Bertemu Anak Kembar, Hindari Melakukan Hal Ini!

 

Apa yang anda rasakan ketika melihat anak kembar? Terlihat lucu dan kompak yaa… Namun tahukah anda, bahwa beberapa hal yang anda katakan bisa sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang si anak?

Hal tersebut sering kami alami. Sebagai ibu dari dua bocah kembar, saya sering merasa kewalahan menghadapi akibat dari celetukan atau asumsi orang lain yang melihat anak kembar. Memang sepertinya apa yang anda tanyakan atau katakan terlihat wajar. Namun, bagi anak kembar, hal tersebut bisa menjadi hal yang sensitif.

Berikut beberapa hal yang harus anda hindari ketika melihat anak kembar:

Membanding-bandingkan

Anak yang lahir sebagai kembar identik, memang terlihat sangat mirip. Bahkan sangat sulit untuk dibedakan. Apalagi bagi kita yang baru pertama kali bertemu atau sangat jarang bertemu. Namun begitu, satu hal yang harus kita sadari, bahwa semirip apapun, mereka tetap dua pribadi yang berbeda. Jadi sangat tidak bijak membandingkan keduanya. Bagaimanapun juga anak kembar pasti memiliki perbedaan.

Hal yang sama sering kami alami, ketika bertemu orang di jalan, atau saudara yang lama tidak bertemu. Berikut beberapa perkataan yang pernah kami temui:

“oh yang kakaknya lebih tinggi dan ternyata adiknya badannya lebih kurus ya?”

“Oh, adiknya lebih ceriwis daripada kakaknya..”

“Adiknya lebih pemalu dan jutek dibandingkan kakaknya. Kakaknya lebih ramah yaa…”

Jika memang anda ingin bertanya atau mengambil kesimpulan dari kedua bocah kembar, ucapkanlah perbedaan-perbedaan itu tidak dihadapan si anak. Jika memang ada anaknya, ucapkan hal-hal tanpa menjatuhkan yang lainnya. Misal:

“Oh yang ini matanya cantik, kalau yang ini rambutnya bagus…”

“Kakaknya yang pintar bercerita, Kalau adiknya yang senyumnya cantik…”

Dengan memberikan dua pujian yang sama-sama, tanpa menjatuhkan, maka si anak akan fokus pada hal indah dalam dirinya masing-masing tanpa merasa tersaingi.

         Baca Juga : Si Kembar Belajar Puasa

Sebagai orang tua dari anak kembar, sering sekali kami mendapat PR untuk membantu si anak mengembalikan rasa percaya dirinya setelah mendapat komentar perbandingan yang negatif dari orang-orang yang ditemuinya.

“Bunda, apa benar aku tidak secantik kakak? Kenapa badanku kurus, gak seperti kakak?”

“Bunda, kenapa aku tidak pandai bercerita seperti adik? Apa aku tidak sepintar adik?”

Hal-hal seperti itu kadang membuat kami harus banyak-banyak menambah stok sabar dan istighfar.

Memperuncing Persaingan Antar Saudara

Lahir sebagai anak kembar, maka mereka bukan hanya terlahir bersama teman, tapi bisa juga  terlahir bersama saingannya. Sejak di dalam rahim mereka bersaing memperoleh nutrisi dari satu ibu. Mereka tumbuh dengan bersaing memperoleh perhatian dari orang-orang di sekitarnya. Maka, hal yang seharusnya bisa mereka bagi menjadi hal yang mereka perebutkan. Mereka menjadi bersaing satu sama lain.

Pernah mendengar tentang “Sibling Rivalry?”

Jika orang tua dengan satu anak baru merasakan jungkir baliknya menghadapi anak bertengkar setelah anaknya punya adik baru, punya teman, atau setelah anaknya bersekolah, maka kami sudah menghadapi anak saling cakar dan saling gigit sejak mereka masih bayi. Berat? Iya pada awalnya setiap mereka bertengkar, hati kami hancur berantakan. Setiap melihat mereka saling pukul dan saling gigit, kami merasa menjadi orang tua yang gagal.

Kami butuh waktu dan tenaga untuk mengajarkan mereka berbagi dan bekerja sama. Kami jatuh bangun membangun rasa saling menjaga dan saling peduli. Karena kami percaya, mereka adalah sahabat yang bisa saling membantu dan berbagi. Tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin.

Setelah melewati fase saling baku hantam, lantas tiba-tiba ketika ada orang lain yang tiba-tiba berbicara:

“Kamu jangan sampai kalah ya sama saudaramu! Kamu harus lebih pintar! Kamu harus bisa menang!”

         Baca Juga: Si Kembar Masuk SD

Mendengar ucapan seperti itu, bukan hanya membuat merah telinga kami, namun kami bisa berubah menjadi monster yang paling menakutkan di depan anda. Apa hal tersebut pernah kami rasakan? Iya, Pernah! Karena itu kami mohon, jangan peruncing persaingan. Jikalaupun harus berlomba, biarkan mereka bersaing dengan orang lain, tapi tidak dengan saudaranya sendiri.

Memaksakan Harus Serba Sama

Jika anda menganggap bahwa anak kembar itu berarti semua harus sama, maka anda salah besar.

Anak yang lahir sebagai kembar identik, mungkin memiliki wajah yang sangat mirip. Namun mereka tetap dua orang yang berbeda. Mereka memiliki karakter masing-masing, yang terkadang karakternya berbeda 180 derajat. Mereka memiliki kesukaan dan selera masing-masing, yang terkadang tidak sama. Karena itu memaksa mereka memakai semua harus serba sama hanya agar kelihatan lucu, itu sangat tidak adil bagi mereka.

Ketika masih bayi, memilihkan semuanya serba sama mungkin tidak masalah. Banyak yang memilih semua serba sama demi kepraktisan. Membeli baju bayi 1 lusin sekaligus agar harganya lebih murah, memang lebih efisien. Namun hal tersebut tidak berlaku lagi jika mereka sudah mulai bisa memilih dan memiliki selera.

Kami mulai mengajarkan dua bocah kembar kami untuk memiliki selera masing-masing sejak masih kecil. Kami memberikan kebebasan bagi mereka untuk memilih apa yang mereka sukai, tanpa paksaan. Kami belajar menerima selera mereka meski kadang terasa aneh bagi kami. Selera si kakak yang cenderung lebih boyish dan selera si adik yang cenderung lebih girly membuat mereka memiliki karakternya masing-masing tanpa terpengaruh saudara kembarnya. Maka jika ada yang memaksakan mereka memakai baju yang harus sama persis ketika datang ke pesta, bisa menjadi siksaan tersendiri bagi mereka.

Jika anda bermaksud memberikan oleh-oleh untuk anak kembar, pelajari dulu sifat dan karakternya. Tanyakan pada orang tuanya apa kesukaan masing-masing anak. Jika anda tidak ingin hadiah anda menjadi sia-sia, bijaklah dalam memilih sesuai kepribadian anak.

Meminta Melakukan Hal Yang Sama Seperti Saudaranya

Setiap anak terlahir dengan talenta dan bakat masing-masing. Demikian juga dengan anak kembar. Meski memiliki wajah yang serupa, namun terkadang kemampuan, bakat dan minat mereka sangat berbeda. Karena itu jangan sesekali meminta mereka melakukan hal yang sama seperti saudara kembarnya.

“Kakakmu pintar mewarnai, kok mewarnaimu kayak gini!”

Atau

“Lihat kakakmu gak gampang nangis kayak kamu!”

Jika memang ingin memberi motivasi agar anak melakukan hal yang baik, hindarilah membanding-bandingkan dan memintanya melakukan hal yang sama dengan saudaranya. Dibandingkan dengan orang lain saja kita tidak mau, apalagi dibandingkan dengan saudara sendiri. Hal ini bisa membuat hal yang kurang menyenangkan dengan saudaranya.

Tidak semua anak kembar sama-sama terlahir dengan kemampuan yang setara. Satu anak bisa terlahir dengan kemampuan motorik yang menonjol dan anak yang lain terlahir dengan kemampuan bahasa yang menonjol. Tentu saja itu bukan hal yang salah atau keliru. Bukankah memang kemampuan setiap orang berbeda-beda?

Orang tua dari anak kembar terkadang memiliki beban untuk bisa menyesuaikan gaya belajar sesuai dengan kemampuan dan kepribadian masing-masing anak. Jadi sebaiknya jangan tambah beban orang tuanya dengan membanding-bandingkan dan meminta anak kembar melakukan hal yang sama. Karena anak kembar bukan robot yang bisa diprogram agar bisa melakukan gerakan yang sama persis.

Mari saling bertoleransi dan belajar berempati!

Berpetualang Ke Srambang Park

 

Tahun 2017 ini kami menghabiskan liburan ke rumah uti di Ngawi. Seperti biasanya, kalau sudah di Ngawi, Kira dan Kara bersama sepupu dan om-omnya akan sibuk membuat rencana petualangan. Desember ini kami memilih berpetualang ke Srambang Park.

Srambang awalnya terkenal dengan pesona air terjunnya. Air terjun Srambang terletak di Desa Girimulyo, Kecamatan Jogorogo, Kabupaten Ngawi. Jalan yang berkelok melewati hutan yang liar membuat pesona air terjun Srambang cukup cantik dan eksotik. Dulu Srambang sering menjadi jujugan para pemuda yang ingin berpetualang menjelajah alam atau berkemah. Karena letaknya yang sulit dijangkau, Srambang tak menarik perhatian untuk ajang wisata keluarga.

Namun kini Srambang telah bersolek. Sejak diresmikan pada tanggal 16 Desember 2017 oleh Bupati Ngawi , Srambang menjadi magnet bagi keluarga menghabiskan masa liburan sekolah. Jika dulu hanya ada pesona air terjun, kini pengunjung juga bisa menikmati taman hutan yang asri dan cantik. Jalan yang dulu terjal dan sulit dilalui kendaraan, kini sudah mulai di aspal dan rapi tertata batu. Setelah memasuki kawasan wisata, kita akan disuguhi pesona taman hutan yang penuh warna dan cantik.

Jika sebelumnya jalanan menuju air terjun hanya diselimuti hutan belantara dan panjangnya aliran sungai, kini jalanan menuju air terjun bersolek cantik oleh payung warna-warni. Bahkan di beberapa tempat juga terdapat pojok yang menawan untuk berswa foto. Pojok-pojok tersebut sengaja dibuat dan ditata untuk menarik perhatian pengunjung berswa foto. Payung warna warni yang bergantungan di tengah hutan menambah suasana Srambang Park makin meriah namun tak meninggalkan kesan eksotisnya.

Untuk menikmati taman hutan di area air  terjun Srambang, pengunjung akan dikenakan tiket masuk Rp.15.000/orang dewasa. Untuk anak-anak, gratis! Gemericik suara aliran sungai makin menawan dengan disediakannya taman di sekitar aliran. Lebatnya hutan masih menjadi pesona kesejukan Srambang Park yang tak tergantikan.

Jika ingin berkunjung ke Srambang Park bersama keluarga, berikut yang perlu anda siapkan:

Stamina yang prima. Dari area parkir hingga menuju lokasi air terjun harus berjalan kaki menempuh jarak 2-3 Km dengan medan yang naik turun. Namun tak perlu khawatir, aroma jagung bakar dan eksotisnya pemandangan, akan membuat anda lupa jarak yang harus ditempuh.

Bekal yang cukup. Meskipun terdapat beberapa warung makan, namun akan lebih nikmat jika membawa bekal sendiri. Utamanya bekal jajanan untuk anak-anak. Tak perlu berlebihan, mengingat jalanan yang harus ditempuh, lumayan jauh.

Pakaian ganti. Bermain di aliran sungai akan sangat menggoda bagi anak-anak. Karena itu jangan lupa siapkan baju ganti. Di luar area taman ada beberapa penjual kaos oleh-oleh. Siapa tahu bisa menjadi buah tangan untuk saudara di rumah.

Memori HP/kamera dan Powerbank. Taman Hutan Srambang menyediakan tempat-tempat yang keren untuk berswa foto. Jangan sampai kehabisan memori HP atau baterai hanya karena lupa mengosongkan isinya yaa…

Alas kaki yang nyaman dan kuat. Memakai alas kaki yang nyaman dan kuat penting di saat berpetualang. Agar petualangan bersama keluarga jadi lebih menyenangkan. Tak perlu memakai high heels meski ada banyak spot foto menarik. Jika ingin mengadakan foto pre-wed, masukkan saja high heelsnya ke dalam tas/koper.

Kantong kresek. Karena di area taman belum terlalu banyak tempat sampah di sediakan, di beberapa area kami kesulitan ketika ingin membuang sampah. Untuk itu, sediakan kantong kresek untuk membuang sampah. Kantong kresek juga bisa dipakai untuk menyimpan pakian basah usai bermain di sungai. Ingat ya, JANGAN BUANG SAMPAH SEMBARANGAN! Kebersihan dan kelestarian taman hutan ini sangat bergantung pada kita. Jadilah pengunjung yang turut menjaga, bukan pengunjung yang merusak. Ajari anak-anak juga untuk turun menjaga kelestarian taman hutan, agar kita nyaman berwisata bersama.

Obat-obatan pribadi. Untuk mengatasi udara Srambang Park yang dingin, ada baiknya membawa minyak telon untuk menghangatkan badan si kecil usai bermain air. Jangan lupa membawa plester untuk berjaga-jaga jika kaki lecet atau para bocah jatuh karena terlalu antusias berlarian.

Handuk dan Sabun. Usai bermain air, jangan lupa membersihan diri yaa.. Ada baiknya membawa handuk kecil dan sabun cair agar praktis di masukkan ke dalam tas.

Satu hal yang membuat kami terkesan ketika berkunjung ke sana adalah, harga makanan dan minuman. Meski sedang musim puncak liburan dan pengunjung membeludak, ternyata harga makanan dan minuman tak banyak mengalami kenaikan. Meski mereka berjualan di area wisata, namun harga makanan dan minuman yang ditawarkan masih terbilang wajar.

Baca juga: Semua Dalam Jangkauan

Fasilitas umum yang disediakan pun bisa dibilang cukup lengkap. Di Srambang Park ada mushola, toilet, dan kran air untuk bilas badan usai bermain air. Bahkan kran air ini tersedia di beberapa tempat untuk menyirami tanaman di taman. Kran tersebut bisa kita manfaatkan untuk mencuci kaki atau badan usai bermain air di sungai. Karena masih baru, toiletnya pun masih bersih. Semoga kebersihannya bisa terus terawat yaaa…

Jika anda ingin berkunjung menggunakan kendaraan umum, dari terminal Ngawi, pilih bis jurusan Jogorogo, turun di Girimulyo (Srambang). Dari perempatan Girimulyo jika masih dirasa jauh untuk berjalan kaki, anda bisa menggunakan jasa ojek menuju titik terdekat dari pintu masuk. Ongkos ojek juga cukup terjangkau, hanya Rp 5.000 saja. Namun jika lebih menyukai jalan kaki, jarak yang anda tempuh untuk sampai di pintu masuk kurang lebih 2 Km dengan medan jalanan berbatu naik-turun. Di samping kiri dan kanan anda akan disuguhi pemandangan rumah penduduk khas pedesaan dan pemandangan hutan pinus yang teduh. Udara pegunungan yang sejuk bisa menjadi magnet yang melenakan perjalanan.

Jika terlalu lelah untuk mencapai destinasi utama di air terjun, anda tak perlu khawatir. Kita bisa mengajak anak-anak menikmati keindahan taman hutan dan bermain di aliran sungai. Pasti sudah cukup menjadikan suasana liburan jadi menyenangkan. Aliran sungainya pun tak terlalu deras. Insyaallah aman untuk anak-anak. Namun begitu tetap awasi anak-anak ketika bermain di sungai yaa… Karena terkadang ada beberapa batu berlumut yang cukup licin. Apabila ingin melanjutkan hingga titik air terjun, pastikan anda mencatat nomer darurat yang disediakan di papan pengumuman di sepanjang jalan menuju air terjun. Untuk berjaga-jaga ketika terjadi keadaan darurat, anda bisa meminta bantuan petugas taman hutan.

Untuk berhemat baterai ponsel, sebaiknya matikan semua paket data dan sinyal wifi. Karena di beberapa titik puncak, sinyal susah di dapat. Dengan mematikan paket data, baterai ponsel akan lebih awet, sehingga bisa digunakan menelepon di saat darurat, atau mengambil foto-foto. Toh anda tak perlu buru-buru mengupload ke sosial media bukan? Nikmati saja dulu keindahan pesona alam dari taman hutan Srambang bersama keluarga tercinta.

Sayang sekali karena lokasi wisata cukup penuh pengunjung, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan mendekati lokasi air terjun. Padahal air terjun hanya tinggal 100 meter dari tempat kami berdiri. Karena jalanan masih dalam perbaikan, penuh batu sungai yang besar, cukup mengkhawatirkan membawa anak-anak dan balita ikut berdesakan mendekati air terjun. Kami hanya bisa menikmati air terjun dari kejauhan.

Kami berpetualang ketika musim puncak liburan, maka foto-foto yang  kami dapat tak banyak yang bagus. Meski begitu  kami membawa pulang kenangan yang  mengesankan untuk dibagi. Cukup banyak alasan untuk membawa kami akan kembali lagi ke sana. Jika anda ingin puas berfoto dan menjelajah eloknya taman hutan, sebaiknya pilih waktu yang tepat ya! Selamat berpetualang bersama keluarga!

Saya Perempuan, Saya ibu. Siapa Saya?

Beberapa waktu yang lalu kami bersama teman-teman dari #BikinBikinDiTaman membuat mini project bertema parenting. Kegiatan ini diinisiasi oleh mbak Iput atau lebih dikenal dengan sebutan IbuRakaRayi.  Mini project tersebut dibuat karena terinspirasi dari berbagai seminar parenting yang sering kami ikuti. Kebetulan kami sama-sama senang berburu ilmu parenting dari satu seminar ke seminar yang lainnya

Dari sanalah kami membayangkan suasana seminar yang bisa sesantai ketika  kita sedang curhat kepada teman. Pasti sangat menyenangkan ya… Seandainya suasana seminar itu bisa senyaman kita biasa ngobrol di meja makan atau di sofa empuk, tentu akan lain rasanya. Nah, di samping itu, bulan Desember bertepatan dengan peringatan hari ibu. Jadi kenapa tidak kita coba untuk membuat satu project kecil untuk ngobrol santai bertema parenting bersama para ibu.

Dari berbagai pertemuan dan diskusi selama sebulan untuk membicarakan project sambil menanti jam sekolah usai, akhirnya keluar juga konsep project #NgobrolParentingDiTaman. Konsepnya masih akan terus diperbaiki, namun sebagai project permulaan, Alhamdulillah berjalan lancar. Menjelang hari H mendadak ada banyak sekali kegiatan dan kejadian yang membuat kami harus sedikit berakrobat demi mewujudkan mini project tersebut. Beruntung teman-teman dibalik #BikinBikinDiTaman sudah biasa diajak berakrobat. Alhamdulillah tektok via whatsapp lumayan lancar. Maka, berikut ringkasan bahasan di mini project #NgobrolParentingDiTaman kemarin:

Di awal sesi mbak Sherli, seorang psikolog dari Klinik Anakku Surabaya sebagai narasumber membagikan worksheet untuk diisi para peserta. Worksheet tersebut berisi pertanyaan seputar perasaan mereka menjadi ibu, dan seberapa jauh peserta mengenal diri sendiri. Worksheet tersebut bertujuan untuk mengidentifikasi diri kita dan mengenal siapa kita.

Karena pada umumnya, setelah menjadi seorang ibu, kita lebih dikenal sebagai ibu dari si A, atau lebih sering dipanggil Mamanya si A. Sekarang coba mari kita ingat-ingat, untuk para ibu yang sudah memiliki anak usia sekolah, ada berapa ibu-ibu wali murid yang kita tahu nama aslinya? Berapa banyak ibu wali murid yang dipanggil sesuai nama aslinya, bukan nama anaknya? Misal, saya Wiwid adalah ibu dari Kira dan Kara. Biasanya kalau di sekolah lebih sering dipanggil “Mama Kira atau Mamanya Kara”, daripada dipanggil dengan sebutan “mbak Wiwid, atau bu Wiwid”. Benar atau tepat?

Apakah itu salah? Tidak. Menurut mbak Sherli, itu tidak salah. Hal tersebut bisa menjadi salah kalau membuat kita kehilangan identitas diri. Lebih buruk lagi, jika pada akhirnya semua hal baik atau buruk dari anak-anak  menjadi 100% karena ibunya. Sehingga jika ada komentar negatif tentang anak-anak, kita jadi lebih mudah tersinggung dan jadi lebih gampang baper. Bahayanya ketika ibu mudah baper, maka ia akan sibuk dengan luka hatinya sendiri, dibandingkan fokus mencari solusi untuk permasalahan anaknya.

Masih ingat ungkapan “It takes a village to raise a child”? Begitulah karakter anak dibentuk. Anak-anak memiliki karakter bukan dibentuk 100% oleh ibunya saja, tapi juga dipengaruhi oleh ayah, kakek, nenek,  guru, teman-temannya, saudara-saudaranya, bahkan juga lingkungannya. Itu kenapa baik-buruk seorang anak belum tentu 100% karena ibunya. Akan menjadi tidak adil terhadap diri sendiri jika ibu menghakimi dirinya dan merasa bersalah atau baper berkepanjangan.

Menjadi seorang ibu kita diajak untuk lebih sering “eling”. Mbak Sherli mengajak kita untuk mengingat apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu dan hal-hal apa saja yang sering membuat kita bête selama menjadi seorang ibu. Menjadi ibu itu dibutuhkan persiapan, bukan sekedar persiapan materi, namun juga kesiapan emosional, intelektual, bahkan kesiapan fisik.  Dengan persiapan yang matang, seorang perempuan akan menjadi lebih percaya diri menjadi seorang ibu. Dengan begitu ia akan lebih siap menghadapi segala macam penghakiman tanpa perlu menjadi baper.

Jika kita eling atau ingat semua hal yang membuat ibu bete atau kesal, maka ia akan tahu kapan harus mengantisipasi dengan introspeksi diri. Harapannya kita jadi tahu apa yang  harus dilakukan untuk memperbaiki diri dalam mendidik anak-anak.  Misal, saya paling kesal kalau saat sudah ngantuk berat Kira dan Kara memberantakan mainannya. Dengan mengetahui bahwa batas kesabaran dan kesadaran saya ada di titik nadir ketika mengantuk, maka saya memilih tidur dan meminta bantuan Ayahnya atau eyangnya menggantikan saya mendampingi Kira dan Kara bermain. Dengan demikian kondisi kondusif dalam mendidik anak dapat terus terjaga.

Baca Juga: Tingkat Kewarasan dan Jam Tidur

Seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling akan lebih mudah fokus mencari solusi dalam permasalahan mendidik anak-anak dibandingkan sibuk mengobati rasa bapernya sendiri. Seorang ibu yang memiliki kesiapan dan kematangan dalam ilmu, ia akan tahu bagaimana menghargai dirinya sendiri atas semua capaian terbaiknya. Karena bagaimanapun, semua perjuangan ibu itu layak untuk dihargai. Sibuk angkat jemuran sambil menggendong anak yang rewel itu tidak mudah. Mendengar omelan manager yang omset perusahaannya turun ditambah rengekan anak di rumah yang sedang sakit itu bukan main rasanya. Itulah kenapa setiap perjuangan layak untuk dihargai. Setuju?

Tentu saja, untuk menjadi seorang ibu yang percaya diri dan selalu eling dibutuhkan dukungan lingkungan yang kondusif. Suami yang selalu siaga, orang tua dan mertua yang selalu hangat, bahkan juga teman-teman yang selalu menyediakan telinganya untuk menampung curhat. Ini serius, dukungan teman curhat itu bisa menjadi salah satu dukungan terbaik yang diberikan oleh support group yang bisa menguatkan dan membantu mengingatkan seorang ibu lho…

Ibu pun juga butuh curhat kok! Bisa kepada suami, orang tua, mertua, saudara atau bahkan temannya. Curhat menjadi sarana mengkomunikasikan isi pikiran dan perasaan seorang ibu. Apabila ibu mampu membangun komunikasi yang baik dalam mengungkapkan perasaan dan pikirannya maka akan terbangun emosi yang positif dalam menghadapi masalahnya. Ibu yang terakomodasi dengan baik untuk curhat dan mendapat masukan yang positif, maka si ibu akan lebih mudah menjadi “Waras” dan “eling”. Membangun komunikasi yang baik ini penting agar ibu mendapatkan dukungan yang dibutuhkan. Karena itu tak perlu malu kalau mau curhat ya buuuu…

Bahkan curhat kepada anak itu juga sah lhoo… Dengan sesekali curhat kepada anak, kita memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal siapa ibunya sebenarnya. Bahkan kita sah lho mengungkapkan apa kesukaan kita dan apa yang tidak kita sukai kepada anak-anak. Jika biasanya setiap makan ayam ibu selalu mengutamakan anak-anaknya untuk mendapat daging terbaik, dan ibu rela makan bagian kepala, boleh kok sesekali ibu meminta sedikit bagian dagingnya, agar anak-anaknya tahu bahwa sesungguhnya ibunya tidak suka makan kepala ayam. Dengan memberikan kesempatan anak-anak mengenal ibunya, maka jika suatu saat si ibu membutuhkan sesuatu, anak-anaknya akan tahu harus berbuat apa. Bukankah ibu juga manusia yang suatu saat membutuhkan bantuan?

Baca juga: Mengembangkan Ketrampilan Sosial Anak

Untuk itu, ayo kita ingat-ingat lagi, siapa kita? Apa yang membuat kita bahagia menjadi seorang ibu? Apa yang membuat kita kesal dan bête dalam menjalan peran sebagai ibu? Apa alasan kita mau dan bersedia menjadi ibu? Apakah kita terpaksa atau dipaksa menjadi seorang ibu? Persiapan apa saja yang sudah kita lakukan dalam menjadi seorang ibu?

Semoga sedikit membantu mengingat dan mengenali diri.  Dengan demikian kita akan bisa memiliki kesempatan untuk mempersiapkan diri dengan menimba ilmu demi menghadapi tantangan mendidik anak yang tidak pernah ada habisnya. Dengan belajar terus menerus memperbaiki diri, kita bisa menjadi lebih baik setiap hari. Selamat hari ibu!

 

All pic taken by: Mbak Iput

Agar Keluarga Harmonis, Jaga 3 Hal Ini

 

Agar Keluarga Harmonis, Jaga 3 Hal Ini – Beberapa waktu yang lalu saya bersama teman-teman blogger berkesempatan untuk ikut arisan yang seru. Arisan yang ini luar biasa manfaatnya. Karena di sana kita bisa belajar tentang banyak hal, mulai dari tips menjaga keharmonisan keluarga, hingga belajar hand-lettering. Arisan yang diadakan oleh HIJUP dan Resik-V ini menghadirkan bintang tamu Hamidah Rachmayanti (Face of Hijup) bersama suaminya, Irvan Farhad.

Semua pasangan pasti menginginkan rumah tangganya harmonis, setuju? Tapi, kalau melihat gosip-gosip yang sekarang berseliweran rasanya deg-deg’an juga yaa… Bahkan yang sudah berumah tangga puluhan tahun pun bisa cerai. Menurut berita, angka perceraian di Indonesia meningkat, salah satu faktor penyebabnya karena pengaruh media sosial. Aduuuh… ngeri-ngeri sedap juga yaa… Lantas bagaimana sih menjaga kapal bahtera rumah tangga ini biar gak mudah oleng?

Menjaga Keharmonisan Keluarga

Pernahkah kalian bertanya kepada pasangan masing-masing tentang apa yang mereka harapkan dan mereka sukai dari diri kita? Sebuah hubungan dapat berlangsung harmonis, salah satunya tentu karena masing-masing orang menemukan apa yang mereka harapkan dari pasangannya. Misalnya nih, suami saya suka kalau badan saya tidak mengembang terlalu besar. Ternyata, sudah bawaan dari sononya, badan saya selalu mungil. Meskipun saya makan sebanyak apapun, angka di timbangan tidak akan bergerak terlalu banyak. Suami saya suka ketika tubuh saya terlihat fit dan beraroma segar, tidak harus wangi, tapi segar. Sekarang coba bayangkan, bagaimana jika penampilan saya lebih sering lusuh, kuyu dan bau asem? Ketika tensi hubungan sedang tinggi, lalu suami curhat ke teman perempuan yang kebetulan punya aroma wangi, apa yang mungkin terjadi? *ketok meja* naudzubillah…! Karena itulah, penting ketika kita tahu yang di suka pasangan pada diri kita.

Irvan Farhad menuturkan, untuk menjaga keharmonisan keluarga, ini 3 hal yang harus kita jaga:

  1. Sex. Tidak dapat dipungkiri, kebutuhan seksual menjadi salah satu elemen yang cukup penting dalam menjaga keharmonisan keluarga. Bahkan sex menjadi kebutuhan dasar dalam setiap rumah tangga. Karena hubungan seksual yang sah hanya boleh dilakukan dengan pasangan sah masing-masing. Bahkan pakar psikologi mengungkap bahwa hubungan intim tersebut bukan hanya sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan biologis semata, namun juga untuk menjaga kesehatan psikologis seseorang. Tentu saja untuk menjaganya dibutuhkan kerja sama kedua belah pihak.
  2. Ekonomi. Sudah sering membaca di media massa kan kalau faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu terbesar angka perceraian di Indonesia. Bahkan yang lebih menyedihkan lagi, faktor ekonomi menjadi salah satu pemicu kekerasan dalam rumah tangga. Membicarakan faktor ekonomi bukan semata bercerita tentang keharusan mencari pasangan yang kaya raya. Tetapi tentang bagaimana mengomunikasikan keadaan ekonomi yang harus dilalui bersama pasangan dalam rumah tangga. Selain itu tingkat kepuasan ekonomi bagi seseorang tentu memiliki ukuran yang berbeda. Ada istri yang disodori gaji suaminya 3 juta sudah bahagia, namun ada juga seorang istri yang disodori amplop gaji suaminya berisi 300 juta masih nyinyir dan ngomel panjang. Untuk itulah penting menjaga tingkat kepuasan ekonomi pasangan di dalam rumah tangga.
  3. Selingkuh. Duh, bicara ini dada saya selalu bergemuruh. Rasa gemas dan geregetan bercampur jadi satu. Karena perselingkuhan dalam rumah tangga yang menjadi korban bukan hanya pasangan, tetapi anak-anak juga turut mendapat imbasnya. Ada rasa benci dan sakit yang turut dirasakan anak-anak ketika mengetahui ayah/ibunya bergandengan mesra bukan dengan pasangannya. Jika ingin menjaga hati anak-anakmu, lakukan sekuat tenaga, hati dan pikiran untuk menghindari berselingkuh dari pasanganmu. Kalau ada yang tidak memuaskan dari pasanganmu, bicarakan, komunikasikan, dan cari jalan keluarnya bersama. Tidak dengan SELINGKUH! Apalagi kalau ada perempuan yang tetap bisa bahagia dan bangga meski predikat PELAKOR menempel di jidatnya, rasanya pengen nimpuk pakai bakiak sekarung. Maklumi saja ya, saya gak tahan nyinyir untuk urusan yang satu ini. *ngikik manis*

Ketiga hal diatas jika bisa dijaga oleh setiap pasangangan, insyaallah bahtera rumah tangga tidak mudah oleng dan karam. Biar nyinyir tidak makin akut, kita lanjut ngobrolin yang lain yaaa… Setelah tahu 3 hal yang harus kita jaga dalam rumah tangga, lantas bagaimana cara menjaganya? Naaahh… Mari sini duduk manis, saya mau berbagi tips menjaga penampilan luar dan merawat penampilan dalam.

Menjaga Penampilan Luar

Siapa yang setuju kalau penampilan luar itu penting untuk menjaga keharmonisan keluarga? Jangan sekedar berlindung dibalik alibi anak banyak, kecil-kecil, mana sempat berdandan cantik setiap hari, tapi ketika ada undangan masih sempat pasang alis dan bulu mata lentik anti badai. Nah lhooo… Padahal dalam agama itu berdandan buat suami, bukan buat undangan lho yaa…

Meskipun begitu, bagi saya menjaga penampilan luar tidak harus setiap hari pakai lipstik merah  merona manja, atau memakai bulu mata yang panjangnya setiang listrik. Bagi saya dan pasangan, menjaga penampilan luar itu berarti ya badan selalu kelihatan fit, bersih dan segar setiap hari. Itu sudah cukup. Badan terlihat fit tentu dengan menjaga kesehatan dan rajin olah raga. Meskipun olah raga saya sebatas ngulet ketika bangun tidur dan jalan kaki setiap pagi ke pasar, atau naik sepeda ke swalayan, namun cukup untuk membuat badan saya terjaga vitalitasnya. Lebih bagus jika bisa rajin yoga dan lari pagi yaa.. (self reminder)

Agar penampilan bersih dan segar, selalu mandi setiap hari dan berganti pakaian. Meskipun setiap hari lebih banyak di rumah, tapi yang dipakai ya daster yang itu-itu juga. Tidak dapat dipungkiri kalau daster itu kebebasan dan kenyamanan tingkat dewa bagi perempuan. Tapi memakainya kalau mau tidur aja gimana? Kalau pagi mau anter suami berangkat kerja dan sore hari ketika suami baru pulang, pakainya baju yang sedikit cerah dan segar, tentu lebih sedap dipandang.

Biar penampilan lebih kelihatan sedap dipandang, sesekali boleh lho belanja baju warna kesukaan suami atau membeli hijab yang dipilihin suami. Kalau ribet bawa suami ke mall dan males nunggu keliling berjam-jam, beli online aja sis. Sekarang kan sudah ada e-commerce untuk islamic fashion. coba deh klik HIJUP untuk melihat pilihan fashion yang tersedia. Bukan hanya terbatas untuk muslimah lhoo… Ada juga pilihan untuk para kaum lelaki. Karena HIJUP berkonsep online mall gitu. Jadi milih baju dan aksesorisnya bisa bareng suami tanpa perlu berpanas-panas atau kaki pegal.

Karena saya termasuk tipe pecinta diskonan dan gemar gratisan, maka spesial buat pembaca blog kirakara bisa mendapat potongan Rp 50.000 ketika berbelanja di HIJUP dengan cara: Masukkan Kode Voucher: HIJUPBMUSURABAYA untuk setiap pembelanjaan minimal Rp 250.000 dan berlaku hingga tanggal 31 Januari 2018.

Merawat Penampilan Dalam

Lanjuuuuttt…. Masih ingat kah faktor pertama yang harus kita jaga demi menjaga keharmonisan keluarga? Betul, hubungan Seksual! Hubungan seksual yang sehat adalah dengan pasangan yang sah. Ternyata penting menjaga kesehatan organ vital untuk menjaga kesehatan hubungan seksual. Apalagi bagi perempuan. Kesehatan organ vital adalah salah satu yang wajib dipelajari. Karena berbagai macam penyakit mematikan yang sering mengintai kaum perempuan, salah satu penularannya melalui organ vital ini.

Bagaimana merawat kesehatan organ vital?

Di acara HIJUP bloggers meet up beberapa waktu yang lalu, Mbak Yuna Eko Kristiani, Senior PR PT Kino Indonesia menuturkan permasalahan kesehatan organ vital yang sering dialami para perempuan, salah satunya adalah #keputihan. Keputihan adalah tanda awal bahwa ada ketidak seimbangan PH. Menjaga keseimbangan PH penting untuk mencegah jamur dan bakteri berkembang biak di area intim.

Lantas bagaimana cara menjaga organ intim agar tidak keputihan?

  1. Mengganti Pakaian dalam dan Pembalut secara rutin. Mengganti pakaian dalam dan pembalut pada saat mensturasi secara rutin penting untuk menjaga kebersihan organ intim.
  2. Bersihkan area organ intim. Mengetahui cara membersihkan organ intim dengan benar adalah hal yang wajib bagi perempuan. Hal ini juga perlu diajarkan sejak dini. Basuh area vital menggunakan air bersih dengan menyapu dari depan ke belakang agar kotoran tidak masuk ke dalam organ intim.
  3. Gunakan sabun godokan sirih RESIK-V setiap kali mandi untuk membersihkan organ intim perempuan

Kenapa harus SABUN GODOKAN SIRIH RESIK-V?

  • Sabun godokan sirih Resik-V dibuat dari air rebusan daun sirih asli yang terbukti menjaga kesehatan organ intim dan menjadi resep turun temurun sejak dulu.
  • Sabun godokan sirih Resik-V menjadi antiseptik alami yang dapat membunuh bakteri merugikan dan menjaga PH alami organ intim.
  • Sabun godokan sirih Resik-V teruji secara mikrobiologi membantu mengurangi jumlah JAMUR candida albicans penyebab keputihan.
  • Sabun godokan sirih Resik-V adalah ramuan alami mengatasi gatal-gatal dan bau tidak sedap.
  • Sabun godokan sirih Resik-V aman dipakai setiap hari karena terbuat dari bahan alami tanpa pengawet kimia, pewarna maupun pewangi kimia.
  • Sabun godokan sirih Resik-V sudah memiliki sertifikasi hallal dari MUI dan terdaftar di BPPOM jadi aman digunakan dan terjaga kehallalannya.

Sudah lengkap kan mengupas tuntas tentang menjaga keharmonisan keluarga. Dikupas luar dan dalam pula. Gak rugi deh ikut arisan ini. Apalagi bertambah ilmu tentang hand-lettering pula. Lumayan lah, bisa buat tulisan cakep untuk ulang tahun pernikahan atau kartu ucapan buat suami. Meskipun saya kalah dalam lomba hand lettering ini, namun yang jelas, ilmu saya bertambah hari ini. Happy kan?

Semoga keharmonisan keluarga tetap terjaga yaa…

#HIJUPevent #HIJUPbloggersmeetup #HIJUPmeetupsurabaya #mengatasiKeputihan #ManfaatDaunSirih

Cerita Tentang Tantangan Membaca

Minggu lalu Kira dan Kara membawa pulang formulir dari sekolah yang isinya tentang laporan daftar buku untuk tantangan membaca. Rupanya sekolah mengadakan program tantangan membaca untuk seluruh muridnya. Tantangan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan cinta literasi di kalangan anak sekoah dasar. Program yang bagus nih!

Baca Juga: Ketika Si Kembar Masuk SD

Tapi ternyata setelah melewati satu minggu dari tantangan tersebut, saya dibuat mules dengan kenyataan-kenyataan yang saya dapati diantara para wali murid. Sebelum curhat tentang para wali murid yang bikin mules tersebut, saya mau curhat tentang perjalanan belajar membaca Kira dan Kara dulu boleh yaaa..

Kira dan Kara sudah akrab dengan buku sejak masih dalam kandungan. Saya senang membaca buku. Bahkan saat mereka dirawat di inkubator, saya rutin membacakan cerita. Mendengar atau tidak, tahu atau tidak, saya tidak peduli. Saya hanya ingin memberikan hal baik untuk mereka. Daripada mengeluh atau menangis di depan tabung inkubator, saya memilih membacakan cerita-cerita yang penuh semangat dan ceria khas anak-anak.

Pada perjalanan waktu, saya pernah membaca entah di artikel mana bahwa mengajarkan membaca pada anak-anak itu bisa dimulai sejak dini. Belajar membaca itu dimulai dengan membacakan buku sejak bayi. Kebiasaan ini bermanfaat untuk menumbuhkan rasa senang membaca dan cinta buku. Konon katanya anak yang biasa dibacakan buku sejak dini akan lebih cepat membaca dan lebih mudah memahami tulisan ketika ia sekolah nanti.

Namun apa kenyataan yang saya dapat di lapangan?

Diantara teman-teman sekelasnya, Kira dan Kara tergolong lambat dalam membaca kalimat. Meski mereka sudah hafal dan mengenal huruf sejak usia 4 tahun, namun entah mengapa ketika memasuki fase belajar membaca sepertinya sangat lambaaat sekali mereka menguasai kata. Menulis dan membaca huruf b dan d sering sekali terbalik hingga sekarang. Saya sempat merasa sedih.

Saya sempat membombardir mereka dengan memaksa belajar membaca dan membelikan segambreng buku tentang belajar membaca. Bukannya senang, mereka malah uring-uringan. Saya merasa mereka susah sekali fokus dalam mengeja kata. Segala macam metode “cara membaca cepat” saya praktekan, namun hasilnya nihil. Kesalahan bukan pada metodenya. Karena panik saya tidak pernah fokus menjalankan satu metode. Tentu saja hasilnya juga amburadul. Akhirnya saya pasrah mengikuti aliran dan pola yang ada.

Baca Juga: Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

Tuntutan kurikulum saat ini memang berat. Tapi memaksa mereka melakukan sesuatu tentu hasilnya tak pernah maksimal. Bahkan saya harus menabahkan diri ketika wali kelasnya berkali-kali memberi catatan pada saya tentang pelajaran menulis dan membaca dua bocah kunyil itu. Beruntung sekali sekolah membuat program tantangan membaca ini. Program ini membuka mata saya tentang jalur yang telah kami pilih.

Cerita itu berawal ketika ada seorang orang tua murid yang datang ke rumah saya menanyakan tentang tantangan membaca tersebut. Ia bercerita kalau kesulitan mencari bahan bacaan untuk anaknya karena di rumahnya tak banyak buku yang bisa dibaca. Kondisi ekonomi yang sulit tak bisa membuatnya dengan leluasa membelikan buku untuk si bocah. Lantas saya menawarkan untuk membaca buku di rumah bersama Kira dan Kara sepulang sekolah.

Apakah masalah selesai? Ternyata tidak.

Ketika Kira dan Kara mulai sibuk memilih buku, si bocah juga nampak antusias membuka-buka buku. Namun ternyata tak bertahan lama. 5 menit kemudian, ia nampak terlihat bosan. Baru dua halaman dibuka, ia sudah berpindah ke buku yang lainnya. Hingga Kira dan Kara menyelesaikan satu buku, tak satu bukupun ia selesaikan dengan tuntas. Ketika saya tanya apakah ada buku yang ia suka? Ia menjawab capek dan tak suka membaca. Lantas ketika saya minta ia membaca 2 kalimat, ternyata sebenarnya cara membacanya jauuuuh lebih lancar dibandingkan Kira dan Kara. Bahkan untuk buku yang ceritanya terbilang sangat sederhana untuk Kira dan Kara, tak mampu ia lahap. Padahal jika ia mau dan suka, buku yang hanya berisi beberapa halaman itu akan mampu ia selesaikan hanya dalam waktu 5 menit saja. Toh buku itu hanya berisi satu hingga dua kalimat sederhana dalam tiap halamannya.

Saya terpana ketika si ibu mengambil alih tugasnya dengan membaca sendiri dan menuliskan isi laporan tantangan membaca tersebut. Saya kecewa. Saya sedih. Saya merasa menyediakan diri untuk memanipulasi laporan siswa. Saya tidak suka cara itu. Mungkin saya saklek dan kaku, tapi saya tidak suka anak-anak melihat hal yang tidak jujur berlangsung di depan matanya. Kalau sejak kecil memanipulasi laporan membaca, nanti besar ia bisa memanipulasi laporan keuangan. Kan gawat!

Dari kejadian itu saya melihat bahwa rasa senang membaca dan senang mendengar cerita itu memang perlu ditanamkan sejak dini. Keterbatasan ekonomi seharusnya tak menjadi penghalang. Surabaya sudah memiliki perpustakaan daerah tempat kita bisa meminjam buku. Semoga kita tak pernah merasa lelah untuk membacakan anak-anak buku. Agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas literasi.

Sehari Bersama Viva: Kosmetik Legendaris di Indonesia

SEHARI BERSAMA VIVA, KOSMETIK LEGENDARIS DI INDONESIA

Masih ingat merk kosmetik yang paling legendaris di Indonesia? Dari jaman ibu kita muda dan unyu-unyu, merk ini sudah menjadi trend dan hits. Yes, VIVA it is! VIVA menjadi merk kosmetik andalan sejak dulu kala, bukan hanya karena produksi dalam negeri, tetapi juga karena kualitasnya yang sudah terbukti hingga kini. Meskipun sekarang makin banyak bertebaran merk kosmetik dari luar negeri yang super kece, namun siapa yang tidak kenal pensil alis VIVA yang warna dan kualitasnya tiada duanya? Hingga  kini pensil alis ini masih menempati urutan nomor satu pilihan para wanita di Indonesia. Give your big applause to VIVA! Yeeaaaayyy…

Nah, minggu kemarin, bersama para beauty dan lifestyle blogger, saya berkesempatan untuk berpetualang di pabrik VIVA seharian, dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Ngapain aja, sist? Ini dia keseruannya…

FACTORY VISIT

Masuk ke kawasan pabrik PT VITAPHARM kami disambut senyum manis dan sapa hangat para karyawati. Di dalam ruang pertemuan sudah tersedia coffee break lengkap dengan sweet corner yang menggoda. Setelah sarapan sejenak dan mendapat welcome speech dari MC yang cantik, kami diajak berkeliling melihat dari dekat produksi lipstick dan body lotion VIVA.

Pabrik yang telah berdiri sejak tahun 1962 ini sudah meraih banyak penghargaan. Di dalam pabrik kami melihat bahwa kehigienisan produk benar-benar dijaga. Produk-produk yang diolah juga melewati quality control yang berlapis-lapis. Mulai dari quality control untuk bahan baku, bahan yang sedang diolah, bahan pengemas hingga menjadi produk jadi, bahkan sampai produk siap keluar dari Gudang penyimpanan. Quality control berlapis tersebut dimaksudkan untuk menjaga kualitas produk agar tetap sesuai standard yang telah ditetapkan perusahaan. Tak pelak PT VITAPHARAM meraih penghargaan untuk kategori CPKB (Cara Pembuatan Kosmetik yang Baik) dari BPPOM pada tahun 2008.

Setelah melewati proses produksi, produk-produk tersebut akan masuk ke bagian R & D atau Research and Development. Dibagian R & D produk akan diteliti apakah sudah sesuai standard produksi atau belum. Di bagian tersebut juga disimpan beberapa hasil produksi secara random dari setiap batch untuk digunakan sebagai retain sample atau contoh produk tertinggal apabila ada komplain dari pelanggan. Retain sample akan disimpan selama expired+1, atau 1 tahun lebih lama dari masa expired yang tertera di dalam kemasan.

Sayang sekali kita tidak bisa memasuki kawasan produksi bedak karena pertimbangan resiko dan keamanan. Di kawasan produksi bedak memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi lagi karena lokasi produksi harus steril dari setiap partikel debu bedak. Bagi pengunjung yang tidak dilengkapi dengan baju dan masker yang steril tentu berbahaya bagi paru-paru. Padahal bedak kantong milik VIVA ini fenomenal sejak jaman ibu kita dulu ya, sist…

Ternyata produksi kosmetik itu sebegitu rumitnya yaaa… Standard keamanan yang tinggi selain berlaku pada produksi makanan, ternyata berlaku juga pada produksi kosmetik. Maka tak heran, VIVA yang sudah berulang tahun ke 65 tahun ini tetap kokoh berdiri dan memiliki pangsa pasar setianya di tengah semaraknya produksi kosmetik dari berbagai negara yang masuk ke Indonesia. Sayang kita tidak diperkenankan untuk mengabadikan kunjungan di dalam pabrik untuk alasan keamanan dan privacy. Namun begitu, sangat menyenangkan bisa melihat secara langsung dari dekat produksi kosmetik paling legendaris di Indonesia.

BELAJAR CORRECTIVE MAKE UP

Sesi selanjutnya kita diajari untuk aplikasi make up dengan metode corrective make up. Metode ini untuk menonjolkan apa kelebihan dari wajah kita dan menutupi atau mengkoreksi bagian-bagian yang kurang proporsional agar terlihat lebih cantik. Sesi ini diawali oleh games merias wajah dengan menggunakan peralatan make up yang telah disediakan. Dengan peralatan make up seadanya, peserta ditantang untuk mengaplikasikannya semaksimal mungkin. Hasilnya benar-benar diluar dugaan. Para blogger terbukti memang mahluk yang kreatif!

Setelah permainan, kami diajarkan cara merawat wajah dengan menggunakan masker dan peeling yang ringkas dan cepat. Masker ini bisa kita gunakan seminggu sekali, dan tidak membutuhkan waktu lama. Hanya dengan 5 menit kita bisa merasakan hasilnya. Kulit ternyata lebih kenyal dan terasa adem. Cocok banget untuk melepas lelah dan digunakan sambil beristirahat akhir pekan.

Selesai merawat wajah, para blogger belajar untuk merias wajah menggunakan make up lengkap namun hasilnya bisa simple dan menawan. Apa make upnya terasa berat? Ternyata enggak kok. Dengan pemakaian yang tepat, bisa terasa ringan dan hasilnya tidak menor. Karena kita diajarkan juga cara memilih warna yang tepat dan sesuai dengan warna baju.

MENJADI BEAUTY BLOGGER PROFESSIONAL

Setelah selesai merias wajah, sekarang saatnya belajar menjadi beauty blogger professional. Apa bunda kunyil berniat alih profesi jadi beauty blogger? Yaaa kesempatan untuk belajar kan tidak boleh disia-siakan begitu saja. Belajar apa saja asal bisa bermanfaat kan tidak ada salahnya thooo…

Bersama kak Moch dari Mochtret kami belajar memotret perlengkapan kosmetik agar hasilnya kece, meski hanya menggunakan kamera HP. Kuncinya ada di lighting atau pencahayaan. Dengan cahaya yang pas, kita bisa membuat tampilan yang wah untuk sebuah konten, utamanya konten kecantikan. Kalau temanya kecantikan, tentu saja kontennya juga harus cantik kaaan… itu kenapa untuk seorang beauty blogger, penting banget menata timeline instagramnya agar cantik. Kalau mau tetap bisa bebas memasukkan apa saja ke dalam Instagram, ya bikinlah 2 akun. 1 akun bisa digunakan untuk tugas sebagai professional blogger, dan 1 akun untuk pribadi tempat bisa kepo-kepo akun hosip dan posting suka-suka.

Selain belajar tentang pencahayaan, kita juga ditantang untuk menata layout obyek agar terlihat indah dan sedap dipandang. Para blogger juga ditunjukkan seperti apa layout-layout yang cakep dan sesuai tema produknya. Penataannya pun juga harus dipilih dulu apa yang akan menjadi obyek utama dan temanya. Baru bisa dipilih aksesoris pendukung sesuai kebutuhan. Jangan lupa untuk memilih warna background yang sesuai dengan tema dan produk utama yang ingin ditonjolkan. Filler atau aksesoris pendukung tidak harus mahal kok, bisa menggunakan koran bekas, tiket konser, kacamata, pita-pita atau bunga.

Membuat konten yang cantik ternyata tidak melulu membutuhkan biaya tinggi ya, sist… Hanya membutuhkan kreatifitas kita. Agar makin nendang, sering-sering deh melihat konten-konten yang kece yang bisa kita jadikan sumber inspirasi. Semakin banyak melihat yang kece-kece, mata kita akan terlatih untuk membuat yang kece juga.

Akhir pekan kemarin benar-benar menyenangkan. Sehari penuh sarat ilmu, makan kenyang, dan puas bertemu teman-teman baru. Terima kasih Beauty Blogger Surabaya dan PT. Vitapharm untuk keseruan akhir pekannya. Sampai bertemu di petualangan selanjutnya!

 

Cerita Tentang Emak Blogger

Warna-warni menjadi seorang emak atau ibu tentu semua orang tahu. Seperti apa keseharian seorang emak di rumah, sudah menjadi rahasia umum. Bangun paling pagi, tidur paling malam, dan beres-beres rumah yang sayangnya tak pernah dianggap beres, itu sudah hal biasa bagi seorang emak. Lantas seperti apa rasanya ketika seorang emak memilih kegiatan sampingan untuk menulis blog, alias menjadi blogger.

Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati hari blogger yang jatuh pada tanggal 27 Oktober kemarin. Sambil ikut berpartisipasi dalam keriuhan ngeblog bareng para emak blogger Surabaya, meski sudah larut, dibelain nulis. Sudah rejekinya nulis pas tanggalnya krusial banget. Tapi tak mengapa, nanti kalau sudah agak longgar hutang tidur bisa dibayar sekaligus. Meski perut rasanya mules, tapi bukankah jadi emak itu sudah biasaaa mengerjakan banyak hal ketika sedang tidak enak badan. *pukpuk para emak*

Kali ini, saya mau bercerita tentang kisah belakang layar, atau belakang laptop seorang blogger yang merangkap sebagai emak. Ketika sebuah tulisan sudah tayang dan dibaca di blog, semua menjadi milik pembaca. Mau dinilai sebagai artikel lebay, atau artikel baper, atau artikel sampah, atau bahkan artikel yang sangat membantu, itu bergantung pada sudut mana pembaca menilainya. Tulisan yang dianggap bermanfaat buat seseorang, bisa jadi hanya sebatas tulisan sampah untuk orang lain. Namun sebenarnya seperti apa sih belakang laptop sebelum proses tulisan itu naik tayang.

Suatu hari seorang saudara datang berkunjung ke rumah. Melihat badan saya yang mungkin mulai melebar, beliau berceletuk “wah, mbak Wiwid sekarang badannya mulai kelihatan berisi ya? Sejak resign dari kantor sekarang enak di rumah terus gak ada kegiatan…” Mendengar itu saya dan mertua hanya tersenyum dan saling berpandangan. Mertua saya tahu kegiatan menantunya yang selalu (sok )sibuk di depan laptop, bahkan hingga malam. Meski mungkin beliau tidak tahu persis apa yang saya lakukan, namun beliau tahu kalau saya menulis.

Itu cerita seorang blogger di mata generasi angkatan orang tua kita. Bagi mereka bekerja di rumah belum menjadi hal yang lumrah. Karena masih terpengaruh dengan pola pikir lama yang namanya kerja itu ya di kantor atau di tempat kerja. Seorang istri, di rumah, kalau gak punya toko, itu ya pasti kerjaannya cuma ngurus anak. (Please jangan baper ya kalau ngurus anak itu dibilang “cuma”. Kuatkan hatimu maak… kuatkan hatimu…). Bersyukurnya mertua saya sudah paham dengan kebiasaan menulis menantunya. Atau kalau tiba-tiba menantunya dipanggil gak dengar, beliau tidak lagi marah. Setidaknya menantunya beberapa kali setor voucher belanja, atau pulang acara bawa oleh-oleh roti kesukaan.

Lain cerita ketika saya bertegur sapa dengan sahabat lama di whatsapp. Membaca status saya yang lebih banyak tentang blog, ia sempat japri dan bertanya “Jadi sekarang kamu di rumah sambil nulis blog ya, wid? Enak ya… Hanya tinggal nulis aja sudah dapat duit.” Lagi-lagi saya hanya tersenyum kecut. Mungkin saat itu saya sendang sensi menjelang PMS. (Menyalahkan hormon memang paling gampang yaa…). Kata “hanya tinggal nulis” itu buat seorang emak yang sedang jungkir balik menulis rasanya bikin perih, kawan. Bagi kami menulis itu bukan hanya sekedar mengetik huruf. Perjalanan huruf-huruf hingga terangkai menjadi satu artikel itu kadang tidak mudah. Tahukah kalian, menulis sponsored post itu jauh lebih sulit ketimbang nulis curhatan di sosmed? (ini kata emak baper yang lagi PMS. abaikan!). Intinya kalau kamu mau menulis yang bisa menghasilkan duit atau voucher belanja, tolong tinggalkan kata “hanya tinggal menulis”. Pahamilah, untuk membuat kata-kata bijak yang dapat like banyak itu kamu butuh usaha buat cari contekan. Apalagi untuk menulis yang kalau kamu nyontek bakal dicaci seluruh mahluk di jagat nusantara.

Apakah hanya itu? Tentu tidak. Tak lengkap rasanya tanpa menceritakan “gangguan kecil” yang dipersembahkan oleh dua kunyil cantik-cantik di rumah. Sudah ada ide buat nulis, mood sedang oke, nyalain laptop, baru nulis judul, mendadak ada dua bocah yang nangis barengan sambil teriak-teriak. Rupanya si bocah habis bermain rumah semut, dan kakinya bentol-bentol digigit semut merah. Pernah? Pernaaahh… Itu baru satu contoh kejadian. Setiap artikel saya, 99% mengandung muatan cerita seperti itu. Entah si bocah digigit semut merah, entah si bocah bertengkar karena rebutan mainan, entah si bocah terpeleset lantai licin atau sedang ribut karena lapar dan bundanya malah asik di depan laptop.

Itu adalah hal paling sering dan paling lumrah yang dihadapi oleh emak blogger yang beranak pinak. Mahluk-mahluk mungil pengganggu itu, adalah sumber inspirasi nomor satu hingga tulisan emak-emak menghasilkan penghargaan dan hadiah segambreng. Percayalah, untuk mencapai ke sana, tantangannya warbiyasah! Dibutuhkan kekuatan iman dan kekuatan mental untuk melek larut malam demi menyelesaikan tulisan yang kadang gak selesai-selesai. Jadi tolong jangan salahkan para emak kalau badan makin beleber, karena untuk menjaga agar mata tetep melek dan otak tetep jalan itu butuh cemilan tengah malam. Iya apa iya?

Bagaimana dengan kaum suami? Tak perlu lah ya diceritakan. Mereka adalah bemper utama kita ketika sedang rem sedang blong. Mahluk-mahluk ksatria itu sering suka cita menyediakan bahunya ketika para istri mulai baper. Daripada terkapar di bahu jalan, mending ditopang di bahu yang sudah lelah nyetir motor seharian melewati kemacetan pulang pergi ke kantor. (sweet gak siiih… uhuk!). Merekalah yang suka cita menjaga para bocah ketika para istrinya sibuk lompat dari satu acara ke acara yang lain. Bukan demi mendapat tambahan uang belanja, tapi demi menghindari istrinya ngomel-ngomel di rumah. Maka ia bebaskan istrinya untuk menjadi dirinya sendiri agar tetap waras. Jadi nanti para istri bisa mengasuh anak-anaknya dengan hati bahagia. Fair enough, isn’t it?

Rasanya tak akan habis menceritakan di balik layar seorang emak blogger. Kami menyimpan ribuan kisah tak terungkap yang kalau dipublikasikan bisa menjadi kisah berseri yang episodenya mengalahkan sinetron Tersanjung. Bisa juga kalau dipublikasikan bisa mendadak terkenal. Namun sayang, saya lagi males terkenal. Hidup itu lebih damai dengan menjadi manusia belakang layar dan jauh dari sorotan banyak orang. Karena menjadi bermanfaat itu tidak harus selalu beroleh pujian atau tepuk tangan.

Sekian curhat malam ini. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan jika kalian ingin jadi blogger, atau ingin ngobrol dan basa-basi dengan seorang blogger. Karena dengan blogger, setiap kata itu bermakna. (ciiyeee….)

Si Kembar Masuk SD

Harusnya tulisan ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu. Berhubung jadi orang yang sok sibuk, jadilah terbengkelai. Kebetulan hari ini yang harusnya saya menyelesaikan deadline kerjaan, ndilalah semua dokumen kerjaan belum dikirim ke email. Orang yang bertugas kirim-kirim dokumen sedang cuti. Merasa memperoleh angin segar untuk “libur” sehari, maka disempatkan menulis curhatan ala bunda kunyil.

Dua bocah kunyil sekarang sudah SD! Hooorrreee…. Kira dan Kara masuk SD tepat di usia 7 tahun. Harusnya secara emosional dan motorik sudah cukup matang untuk menempuh petualangan menjadi siswa Sekolah Dasar. Maka daftarlah mereka ke SD incaran. Pilihan sekolahnya sesuai dengan diskusi dan kesepakatan bersama, antara ayah, bunda, Kira dan Kara. Para bocah tentu saja dilibatkan dalam diskusi. Ini karena mereka yang akan menjalani. Jadi semua harus sesuai kesepakatan bersama.

Pertimbangan Masuk SD Negeri

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Kira dan Kara ke SD Negeri. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diantaranya sangat sederhana dan klise ala orang tua malas berpikir rumit. Apa aja sih? Ini sebagian pertimbangannya:

Pertama, Sekolah Dasar Negeri adalah sekolah yang terdekat dari rumah kami. Kami ingin Kira dan Kara benar-benar belajar mandiri. Dimulai dengan berangkat dan pulang sekolah sendiri. Meski tersembunyi alibi bunda bebas antar jemput selama 6 tahun, namun percayalah, niat kami tulus. Kira dan Kara yang jarang main jauh dari rumah bisa mulai belajar dengan menghafal rute dari rumah ke sekolah. Meski jaraknya hanya selemparan batu, tapi bunda kunyil tetap saja melalui fase dag dig dug ketika melepas mereka berangkat sekolah sendiri.

Kedua, sekolah negeri memiliki pergaulan yang sangat beragam. Ibarat miniatur sosial, sekolah negeri lah tempat miniatur sosial sesungguhnya. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang tajir melintir sampai anak yang bergantian sepatu dengan kakaknya yang masuk sekolah siang. Serius, beneran ada dan nyata. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang usilnya naudzubillah hingga anak yang disuruh apa aja nurut. Di sekolah Negeri kamu bisa menemui anak yang super duper religius hingga anak yang omongannya udah mirip cerita kebun binatang. Jadi kamu mau cari tipe anak yang kayak gimana, Sekolah negeri lah tempatnya.

Nah, memasukkan duo bocah kunyil ke sekolah semacam itu, dibutuhkan doa dan kebulatan tekat maha dahsyat. Ya gimana yaa… Dengan dua bocah yang terbiasa ada di lingkungan yang serba mengayomi, serba mengasihi, dan serba aman nyaman sentosa, tiba-tiba harus masuk ke rimba raya pergaulan yang super dahsyat. Pasti ada fase jetlag. Pasti ada fase shock. Pasti ada fase mogok sekolah. Pasti ada fase nangis tiap hari. Pasti ada fase nyinyir antar orang tua. Pasti ada fase jengkel sama guru. Pasti ada fase kesal sama semuanya. Pasti itu…

Untuk itulah dibutuhkan persiapan hati yang sempurna. Bukan hanya hatinya dua bocah kembar ya… Yang paling utama dan paling penting justru hati orang tuanya.

Saya menyiapkan diri untuk tidak nyinyir berlebihan. Meski fitrah susah dilawan, namun sekarang sudah saatnya memakai rem untuk mulut sendiri biar gak gampang kelepasan nyolotnya. Bawaan bawel sudah dari sananya. Tinggal disalurkan ke kanal yang benar biar gak lepas dan memakan korban. Maka, saya hindari sebisa mungkin untuk komen berlebihan tentang banyak hal. Sebisa mungkin memberikan kontribusi saran, suara, komentar yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan nyinyir management yang tidak mudah buat bunda kunyil.

Lanjuuut… Pertimbangan ketiga adalah soal biaya. Masuk SD Negeri bebas biaya, ciiiin… Untuk tahun pertama kita hanya butuh beli seragam dan perlengkapan sekolah. Untuk siswa yang tidak mampu ada bantuan. Bahkan kalau mau menyumbangkan seragam layak pakai juga boleh bangeeet. Bebas biaya SPP pula. Daaaan untuk pemegang kartu KIS mendapat subsidi buku paket tematik dari sekolah. Happy kaaan… Itu bagian yang bikin bunda kunyil sedikit terhibur. Dengan demikian, jatah SPP sekolah bisa dialihkan ke dana les yang bermanfaat. Itulah akhirnya bunda kunyil bisa mendaftarkan duo kembar masuk les berenang. Untuk pertimbangan ini, saya sudah siap jika ada yang bergumam “pelit amat…”. Gakpapa lah yaa… Kita gak ada yang tahu isi dompet orang lain, kecuali disodori formulir LHKPN. Ya tapi siapalah saya, hanya pejabat teras rumah mertua, mana punya LHKPN untuk diumumkan. Jadi cukup saya, suami dan Tuhan yang tahu berapa isi dompet kami. *ngikik manis*

Setelah Si Kembar Masuk SD Negeri

Apa yang terjadi setelah duo bocah kembar masuk SD Negeri? Seperti perkiraan sebelumnya. Ada fase bocah pulang dengan wajah sumringah cerah ceria mendapat teman baru. Ada pula saatnya selama seminggu penuh pulang dengan menangis karena dijahilin temannya. Bahkan pernah pulang dengan wajah penuh marah, rupanya habis baku hantam saling pukul di sekolah.

Kok bisa?

Iya bisa, karena disuruh bunda. hahaha… Itu hari di mana saya sudah jengah tiap hari mendengar aduan tentang anak yang sama. Mulai dari digodain, lalu disenggol pas nulis, lalu berisik pas pelajaran, lalu dicolek-colek pas lagi ulangan, hingga dipukul ketika habis imunisasi. Lalu saya tanya, “kamu takut gak sama dia?”. Si bocah menjawab enggak. Dia menangis karena tidak tahan digangguin tapi gak bisa bales. Rupanya dia ingat sama wejangan bundanya, gak boleh membalas memukul jika dipukul. Itu sama saja jahatnya. Nah, ketika PMS dan rasa jengah sudah diubun-ubun, maka saya bilang “ya sudah kalau kamu gak takut, besok kalau kamu dipukul lagi, pukul balik saja…”

Trust me! Mungkin saat itu saya jadi bunda paling buruk sedunia. Biarlah. At least saya tahu seperti apa endingnya. Kalau ternyata keputusan itu salah, kami bisa belajar dari kejadian itu. Kalau memang mau dicaci atau diketawain, no need to worry, bunda kunyil sudah siap.

As we know, kejadian itu beneran keesokan harinya dua bocah saling beradu pukul hingga bocah saya memilih pergi karena ia tahu ini tidak akan selesai. Eh iya, si bocah yang jahil itu laki-laki yaa… Jadi bisa dibayangkan ketika bocah saya yang perempuan berpostur super mungil, dengan berat badan yang tak lebih dari anak umur 5 tahun, beradu pukul dengan bocah lelaki yang sering menggoda anak perempuan yang katanya “cengeng”. Bunda? Puas dooong… Gurunya? Gak kenapa-napa. Karena tahu yang usil memang yang laki, jadilah ketika mendapat aduan dari teman-temannya yang lain, si anak lelaki dipindah duduk paling pojok. Sendirian. That’s it! Case closed!

Kalau ada saran, komentar, atau nasihat, ledekan, tertawa puas karena merasa senasib, tuliskan saja di kolom komentar. Bebasss.. Insyaallah semua di approve kecuali spammer!

Kejadian itu satu-satunya? TIDAK. Itu hanya salah satu kejadian “ajaib” yang kami alami selama 3 bulan bersekolah di sekolah negeri. Yang lainnya? Tunggu saja, siapa tahu saya cukup selo untuk berbagi cerita di sini.

Sekian curhat hari ini, selamat melanjutkan hari!

 

 

 

Memahami Generasi Milenial

Suatu hari Kira dan Kara pulang sekolah mengadu. Temannya melarang mereka makan permen Y, karena katanya ada kandungan minyak Babinya. Tak terima, Kira dan Kara memaksa saya untuk melihatnya di Google. Karena permen Y adalah salah satu jajanan favoritenya. Sebenarnya bisa saja saya mengiyakan apa yang dibilang temannya. Toh selama ini saya sudah cukup jengah melihat mereka mulai gemar makan permen. Namun ternyata, mereka jauh lebih kritis dari yang saya kira. Dengan sigap diambilnya tablet, dan dibukanya aplikasi mesin pencari. Begitulah generasi masa kini.

Generasi jaman Kira dan Kara ini sering disebut Generasi Milenial. Generasi milenial atau generasi yang tumbuh di millennium baru, adalah generasi yang lahir di tahun 2000 ke atas. Ada juga yang memberikan nama mereka adalah Gen-Z. Generasi ini tumbuh di tengah-tengah perkembangan pesat teknologi dan derasnya arus informasi.

Tantangan mendidik anak generasi milenial tentu berbeda dengan mendidik anak-anak generasi sebelumnya. Teknologi di tangan anak zaman sekarang adalah mainan sehari-hari. Istilah-istilah keren yang mungkin asing di telinga kita, sudah akrab di telinga mereka. Mencari informasi hanya cukup menjentikkan jari diantara jajaran keyboard, maka seluruh informasi yang dibutuhkan tersedia di depan mata.

Kira dan Kara adalah anak-anak generasi milenial. Youtube dan Google adalah mainan mereka sehari-hari. Ketika ada pertanyaan yang mentok dan tidak bisa dijawab bundanya, mereka sudah bisa berinisiatif mencarinya di google. Ketika mendapat tugas sekolah tentang pergerakan matahari, mereka bisa mencari ilustrasi ilmiahnya di youtube sesuai kata kunci yang mereka pilih sendiri. Tablet, laptop sudah akrab di tangan mereka. Meski semua masih berstatus milik bunda atau ayah, namun lincah mereka mainkan. Tentu saja semua masih dengan pendampingan. Karena tak semua informasi yang tersedia, ramah untuk pemahaman anak-anak. Begitulah sedikit gambaran tumbuh kembang anak generasi milenial.

GENERASI MILENIAL DAN NORMA

Akan menjadi tidak mudah, ketika orang tua dan anak memiliki pendapat yang berbeda tentang norma. Pemahaman norma bagi anak generasi milenial berbeda dengan pemahaman norma bagi generasi tahun 80’an. Anak yang tumbuh di era gadget mudah digenggam, adalah anak-anak yang terbiasa berinteraksi dengan ponsel pintar di tangan. Anak generasi 80’an adalah anak-anak yang bermain bersama teman menggunakan daun, batu dan kayu. Pola interaksi sosial yang berbeda inilah yang membentuk pemahaman yang berbeda tentang norma dan adab bergaul.

Mengajarkan anak generasi milenial tentang norma tidak bisa dengan ceramah dan nasihat setiap hari. Apa yang kita bicarakan akan menjadi angin lalu dan sebatas mampir di telinga. Menyamakan persepsi antara orang tua dan anak bukan lagi menjadi hal yang mudah. Tantangan orang tua bukan sekedar mendidik mereka untuk mendapat nilai tertinggi di sekolah, melainkan justru bisa berkomunikasi baik dan lancar dengan anaknya sendiri. Percayalah, berkomunikasi bukan lagi menjadi hal yang mudah.

Ironis bukan?

Di era yang katanya teknologi informasi begitu pesat berkembang, justru komunikasi orang tua dengan anak menjadi amat sulit. Di zaman yang ketika berbicara dengan orang di tempat yang jauh bisa langsung bertatap muka, justru pola bicara orang tua dan anak sangat susah untuk saling beradu mata. Teknologi yang katanya bisa membuat yang jauh terasa dekat, ternyata justru menjauhkan yang dekat. Apakah orang tua akan terus menutup mata akan hal ini?

FILM MY GENERATION

Upi melihat cerita dan fenomena generasi milenial ini menjadi kisah yang layak untuk diangkat ke layar lebar. Film yang menceritakan tentang kisah persahabatan remaja SMU ini mengambil cerita dari sudut pandang remaja yang mempertanyakan sikap orang tuanya. Dalam film ini Upi  sebagai Sutradara mengajak orang tua untuk memperlakukan anak-anaknya sebagai teman diskusi, bukan sebagai obyek perintah dan penanaman dogma.

4 pemain baru mengisi tokoh utama dalam film ini. Zeke yang diperankan oleh Bryan Angelo,  Konji diperankan oleh Arya Vasco, Lutesha sebagai Suki dan Alexandra Kosasie sebagai Orly. 4 Remaja yang yang merasa libur sekolahnya berantakan, dan kemudian menemukan petualangan yang tak terduga dalam menghabiskan masa liburannya. Selisih pendapat dengan orang tua, naik dan turunnya emosi persahabatan hingga masalah-masalah yang dihadapi empat remaja ini menjadi pelajaran berharga bagi kehidupan mereka.

Seperti film-film Upi pada umumnya, film My Generation ini juga memberikan gambaran yang terlalu berani untuk menelanjangi realitas kehidupan remaja masa kini. Karena itu pro dan kontra sudah mulai muncul sejak sebelum film ini tayang di bioskop. Memang tidak semua kehidupan remaja persis sama seperti yang tergambar dalam film ini. Namun kita juga tidak bisa menutup mata adanya realita kehidupan remaja yang sekarang sedang menjadi trend. Simak saja siapa selebgram yang sempat menjadi idola di kalangan anak muda dengan jumlah follower sosmed jutaan.

Dalam film ini juga, Upi menyodorkan kaca kepada kita untuk melihat diri sendiri, sudahkah kita memanusiakan anak-anak kita? Orang tua bukan Tuhan yang bisa menghakimi dan menempelkan stempel di wajah anak-anaknya. Orang tua juga manusia yang bisa salah dan khilaf. Sebagai orang tua, sudahkah kita bercermin contoh seperti apa yang sudah kita tunjukkan dan berikan kepada anak-anak kita?

My Generation memberikan gambaran sisi lain remaja generasi milenial yang sebenarnya open minded dan terbuka. Mereka adalah pribadi yang tidak ingin terikat dogma. Jika orang tua mendapati anak-anaknya malas pergi sekolah, tidak menyelesaikan tugas-tugas sekolah, jangan lantas memberikan mereka label pemalas. Mungkin sudah saatnya orang tua memberikan penyegaran dalam metode belajar anak-anak. Ajak mereka berkomunikasi tentang apa yang mereka inginkan dan ajarkan berpikir untuk menemukan solusi bersama-sama. Karena sesungguhnya anak-anak generasi milenial adalah anak-anak yang kritis dan kreatif.

Film yang akan tayang pada tanggal 9 November 2017 serentak di seluruh bioskop di Indonesia ini menjadi reminder untuk orang tua agar mereka mau membuka mata melihat realita kehidupan remaja. Sudah saatnya orang tua juga bepikir dan mengevaluasi diri sendiri tentang pola komunikasi yang dibangun dengan anak-anaknya.

Film ini tidak mengajak atau memberikan teladan pada kebebasan bergaul. Film ini mengajak kita berpikir dan bersikap kritis terhadap moral yang sebenarnya kita tanamkan pada anak-anak kita. Gambaran keterbukaan dan kebebasan bergaul yang ditampilkan dalam film ini hanyalah salah satu potret yang ditunjukkan tentang realita kehidupan remaja saat ini. Namun sesungguhnya yang ingin disoroti dalam film ini bukan pada kebebasan bergaul, namun pada pola komunikasi dan pola asuh penanaman moral yang dilakukan orang tua kepada anak-anaknya.

Tak hanya diisi oleh talenta-talenta baru, film My Generation ini juga akan dilengkapi oleh pemain lama seperti, Surya Saputra, Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Indah Kalalo, Karina Suwandi dan masih banyak lagi. Untuk mengerjakan film bergenre remaja ini, Upi juga telah melakukan riset social media hearing selama 2 tahun. Riset yang intensif ini juga digunakan Upi untuk melihat gaya percakapan dan pola dialog dalam komunikasi remaja. Sehingga adegan dalam film dapat mengalir halus sesuai trend anak remaja masa kini.

Bagaimana? Sudah siap untuk menonton bersama para anak remaja kita?

Sudah saatnya kita membuka diri untuk mendapatkan nada yang sama dengan anak-anak kita. Agar harmoni dalam keluarga bisa terus terjaga. Semoga kita tetap amanah dalam menjaga titipan-Nya.

……………

disclaimer: Semua foto yang digunakan di artikel ini diambil dari media sosial My Generation Film (IFI Sinema)

 

 

 

Review Buku: 7 Kebiasaan Anak Bahagia Karya Sean Covey (The 7 Habits of Happy Kids Collections)

Sudah kenal Sean Covey? Mungkin beberapa sudah sering mendengar tentang Stephen Covey ya? Stephen Covey adalah penulis buku laris berjudul “The 7 habits of highly effective people”. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam banyak bahasa dan bahkan digunakan dalam seminar-seminar. Nah, Sean Covey ini adalah anak dari Stephen Covey yang mewarisi ajaran-ajaran sang ayah.

Di jagat sosial media bahkan blog sudah banyak yang mengulas tentang buku Stephen Covey yang memang keren itu. Berhubung kebiasaan baik itu perlu ditanamkan sejak dini, maka Sean Covey membuat juga yang versi untuk anak-anak, berjudul “The 7 habits of happy kids”. Kebiasaan-kebiasaan yang ditulis oleh SEAN di dalam buku cerita anak terbarunya ini mengacu dan berlandaskan buku Stephen Covey yang lebih dulu terbit. Hanya saja, Sean menulis menggunakan Bahasa yang mudah dimengerti anak-anak. Sehingga kebiasaan-kebiasaan yang ingin di tanamkan akan lebih mudah dipahami. Karena apa yang ada di buku sama dengan yang sering mereka temui dalam kesehariannya.

Buku 7 habits for Happy Kids ini telah diterjemahkan ke dalam beberapa Bahasa termasuk, Bahasa Indonesia, menjadi judul “7 Kebiasaan Anak Bahagia”. Paket ini berisi 7 buku, yang masing-masing buku berisi 1 cerita anak. Cerita yang diulas di dalamnya berisi tentang kebiasaan baik 7 tokoh utama yang bisa ditanamkan untuk anak-anak agar mereka selalu memiliki jiwa bahagia.

Tidak bisa dipungkiri, tantangan mendidik anak jaman sekarang itu luar biasa yaa… Tekanan yang dimiliki anak-anak bukan hanya datang dari tugas-tugas sekolah, namun juga berasal dari tuntutan sosial mereka dalam berteman. Sementara orang tua tidak bisa membatasi pergaulan sosial anak-anak yang tentu semakin luas. Untuk memberikan pondasi yang kuat inilah, perlu ditanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Kebiasaan inilah yang bisa mereka bawa agar jiwa-jiwa bahagia juga bisa terus mereka miliki dalam menghadapi tuntutan jaman yang semakin menggila.

7 kebiasaan ini sebenarnya nampak sederhana, namun sering luput dari orang tua untuk ditekankan pengajarannya dalam parenting mereka sehari-hari. Mendidik anak bukan hanya sekedar mengajarkan mereka mendapat nilai baik di sekolah, atau menghindarkan mereka dari rengekan berkepanjangan. Tapi orang tua juga selayaknya mengajarkan mereka menjadi mandiri. Bukan hanya sekedera mandiri dalam memenuhi kebutuhan pribadinya, namun juga mandiri secara emosional. Artinya, ketika menemui kendala, mereka mampu mengatasinya sendiri, dan mengolah emosinya agar tidak merugikan orang lain.

Buku 7 Kebiasaan anak bahagia

7 Kebiasaan apa saja sih yang di tulis dalam set buku ini?

  • Menjadi diri sendiri

Pokey si Landak, tidak menyukai bulu-bulu tajam di tubuhnya. Teman-temannya menjauhi dan mentertawainya. Mereka tidak tahu mengapa Landak dipenuhi duri tajam di tubuhnya. Di cerita ini, anak-anak diajak untuk belajar mengenal dirinya sendiri. Kita tidak dapat mengendalikan apa yang dilakukan orang lain, namun kita bisa mengajarkan pada anak-anak untuk mengontrol apa yang ada pada dirinya dan mengendalikan perasaannya. Dengan mengenal dirinya sendiri, anak-anak akan lebih mudah mengontrol perasaan dan emosinya.

  • Mengenal Proses

Allie membayangkan dirinya menjadi dewasa. Ia bisa pergi tidur kapan saja, memakai riasan tebal, memakai baju-baju cantik, atau pergi ke swalayan sendiri. Ia belum menyadari bahwa untuk mencapai itu semua, ia harus melalui proses menjadi mandiri. Di cerita ini, anak-anak diajak mengenal proses. Tidak semua bisa langsung menjadi besar, atau langsung menjadi indah. Untuk mencapainya, ada yang namanya proses. Sebelum menjadi kue, tepung harus melalui proses dibuat adonan dan dimasak. Sebelum menjadi baju, benang harus dipintal menjadi kain dan dijahit. Agar kenyataan bisa seindah mimpi, penting untuk mengenalkan proses pada anak-anak.

  • Menjadi Teratur dan Disiplin

Betapa sedihnya Jumper ketika ia tidak dapat ikut bermain Basket karena tidak dapat menemukan sepatu ketsnya. Lubang rumahnya berantakan. Tak heran ia tidak dapat menemukan sepatu ketsnya. Membaca cerita itu, anak-anak belajar pentingnya untuk meletakkan benda-benda sesuai tempatnya. Menjadi teratur dan disiplin akan mempermudah segalanya. Jika ingin menjadi anak yang bahagia, maka bisa dimulai dengan menjadi teratur dan disiplin. Tidur, makan dan bermain sesuai waktunya.

  • Tidak Merasa Iri dan Membanding-bandingkan Diri Dengan Orang Lain

Sammy dan Sophie adalaha saudara kembar. Namun Sophie selalu berhasil melakukan semuanya lebih baik dari pada Sammy. Di sekolah, Sophie selalu mendapat nilai lebih tinggi dari Sammy. Sophie juga sering menjadi juara di banyak perlombaan. Itu membuat Sammy menjadi iri dan membandingkan dirinya dengan saudara kembarnya. Menanamkan rasa percaya diri pada anak-anak itu penting. Buku ini mengajak anak-anak untuk mencari kelebihan dan potensi yang ada pada dirinya sendiri. Karena semua anak itu memiliki keistimewaannya sendiri. Anak-anak akan lebih bahagia jika ia tahu apa yang dimilikinya juga berharga. Karena itu ajak anak-anak berhenti membanding-bandingkan diri dengan orang lain.

  • Belajar Mendengarkan Orang Lain

Lily merasa dirinya sudah tahu segalanya. Ketika ia memutuskan untuk membuat kue, ia merasa sudah hafal semuanya, sehingga tidak perlu melihat resep kembali. Ternyata hasilnya jauh berbeda. Andai saja ia mau meluangkan waktu mendengar saran ayahnya… Begitu juga dengan anak-anak. Mereka akan belajar dari kegagalan. Sering anak merasa bisa dan merasa tahu, sehingga enggan untuk mendengarkan. Di cerita ini, anak-anak diajak belajar pentingnya mendengar dan membaca ulang.

  • Bekerja sama

Sophie harus berpasangan dengan Biff untuk mengerjakan tugas sekolah membuat puisi. Sophie tidak suka berpasangan dengan Biff, karena ia mengira Biff adalah anak yang jahat. Sophie belum pernah berbincang dan mengenal Biff. Apa yang terjadi setelah Sophie mengenal Biff?

Menjadi berbeda itu bukan sesuatu yang menakutkan. Di cerita ini, anak-anak diajak belajar untuk bekerja sama dengan siapa saja. Karena tidak ada 2 manusia yang sama di dunia, maka setiap orang pasti memiliki sesuatu yang istimewa. Perbedaan pendapat bisa saja terjadi setiap saat. Itulah pentingnya melihat dari segala sudut pandang yang berbeda, dan belajar bekerja sama mencari jalan keluar terbaik.

  • Empati

Kakek Goob meninggal. Padahal Goob sangat dekat dan sering bermain bersama kakeknya. Setiap hari Goob murung dan malas melakukan apa saja. Goob sudah lama tidak masuk sekolah. Apa yang dilakukan teman-teman Goob agar ia kembali ceria? Empati adalah salah satu hal terpenting dalam bersosialisasi. Hingga saat ini, masih banyak orang tua yang lupa mengajarkan berempati kepada anak-anaknya. Ditambah lagi kebiasaan era digital yang lebih individualis, makin mengikis rasa empati anak-anak. Karena itu penting mengenalkan anak-anak untuk menjadi peka dengan lingkungannya dan belajar berempati.

Buku ini juga berisi parents corner atau pojok orang tua. Di halaman ini diuraikan apa saja hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak-anak, sesuai dengan isi cerita. Di sini juga ada beberapa pertanyaan yang bisa digunakan orang tua untuk mereview ulang isi cerita bersama anak-anak. Sehingga kita tahu seberapa jauh daya tangkap si anak terhadap isi cerita. Selain itu, halaman ini juga dilengkapi panduan bagi orang tua dalam berdiskusi dengan anak tentang pesan moral yang ditangkap dari cerita tersebut.

Selain itu buku ini juga dilengkapi dengan poster Pohon 7 Kebiasaan atau The 7 habbits Tree. Di dalam poster ini digambarkan 7 kebiasaan yang bisa dimulai dari akar, yaitu kebiasaan yang dimulai dari sendiri, hingga kebiasaan ketika bergabung bersama teman-teman. Kebiasaan-kebiasaan ini yang akan membuat anak-anak memiliki jiwa yang bahagia dan tumbuh menjadi anak mandiri. Kebiasaan yang ada di poster ini bisa ditanamkan sedini mungkin dan menjadi self-reminder juga untuk orang tua.

Menarik bukan?

Dari buku ini anak-anak bukan hanya sekedar membaca atau mendengarkan cerita. Mereka diajak untuk menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik sejak dini. Kebiasaan-kebiasaan baik inilah yang akan terus mereka bawa dan menjadi bekal untuk tumbuh tangguh dan kuat dalam menghadapi tantangan derasnya arus informasi di era digital. Satu set buku Koleksi Cerita 7 Kebiasaan Anak Bahagia ini bisa diperoleh kisaran harga Rp. 120.000an hingga Rp. 160.000an.

Selamat membaca!