan kontrol rutin, ibu juga dapat berkonsultasi mengenai menyusui dan perawatan pasca persalinan. Jadi tidak ada ruginya menyiapkan dana untuk kontrol ruti ibu melahirkan.

Total dana yang dibutuhkan dari semua proses diatas akan berbeda satu sama lain bergantung banyak fakor. Namun begitu, usahakan untuk terus melakukan kontrol keuangan agar tidak over budget dan berkesan memaksakan diri. Sesuaikan semua kebutuhan dengan kemampuan finansial yang dimiliki. Tidak perlu mengandalkan gengsi atau malu.

Persiapan semua dana di atas akan lebih mudah jika menggunakan tabungan yang mudah diambil sewaktu-waktu. Cari bank yang memiliki banyak jaringan ATM untuk mempermudah proses pengambilan jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Jangan menggunakan instrument penyimpanan yang sulit proses pengambilannya seperti Deposito yang biasanya hanya bisa diambil setelah jangka waktu tertentu. Cukup menggunakan tabungan konvensional yang tidak ribet ketika sewaktu-waktu dana dibutuhkan.

Bank yang memiliki jaringan ATM luas bisa menjadi pilihan para calon orang tua mempersiapkan dana kehamilan dan persalinan. Bank merupakan tempat yang aman untuk menyimpan uang karena dilindungi oleh LPS atau Lembaga Penjamin Simpanan yang menjamin simpanan nasabah hingga 2 Milyar. Dengan adanya LPS, maka uang nasabah akan aman dari banyak kemungkinan buruk terjadi. Dengan menyimpan di bank, nasabah tidak perlu khawatir dana akan dibawa kabur atau dicuri. Apabila ada pada keadaan yang menyebabkan bank harus ditutup, LPS akan mengganti uang simpananan nasabah tanpa berkurang sepeser pun.

Selain belajar tentang kehamilan, persalinan dan perawatan bayi baru lahir, ada baiknya jika orang tua juga belajar tentang mengatur keuangan. Karena setelah memiliki anak, maka akan ada banyak biaya-biaya tambahan yang harus dipertimbangkan. Karena itu menjadi cerdas finansial sama pentingnya dengan belajar tentang tumbuh kembang bayi.

Selamat mempersiapkan kedatangan buah hati!

Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

BELAJAR BAHASA INGGRIS SEJAK DINI, DEMI GENGSI ATAU KEBUTUHAN?

Siapa yang sekarang masih menganggap anak kecil ngomong pakai Bahasa Inggris itu hanya sebagai gaya-gayaan saja? Siapa yang masih berpikir bahwa bisa cas cis cus Bahasa Inggris itu cuma untuk pamer gengsi strata sosial saja?

Aduuuhh.. lebih baik hapus deh stereotype seperti itu. Itu sudah gak jaman lagi. Sekarang jaman sudah makin maju. Globalisasi berkembang di segala bidang. Era pasar bebas sudah di mulai. Jangankan generasi muda, pedagang kain di pasar pun sekarang musti bisa berbahasa Inggris. Untuk apa? Ya untuk bersaing dengan pasar dari luar negeri dooong. Sekarang jual mie ayam saja bisa online hingga ke Negara tetangga. Masa sih masih mau mager begitu-begitu aja? Ayo sekarang saatnya mengembangkan sayap lebih lebar.

Naah… karena kebutuhan bahasa yang semakin meningkat inilah, sekarang anak kecil sudah wajib belajar Bahasa Inggris. Anak TK saja sekarang sudah diajari cas cis cus berbahasa Inggris. Bukan hanya di sekolah elit lhoo.. bahkan sekolah TK di pelosok desa sekalipun pengenalan bahasa Inggris ini sudah ada. Jangankan di sekolah, games anak-anak di gadget pun sekarang menggunakan bahasa Inggris semua kan? Pernah merasa heran gak sih kenapa anak bisa mengikuti instruksinya? Ternyata cara kerja otak anak itu amazing luar biasa lhooo…

Roslina Verauli, S.Psi, M.Psi, Psikolog yang menjadi narasumber dalam EF Talkshow, menuturkan bahwa kemampuan otak anak dalam belajar bahasa itu memiliki masa golden moment, yaitu antara usia 0 hingga 6 tahun, dan mengalami puncak tertinggi ketika anak berusia 1 tahun. Terjawab kan kenapa anak rajin bergumam ketika usia 1 tahun’an. Itu karena otaknya bekerja menirukan bunyi-bunyian yang di dengarnya dan menangkap maknanya. Jadi kalau kamu mendengar ada yang bilang anak yang belajar lebih dari 1 bahasa itu bisa bikin terlambat bicara, ternyata itu sebatas mitos belaka. Karena terlambat bicara atau speech delay itu dipengaruhi banyak faktor.

Memangnya anak usia 0 tahun sudah bisa menangkap apa yang kita bicarakan? Jangankan yang sudah lahir, anak yang masih dalam kandungan dan sudah memiliki indera lengkap saja, sudah bisa menerima stimulasi. Ketika di dalam rahim, janin menggunakan indera pendengerannya untuk menerima rangsangan dari luar. Ketika anak sering diperdengarkan murotal bacaan Al-Quran sejak dalam rahim, maka otak anak menyimpan memori tentang bunyi bahasa yang pernah ia dengar sejak di dalam kandungan. Demikian juga dalam berbahasa Inggris. Meskipun baru lahir tetapi diberi stimulasi dengan lagu-lagu berbahasa Inggris, maka otaknya terbiasa mendengar bunyi bahasa tersebut.

Mau anak pinter bahasa Inggris itu sebenarnya gak ribet kok. Kuncinya hanya STIMULASI. Stimulasi seperti apa sih yang bisa kita berikan?

  1. Merespon bunyi-bunyi dari bayi dengan kata. Ketika bayi memegang boneka pisang, misalnya, maka kita bisa meresponnya dengan mengatakan “Banana”. Si bayi akan merekam dalam otaknya bahwa benda kuning berbentuk panjang itu “Banana”. Gampang tho?
  2. Memberi perhatian dan komentar pada apa yang anak lihat. Ketika anak sudah mulai menirukan dengan menyebut kata “Banana”, kita bisa memberikan komentar lanjutan, seperti “Do you want some banana?” atau bisa juga dengan menanyakan “are you hungry? Do you want some banana?”. Ini membantu anak untuk mengeksplorasi kata lewat apa yang ia rasakan.
  3. Bermain social games. Stimulasi bahasa bisa juga dilakukan dengan mengajak anak bermain social games. Karena pada dasarnya anak-anak itu dunianya bermain, maka permainan menjadi stimulasi yang pas. Peraturan dan tata tertib permainan bisa dijelaskan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sehingga anak terbiasa mendengar dan berbicara dengan bahasa Inggris dalam suasana yang menyenangkan
  4. Melibatkan anak dalam bermain pura-pura. Siapa sih yang gak senang bermain dengan imajinasi? Anak-anak pasti senang berpura-pura menjadi tokoh favorite super heronya. Bermain pura-pura juga bisa menjadi ajang stimulasi berbahasa yang seru lhoo..
  5. Melibatkan anak dalam percakapan sehari-hari. Nah, stimulasi yang intens dan berkelanjutan inilah yang paling bagus dan cepat dalam perkembangan bahasa anak. Dengan menggunakan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari, maka penyerapan bahasa semakin mudah. Tentu saja anak juga jadi tidak merasa terpaksa belajar.

Naah… semua stimulasi di atas bisa dilakukan selama orang tua juga menguasai bahasa itu sendiri. Jika orang tua tidak menguasai bahasanya, tentu saja pemberian stimulasi jadi tidak maksimal. Bagaimana bisa mendapatkan hasil yang maksimal dengan kondisi dan keterbatasan orang tua? Seperti kita tahu, sebagai orang tua keterbatasan kadang bukan hanya pada kemampuan, tetapi juga soal waktu. Dengan segala keterbatasan kita sebagai orang tua, bisakah kita memberikan stimulasi bahasa yang maksimal? Bisa sangat bisa.

                    Baca Juga: Menyiapkan Dana Pendidikan Untuk Anak

Jika orang tua sibuk, atau memiliki keterbatasan dalam memberikan stimulasi berbahasa, anak masih bisa mendapatkan stimulasi yang maksimal dengan memanfaatkan peran lingkungan sekitar dan support sistem yang mumpuni. Jika tinggal dengan saudara ipar yang segambreng dan berjiwa muda, bisa banget dimanfaatkan untuk membantu anak-anak mendapatkan stimulasi bahasa yang maksimal. Kali aja tinggal bareng 3 saudara ipar yang memiliki kemampuan berbahasa asing berbeda-beda, wuaah kece banget deh pastinya. Lalu bagaimana jika lingkungan tempat tinggal pun juga tidak mendukung?

Ya udah masukkan saja ke EF English First!

Kata Darius Sinathrya dan Donna Agnesia, itulah yang mereka lakukan ke anak-anak mereka sejak kecil. Padahal mereka belum sekolah, kenapa kok dimasukkan untuk ikut les Bahasa Inggris? Karena sebenarnya les itu bukan untuk memperbaiki nilai yang jelek. Les itu untuk menunjang kesukaan dan kebutuhan anak. Les itu harus menyenangkan. Les itu harus seru. Dan anak seharusnya menikmati waktu lesnya.

Darius dan Donna memutuskan untuk memasukkan anak-anak mereka ke EF English First bukan untuk Gengsi. Catat ya! Bukan untuk Gengsi, anak artis harus bisa cas cis cus Bahasa Inggris. Bukan! Darius dan Donna memasukkan anak-anak mereka ke EF karena kebutuhan berbahasa Inggris yang makin tinggi. Di EF anak-anak bisa mendapat stimulasi dengan benar dan maksimal, tetapi anak-anak bisa tetap senang melakukannya. Terbukti anak-anak Darius dan Donna hafal sekali kapan waktunya ke EF. Dan ketika mereka harus belajar di EF, mereka tidak mau diajak menghadiri acara yang lain, karena datang ke EF lebih menyenangkan. Naah… Kalau stimulasinya seperti itu, pasti anak-anak senang. Hasilnya pun juga bisa maksimal.

Sebagai penyedia jasa kursus bahasa Inggris, EF English First bisa menjadi pilihan bagi orang tua yang ingin mendidik anak menjadi generasi yang multilingual. Kita tahu dengan segala kesibukan dan keterbatasan kita, tidak bisa menutup kemungkinan kita pun kadang membutuhkan support sistem dalam membantu mendidik anak-anak. Dengan memiliki kemampuan lebih dalam berbahasa, tentu akan meningkatkan rasa percaya diri anak-anak.

Berdasarkan penelitian, anak yang memiliki keterampilan multilingual memiliki IQ lebih tinggi. Sehingga anak juga memiliki kecerdasan sosiokultural yang lebih dibandingkan teman seusianya. Karena anak multilingual akan memiliki kemampuan memetakan penalaran dan flesibilitas dalam berpikir, maka biasanya anak tersebut bisa tumbuh menjadi pribadi yang mampu bersaing dengan sesamanya. Ternyata mendidik anak multilingual itu punya banyak manfaat yaa… Bukan sekedar demi gengsi.

Ketika Si Kembar Belajar Puasa

KETIKA SI KEMBAR BELAJAR PUASA – Satu Ramadhan kembali berlalu. Setiap orang, setiap keluarga tentu menyimpan kenangan tentang Ramadhannya masing-masing. Termasuk keluarga kami. Tahun ini adalah tahun kedua bocah kembar kami belajar puasa. Mungkin buat sebagian orang kisah kami biasa-biasa saja. Banyak yang menjalani hal serupa, bahkan jauh lebih baik. Namun cerita ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Ini hanya cerita orang tua tentang perjalanan anak-anaknya.

Kami tidak pernah memaksakan atau memiliki target bocah kami harus sudah puasa penuh umur sekian. Kami menjalani dan mengajarinya dengan penuh suka cita, tidak ada paksaan, atau iming-iming segala macam. Kami percaya bahwa ibadah adalah tentang perjalanan spiritual masing-masing individu. Tidak bisa dipaksakan apalagi dicampuri.

Kira dan Kara mengenal puasa jauh sebelum mereka benar-benar ikut berpuasa. Sejak umur 2-3 tahun’an, mereka sering terbangun ketika kami sedang bersantap sahur bersama. Karena tinggal dengan mertua, maka hampir setiap santap sahur rumah kami riuh rendah dan meriah oleh celoteh anggota keluarga. Maklum serumah isinya orang banyak yang senang ngobrol dan diskusi bahkan bergosip. Karena itu suasana sahur di rumah kami selalu meriah. Ditambah lagi suara TV yang selalu menyala setiap kali papa bangun tidur, menambah kemeriahan suasana sahur di rumah kami.

Rupanya kemeriahan itulah yang sering mengundang Kira dan Kara untuk ikut bangun dan “makan” sahur. Dulu ketika terbangun mereka akan ikut makan apa saja yang buat mereka menyenangkan. Mulai dari susu, kue, roti atau apa saja yang tersaji di meja kecil di depan TV. Dan semua itu mereka lakukan karena rasa penasaran, dengan sukarela, tanpa dipaksa. Mungkin mereka menganggap makan bareng di pagi buta bersama-sama itu sama menyenangkannya, hingga rasa kantuk pun terkalahkan oleh rasa penasaran. Selesai santap sahur dan sholat shubuh mereka pun kembali terlelap.

Dalam perjalanannya mereka lalu bertanya, kenapa ayah, bunda, uti, akung, dan om selalu makan ketika masih gelap? Saat itulah kami mengenalkan tentang makan sahur dan apa itu puasa. Maka sejak itu mereka penasaran seperti apa rasanya puasa, dan beberapa kali minta untuk ikut puasa. Saya menjanjikan tahun depan, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun mereka boleh ikut berpuasa. Bukan karena apa, tapi karena berat badan mereka yang selalu bikin dag dig dug. Mungkin berat badan Kira tak terlalu mengkhawatirkan, namun berat badan Kara selalu mengundang rasa tak tega jika mengijinkannya untuk berpuasa. Bisa bayangkan, disaat sekarang umurnya genap 7 tahun, berat badannya tak lebih dari 14 kg. Bukan, bukan karena ia kurang gizi, tapi karena dia termasuk tipe slow growth. Seluruh tumbuh kembangnya normal, hanya berat badannya saja susah naiknya. Tak usah tanya kenapa, cukup tengok saja siapa ibunya.

Mengijinkan Kira dan Kara berpuasa dan mengajarkan mereka untuk menahan rasa lapar dan haus sebenarnya bukan hal yang susah bagi kami. Kenapa? Karena memang sangat jarang mereka mengeluh lapar di kesehariannya. Bahkan lebih banyak diingatkan ketika waktunya makan tiba, dibandingkan mereka mengeluh lapar terlebih dahulu. Malah terkadang saya sengaja tidak masak apapun sampai mereka sendiri minta makan. Tega? Ya antara tega dan gak tega. Cuma penasaran saja, sebenarnya mereka ini punya rasa lapar atau tidak..  ^_^

Sesuai janji saya tahun sebelumnya, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun, saya ijinkan mereka untuk ikut berpuasa. Karena masih belajar, seperti kebanyakan anak-anak yang lain mereka masih berpuasa setengah hari. Itu berarti sehari mereka masih makan 3 kali. Bedanya hanya mengatur jam makannya dan jam cemilannya. Tengah hari ketika adzan Dhuhur mereka boleh makan berat dan cemilan sekaligus. Setelah itu kembali berpuasa hingga waktu adzan Maghrib tiba. Tak dinyana ternyata mereka sangat konsisten menjalankan puasa pertamanya. Kami hampir tak mengalami kendala berarti mengajarkan mereka berpuasa. Mulai dari bangun sahur, mengajarkan kapan boleh makan dan kapan harus berhenti, semua dijalani dengan keikhlasan dan kesadaran. Bahkan bisa dibilang mereka jauh lebih konsisten dari saya sendiri. Padahal ketika tahun pertama belajar puasa, kita sedang mudik di rumah ibu di Ngawi. Ketika menempuh perjalanan pulang dari Ngawi ke Surabaya saya sudah berpikiran jika mereka haus di jalan, saya akan mengijinkan mereka untuk membatalkan puasanya. Ternyataa mereka konsisten dan menunggu saat benar-benar waktu berbuka tiba. Jadi tahun pertama puasa dijalankan dengan sukses oleh mereka. Alhamdulillah.

Menginjak tahun kedua, kami masih belum memaksa atau meminta untuk puasa satu hari penuh. Lagi-lagi selain karena pertimbangan berat badan, kami ingin mereka menjalani ibadah karena keinginan sendiri. Menjalankan puasa penuh dengan keinginan sendiri tentu akan lebih mengurangi rewel dan bosan menunggu waktu berbuka tiba. Jadi kami bebaskan mereka untuk puasa sesuai kemampuan mereka. Namanya belajar tentu ditakar sesuai kemampuan sendiri. Bukankah mampu bukan hanya bisa menahan rasa lapar dan haus, tapi juga mampu mengatasi emosi dan mengontrol nafsu diri sendiri. Namun di tahun ini Kira dan Kara sudah tahu kapan waktu berbuka yang sesungguhnya. Sehingga mereka tahu dan punya motivasi untuk bisa terus belajar puasa satu hari penuh.

Seperti harapan kami, pelan-pelan mereka meminta untuk belajar mengupgrade kemampuan sendiri. Di hari kesekian puasa, tiba-tiba Kira minta untuk berbuka ketika adzan Ashar. Dia tidak keberatan meski Kara tetap berbuka ketika adzan Dhuhur. Bukankah kemampuan tiap orang berbeda-beda? Kami ijinkan mereka berbuka diwaktu yang berbeda. Tanpa rewel, tanpa paksaan dan tanpa iming-iming apapun. Kira yang awalnya adzan Ashar makan penuh, lalu minta berbuka Ashar hanya minum dan makan 1 cemilan saja. Lalu dilanjut keesokan harinya minta mencoba puasa satu hari penuh. Alhamdulillah, Kira sukses menjalaninya.

Melihat Kira bisa puasa satu hari penuh, bisa diduga Kara pun penasaran. Diikutilah jejak saudara kembarnya untuk mencoba puasa sampai adzan Ashar, dilanjut keesokan harinya puasa penuh. Alhamdulillah sukses. Tapi karena dasarnya rasa penasaran dan tak ingin kalah, maka untuk Kara masih diselingi pertanyaan sehari 1000x apa adzan Maghrib masih lama. Ternyata belajar pun banyak caranya dan berbeda-beda. Ayo nduk, kita belajar tentang kesadaran diri sendiri dan mengekang keinginan sendiri. Seperti kereta kuda, dibutuhkan tali kekang untuk mengendalikannya agar sampai di tujuan dengan aman dan selamat.

Jadi tahun ini mereka menjalankan puasa on-off antara setengah hari, ¾ hari, hingga puasa satu hari penuh. Insyaallah belajarnya meningkat ya nduk..

Sekali lagi ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Tapi ini tentang catatan sebuah perjalanan.  Selama masih mau untuk terus belajar, maka kalian semua hebaaat!

Kira, Kara Dan Katalog Belanja

katalog belanja

Kira, Kara dan Katalog Belanja – Dulu bocah kembar saya, Kira dan Kara mengenal katalog belanja sebagai etalase gambar. Mereka gembira ketika mampu menyebut nama-nama barang yang ada di dalamnya. “Bunda, lihat susunya ada gambar Elsa..”. Atau dengan sumringah mereka teriak “Bunda, ini Anggur, ini Apel, ini brokoli. Lihat bunda, ini Pisang yang sama biasanya dibelikan uti..” Dengan wajah ceria mereka merasa sudah tahu segalanya hanya dengan menyebutkan beberapa item yang terpampang di dalam katalog. Sungguh wajah yang polos dan penuh suka cita. Sebatas itulah arti katalog belanja bagi Kira dan Kara.

Kini, mereka sudah mulai belajar membaca. Kertas apa saja yang mereka jumpai dan menurut mereka menarik, maka akan mereka baca. Termasuk katalog belanja. Ndilalah, kemarin saya dapat katalog swalayan dekat rumah yang dibawa seorang teman yang datang berkunjung. Tante Nurul menunjukkan ada diskon susu yang biasanya kita beli. Setelah ngobrol ngalor ngidul tentang beberapa issue yang sedang hangat (aka. Ngerumpi), katalog itu saya tinggal di atas meja di teras rumah. Pagi ini, sebelum berangkat sekolah, sambil menunggu ayah selesai bersiap, Kira dan Kara membaca deretan huruf yang mencolok yang ada di katalog tersebut. Maka ketika mata mereka tertuju pada tulisan mencolok, kata “diskon” dan  “beli 2 gratis 1”, tak urung mereka pun bertanya. “Bunda, apa itu DISKON? Beli 2 gratis 1 itu gimana maksudnya?”

Continue reading Kira, Kara Dan Katalog Belanja

Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi

Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi – Kalau melihat mainan yang warnanya cerah dan meriah, anak-anak pasti suka yaa.. Apalagi bermain air yang warna-warni?! Wuah, dijamin betah. Ternyata kita bisa lho membuat air berwarna-warni tanpa warnanya tercampur satu sama lain. Memanfaatkan tingkat kekentalan gula, kita bisa menghadirkan warna pelangi di air. Seru ya?! Seperti apa caranya? Simak disini..

SUGAR DENSITY
Membuat Sugar Density

Continue reading Sugar Density: Membuat Air Berwarna Pelangi

Kids Whispering

Besok bunda mau berangkat ke Jogja untuk mengikuti acara momBassador SGM. Karena gak bisa bawa si kembar, maka Kira dan Kara stay di rumah sama uti dan ayah. Koordinasi sama uti dan ayah sudah beres. Tinggal berurusan sama si kembar yang belum pernah pisah sama bundanya sama sekali dalam jangka waktu lebih dari 24 jam. Maka whispering wajib dilakukan.

kids whisper

Kid Whispering ini salah satu cara untuk membuat anak-anak stay calm, tetep kalem ketika sesuatu di luar kebiasaan harus terjadi. Seperti harus mengajak mereka ke luar kota, ke tempat baru, menerima tamu baru, menghadiri acara baru, pokoknya semua hal diluar kebiasaan mereka sehari-hari. Termasuk ketika harus ditinggal dinas ayah/bunda nya.

Continue reading Kids Whispering