Menjawab Pertanyaan Anak Tentang Kehamilan

Memiliki anak yang kritis dan berani bertanya itu memang harus banyak-banyak disyukuri. Meskipun kami sering sekali kena skak mat lewat pertanyaan-pertanyaan dua bocah kunyil. Terkadang pertanyaan mereka di luar dugaan. Tak jarang mereka tidak terima hanya dengan jawaban datar atau menggantung. Kalau diburu rasa penasaran, mereka akan terus mengejar dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan yang sering bikin kami pijit kening.

Seperti beberapa hari yang lalu duo kunyil pulang sekolah tiba-tiba bertanya “Bunda, kata si C kalau nanti sudah umur 10, kita tidak boleh berteman sama anak laki-laki. Si C bilang kalau kita berteman sama anak laki-laki nanti bisa bikin hamil.”

Sontak saya kaget sekaligus ingin tertawa mendengar pertanyaan itu. Tapi sebisa mungkin saya tahan dan tetap menunjukkan wajah biasa seolah itu adalah pertanyaan yang wajar. Tujuannya agar mereka tidak merasa malu atau takut untuk terus bertanya lagi. Maka pelan-pelan pun saya jelaskan kepada mereka bahwa perempuan bisa hamil itu melalui proses bertemunya sel sperma milik laki-laki dengan sel telur milik perempuan.

Seperti bunga sebelum menjadi buah, maka harus melalui penyerbukan, di mana benang sari bertemu putik yang dibantu oleh angin atau serangga. Sampai di sini duo kunyil paham dengan proses penyerbukan yang harus dilalui sebelum menjadi buah. Kami sudah pernah membahas hal tersebut ketika mereka berusia 6 tahun.

Duo kunyil juga paham kalau laki-laki memilki sel sperma dan perempuan memiliki sel telur. Bunda haid setiap bulan untuk mengeluarkan sel telur yang tidak dibuahi pun mereka juga sudah pernah belajar sebelumnya. Kami mengajarkan tentang hal tersebut ketika mereka bertanya kenapa bunda tidak sholat. Saya jelaskan tentang apa itu haid dan bagaimana siklus haid setiap bulan bisa terjadi pada perempuan.

Ketika menjelaskan proses haid dan memperkenalkan tentang sel sperma dan sel telur, mereka tidak bertanya lebih lanjut. Pada saat itu mungkin pertanyaan mereka sudah cukup terjawab. Namun tanpa diduga, sore itu mereka mengajukan pertanyaan lanjutan yang bikin jantung saya berdebar. Tiba-tiba mereka bertanya “bagaimana sel sperma laki-laki bisa bertemu dengan sel telur perempuan, Bunda? Tidak mungkin dibantu angin atau serangga seperti penyerbukan kan ya? Tidak mungkin juga hanya dengan ngobrol seperti kata si A ya, Bund?”

Dengan beralasan sambil menata baju saya sedikit mengulur waktu untuk mencari kata-kata yang mudah dimengerti anak tanpa harus merusak fitrah belajar mereka. Sungguh itu pertanyaan yang membuat saya berpikir cukup keras dan banyak-banyak berdoa agar apa yang saya sampaikan menjadi hal yang baik.

Maka dengan banyak merapal istighfar saya sampaikan kepada mereka bahwa proses bertemunya sel sperma dan sel telur itu melalui proses yang melibatkan organ tubuh kita. Sama seperti kita ingin berkenalan dengan orang lain maka harus berjabat tangan. Atau ketika kita ingin berdoa dengan menengadahkan tangan. Proses pembuahan pun juga melibatkan anggota tubuh laki-laki dan perempuan. Lebih lanjut saya sebutkan kepada mereka bahwa proses tersebut hanya boleh dilakukan oleh seorang laki-laki dan perempuan yang sudah menikah. Kalau kata kebanyakan orang itu bernama “berhubungan b*d*n”.

(maaf di sensor agar tidak kena banned google)

Saya cukup lega ketika mereka tidak mempermasalahkan tentang organ tubuh lebih lanjut. Mereka lantas bertanya kenapa harus menikah? Kurang lebih berikut jawaban yang saya berikan:

Menikah adalah wujud komitmen dua orang dewasa yang ingin membangun rumah tangga dan mendidik anak-anaknya. Pernikahan juga untuk menjaga manusia agar lebih sehat dan fokus. Itu juga yang membedakan manusia dengan hewan. Manusia dianugerahi akal, pikiran dan hati untuk menjaga keluarganya. Karena itu hanya orang dewasa yang sudah siap berkomitmen yang berani menikah dan membangun keluarga.

Saya jelaskan panjang lebar tentang apa itu komitmen dan tanggung jawab ketika sudah berkeluarga. Tentunya dengan bahasa yang dimengerti anak-anak. Perumpamaan pun juga saya pakai yang mudah dilihat anak-anak. Misalkan kalau orang yang sudah siap berkeluarga dan memiliki anak, suatu saat anaknya rewel minta es krim, orang dewasa akan tahu bagaimana caranya mencari uang untuk anak-anak dan istrinya. Tidak mungkin kan anaknya rewel trus ditinggal di pinggir jalan, trus beli anak baru lagi? Mereka pun menanggapinya dengan tawa tergelak-gelak.

Hingga akhirnya bahasan pun beralih tentang pacaran. Kebetulan pula sehari sebelumnya mereka melihat tulisan “Dilarang pacaran di taman” mereka pun lantas bertanya banyak hal tentang pacaran. Namun karena ada tugas domestik memanggil, Insyaallah dilanjutkan di artikel berikutnya. Semoga masih diberi waktu agar saya bisa terus berbagi cerita.

Semoga kita sama-sama menjadi orang tua yang diberi kemampuan menjawab pertanyaan anak-anak tanpa menghilangkan fitrah belajar mereka. Jawaban kita akan diminta pertanggung jawabannya hingga akhirat kelak. Semoga kita sama-sama menjadi orang tua yang bijak dan berpengetahuan luas. Yang jelas, jangan pernah lelah untuk ikut belajar. Selamat (terus) belajar!

Kira dan Mobil Hotwheels : Tentang Pelajaran Pantang Menyerah

 

Sudah lama Kira menginginkan mobil Hotwheels. Mobil-mobilan yang bagi kami terbilang mahal untuk ukuran mainan. Mengingat kualitas mainannya memang bagus, maka layak juga harganya sedikit mahal. Iyalah, untuk saya yang terbiasa membeli mainan 5000an, kalau harus membelikan mainan 30.000 ya lumayan juga. Apalagi kalau si bocah maunya koleksi. Bisa bikin mules kantong bundanya.

Nah, untuk mengakomodir keinginan tersebut, saya meminta Kira mengumpulkan uang sakunya. Setiap hari senin dan selasa, Kira mendapat jatah uang saku 2000. Jatah uang sakunya memang hanya seminggu dua kali, sesuai tingkat sekolahnya. Nanti naik ke kelas tiga, berhak menerima uang saku seminggu 3 kali, dan seterusnya.

Untuk mengumpulkan uang 30.000 itu berarti harus sabar menanti hingga 7 minggu, atau sekitar 2 bulan. Itupun jika dia tidak tergoda membeli jajanan di sekolahnya. You  may call me, emak kejam. Tapi begitulah buat saya proses yang harus dilewati.

Pada perjalanan waktu, ternyata ada kejadian yang membuat saya takjub. Ketika uangnya sudah terkumpul 12.000 ia melihat akung mau ke rumah sakit tanpa memakai sandal di kursi rodanya. Ketika Kira bertanya, Saat itu akung menjawab kalau sandalnya rusak. Tanpa diduga, Kira dan Kara memberikan semua hasil mengumpulkan uang sakunya untuk membeli sandalnya akung. Kata mereka, kasihan akung kan sudah tidak bekerja, tidak punya uang saku, jadi tidak punya uang.

Mendengar itu, ayahnya yang sudah lama gatel membelikan hotwheels dan barbie, pulang kantor langsung bawa hotwheels. Runtuh juga pertahanannya mendengar cerita anak-anaknya. Apa yang kami lakukan bukan sekedar tentang seberapa mahal harga mainan, tetapi tentang melatih bocah dalam meraih apa yang mereka inginkan.

Kira dan Kara tumbuh di lingkungan yang bagi kami sangat kondusif. Jika meminta sesuatu, dan mereka tahu ayah atau bundanya tak mampu, maka ada uti, akung atau om/tantenya yang siap membantu. Untuk itulah, terkadang fight spirit yang mereka miliki kurang terasah. Maka dari itu tega tak tega, suka tak suka, kami memanfaatkan momen hotwheels tersebut untuk merangsang fight spirit mereka.

Ternyata dari perjalanan mengumpulkan uang tersebut, kami belajar banyak hal. Bahwa menahan diri itu bukan hanya hal yang harus dipelajari anak-anak, tetapi juga orang tua. Di saat kami ada rezeki yang dapat kami belikan mainan apapun untuk Kira dan Kara, rasanya saat itu juga ingin melompat ke mall untuk membawa pulang bingkisan. Namun kini kami belajar untuk menahan diri. Bukan karena kami tidak sayang, tapi kami ingin membuat tantangan-tantangan yang dapat di lalui duo kunyil demi melatih kemampuannya berjuang mendapatkan sesuatu.

Seperti kita tahu terkadang kondisi di dunia bisa saja tidak seideal yang kita inginkan. Tentu kita tidak ingin bocah tiba-tiba menghadapi masalah lantas menyerah. No. Jangan sampai!

I won’t give up, no I won’t give in
Til I reach the end and then I’ll start again
No I won’t leave, I wanna try everything
I wanna try even though I could fail

Seperti lagu soundtrack Zootopia yang sering kami nyanyikan sama-sama, kami ingin Kira dan Kara pun tidak lelah untuk selalu berdiri lagi ketika jatuh.

Buibu pasti ngeri kan kalau dengar anak-anak masih usia belasan tahun sudah bunuh diri. Dengan tipikal bocah yang kadang penuh drama, maka mumpung masih ada di tangan kami, maka kami ciptakanlah tantangan-tantangan yang ketika melihat mereka jatuh kami masih mampu untuk memberikan semangat dan dorongan untuk berdiri lagi. Harapannya tentu suatu saat ketika kami sudah tak lagi mampu mendampingi, mereka telah memiliki bekal untuk tak pernah menyerah.

Nah, berikut hasil rangkuman perjalanan hati bersama Kira, Kara dan tantangan HOTWHEELS beberapa waktu yang lalu. Ada beberapa hal yang kami lakukan untuk membentuk anak memiliki semangat pantang menyerah:

  • Memberikan tantangan-tantangan kecil sesuai usia dan kemampuannya. Tantangan ini akan meningkat seiring usianya bertambah. Tantangan yang diciptakan orang tua tentu akan berada dalam ambang batas pengawasan orang tua yang risikonya dapat ditoleransi. Sehingga ketika mereka jatuh orang tua dapat memberikan semangat dan motifasi untuk mereka berdiri lagi.

 

  • Mengupas setiap masalah yang mereka temui dan mereka alami bersama orang-orang sekitarnya di luar lingkungan keluarga. Terkadang mereka bermasalah dengan teman, guru, atau orang lain yang mereka temui yang bukan dari keluarganya. Saatnya orang tua menahan diri untuk ikut campur, dan memberikan kesempatan untuk mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Jika ingin memberikan bantuan, berikan masukan atau saran yang dapat membantu mereka menyelesaikan masalahnya sendiri. Namun tetap biarkan anak-anak menghadapinya dengan kemampuannya. Terkadang mereka memiliki daya improvisasi yang tidak kita duga dalam menyelesaikan masalahnya.

 

  • Ketika anak-anak pulang menangis, mengeluh, jangan lantas memarahi atau memberikan stempel “penakut, cemen, lemah” atau semacamnya. Ketika mengalami saat jatuh, wajar kok dilampiaskan dengan rasa sedih, marah, menangis atau teriak. Bagi kami yang penting setelah itu anak-anak dapat kembali tegak berdiri dan siap menghadapi masalahnya lagi. Memang dibutuhkan kekuatan hati seluas samudra. Tapi bukankah di saat seperti ini lah kita pun juga tengah belajar meluaskan hati. Biarkan mereka menumpahkan isi hatinya, setelah itu beri motivasi untuk berdiri lagi.

 

  • Beri mereka pengertian bahwa kadang apa yang kita inginkan tidak bisa semua kita dapatkan. Bahkan ada beberapa keinginan yang harus didapatkan dengan bekerja keras dan perjuangan. Beri contoh perjuangan-perjuangan yang telah dilakukan orang tua atau nenek/kakeknya dalam mendapatkan sesuatu. Bisa jadi cerita dan kisah nyata menjadi motivasi yang akan selalu mereka ingat.

 

  • Tak lupa landasi anak-anak dengan iman yang kuat. Ajarkan tentang doa dan kisah agama yang bisa menjaga kekuatan hati anak-anak. Bagaimanapun juga Tuhan lah tempat berlindung dan meminta yang paling bisa diandalkan di saat terjatuh. Bukankah Tuhan yang Maha Kuat?

Bagaimana dengan buibu? Adakah pengalaman memberikan tantangan pada anak-anak dan mendapat suatu pelajaran bersama mereka? Kalau ada yang punya tips dan ilmu serupa, dengan senang hati bisa dibagi di kolom komentar. Siapa tahu ilmunya bisa menjadi bekal jariyah yang bisa terus dibaca bahkan di saat kita sudah tiada. Selamat berbagi!

Ceritaku Tentang Insiden Merah Putih

Meski sudah bukan bulan agustus lagi, tapi boleh ya curcol cerita dulu. Momen 17 Agustus biasanya selalu semarak dengan cerita-cerita tentang para Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (PASKIBRAKA). Mereka yang terpilih untuk menjadi anggota PASKIBRAKA sudah bisa dipastikan adalah anak-anak yang memiliki ketangguhan luar biasa. Seleksi yang diadakan bukan hanya seleksi fisik, namun juga prestasi akademik dan kemampuan non akademik. Setelah lolos seleksi fisik, memiliki tinggi badan yang telah ditentukan, para peserta seleksi akan dipilih lagi berdasarkan prestasi yang dimiliki. Ditambah lagi tempaan-tempaan yang harus diterima selama masa karantina pimilihan di tiap-tiap daerah. Menurut kakak kelas SMA yang dulu pernah ikut seleksi, prosesnya memang luar biasa berat. Tak heran, para alumni PASKRIBAKA akan memiliki banyak keistimewaan setelah selesai menjalankan tugasnya.

Nah, membayangkan ikut proses seleksinya saja aku tidak berani. Dengan badan yang petite, aku cukup sadar diri kalau seleksi tahap awal saja tak mungkin diterima. Jangankan seleksi tingkat nasional, tingkat sekolah saja aku tak pernah dilirik. Iyalah, badan mungil begitu. Jadilah aku tak pernah punya pengalaman sama sekali, SAMA SEKALI tentang menjadi anggota pengibar bendera pusaka.

Hingga suatu saat ada momen yang sangat ajaib tiba…

Sebenarnya ingatan tentang kisah ini bermula ketika Kara sedikit kecewa setelah tahu yang terpilih menjadi anggota PASKIBRAKA adalah mereka yang memiliki tinggi badan tertentu. Postur Kara sekarang mewarisi postur tubuhku yang mungil. Meski sudah berusaha kujelaskan kalau ia masih dalam tahap pertumbuhan dan masih sangat mungkin tumbuh lebih tinggi daripada bundanya, namun ternyata itu tak cukup mengobati rasa kecewanya. Maka ketika sekedar nasihat tak mempan lagi, mau tak mau harus disisipi cerita. Kebetulan aku punya kisah ajaib tentang menjadi anggota PASKIBRAKA tersebut.

Ketika kelas 2 SMU aku pernah terpilih untuk mengikuti kegiatan RAIMUNA DAERAH di kota Pasuruan. Raimuna Daerah adalah sejenis perkemahan pramuka tingkat daerah untuk siswa-siswa SMU atau Penegak. Para anggota PRAMUKA terpilih dari seluruh daerah Jawa Timur akan berkumpul dan mengikuti rangkaian kegiatan. Mulai dari ketrampilan, survival, SAR, dan masih banyak lagi.

Nah, di kegiatan perkemahan semacam ini, setiap hari akan ada apel pagi dan apel sore. Setiap apel pagi, seluruh peserta akan dikumpulkan di lapangan dan mengadakan upacara pengibaran bendera merah putih. Sedangkan apel sore untuk upacara penurunan bendera. Begitu terus setiap hari hingga acara selesai. Entah rezeki nomplok atau kesambet apa, tiba-tiba aku ditunjuk untuk menjadi petugas pengibar bendera di salah satu apel pagi.

Coba bayangkan, diantara ratusan anggota pramuka yang berkumpul dari seluruh Jawa Timur, kok ya bisa ada anggota yang berbadan kurus dan mungil bisa terpilih menjadi petugas pengibar bendera. Padahal masih banyak anggota lain yang jauh lebih mumpuni, jauh lebih tinggi, jauh lebih atletis, jauh lebih berpengalaman dan jauh lebih segalanya yang bisa menjadi wakil untuk petugas pengibar. Kenapa aku? Begitulah yang namanya jalan rezeki dari yang Maha Kuasa itu tidak butuh alasan apapun. Kalau sudah nasibnya dapat, ya dapat aja gitu. Gak dibutuhkan logika.

Dengan bercucuran keringat dingin maka aku berjalan ke tengah lapangan, mengikuti gladi resik seperti menemui penjagal. Jangan ditanya usahaku. Aku sudah berusaha menolak. Aku sudah berusaha memohon. Aku pun sudah berusaha mengikuti gladi resik dengan tertib. Ndilalah kersane Allah, kok ya gladi resik itu hanya sebatas baris berbaris untuk mengatur kekompakan barisan saja. Kalau baris-berbaris, aku boleh sombonglah, aku bisa. Aku cukup tertib. Yang aku gak pernah tahu itu gimana cara membentangkan bendera. Sepele, dudut atau gimana, entahlah. Yang jelas saat itu aku gak tahu cara membentangkan bendera. Dah terima aja. Duh Gusti, kok ya pas itu gak kepikiran sama sekali untuk tanya. Sependek pengetahuanku saat itu membentangkan bendera itu ya asal bentang gitu aja. Ambil ujung bendera merah dan bendera putih lalu dibentangkan seperti membentangkan jemuran gitu aja.

you know what, guys?

Rangkaian kegiatan apel pagi berjalan seperti biasa, hingga tiba saat pengibaran bendera merah putih. Pas aba-aba hormat kepada sang saka sudah diteriakkan, maka kubentangkanlah bendera itu. Ternyata, bendera di tanganku TERBALIK. Tangan kananku memegang warna putih, dan tangan kiriku memegang warna merah. Jadilah bendera itu mbulet gak karuan. Sontak bukan hanya keringat dingin yang keluar, tapi juga dada deg-deg’an bercampur rasa panik karena tahu pasti akan ada hukuman setelah ini.

Komandan upacara langsung memberikan aba-aba balik kanan, agar seluruh peserta upacara tidak melihat ketika aku memperbaiki kesalahan dengan membentangkan bendera ke posisi yang benar. Salah satu pembina lari mendekatiku sambil membantu dan mengajariku. Tak lupa si kakak pembina menyuruhku menghadap ke tenda panitia setelah upacara selesai.

Jegeeerrr… ini dia. Hukuman apa yan kira-kira akan aku dapatkan?

Dengan lunglai kami bertiga berjalan menuju tenda panitia. Aku pasrah berjalan bersama teman-temanku, yang entah aku lupa dari wakil daerah mana saja saat itu. Aku gak sempat berkenalan dan gak kepikiran untuk kenalan dengan dua lelaki teman sesama pengibar bendera tersebut. Mungkin mereka pun sudah ilfil sama aku. Aku siap menerima hukuman apapun. Aku sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala bentuk hukuman. Bagaimanapun juga itu memang salahku.

Sesampainya di tenda panitia aku disambut hangat dan disapa dengan ramah oleh salah satu kakak pembina yang mengenakan seragam Angkatan Udara. Aku kaget. Ternyata ketua penanggung jawab acara perkemahan tingkat daerah tersebut cukup aku kenal. Beliau salah satu mentor di kegiatan Saka Dirgantara yang aku ikuti di Lanud Iswahyudi Madiun. Ada rasa lega sekaligus malu. Lega karena bakal tahu hukuman yang kuterima tidak akan seberat dugaanku dan malu karena ketahuan bikin salah. heuheuheu. Benar saja setelah diberi wejangan panjang lebar dan basa-basi ala kadarnya, kami hanya disuruh scotch jump dan diizinkan kembali ke tempat.

Fiuuuuh legaaa…

Gaya Pengasuhan Ibu Dulu Ketika Anaknya Ujian

 

Hari ini saya dapat reminder dari wali kelas si bocah kalau bulan depan sebelum puasa, anak-anak sudah menghadapi ujian semester. Tak berapa lama, whatsapp group saya heboh dengan celoteh para ibu yang membahas tentang ujian sekolah. Beruntungnya isi celotehan bukan berbagi kepanikan menghadapi ujian, tetapi berbagi pengalaman bagaimana ibu-ibu kita dulu menghadapi anak-anaknya yang mau ujian. Isinya? Beragam. Ada yang diwajibkan dapat juara 1, ada yang super selow, belajar terserah, gak belajar, rasain sendiri. Bagaimana dengan ibu saya?

Ibu saya bukan seorang ibu yang bisa mengenyam pendidikan tinggi. Kehidupan ibu cukup keras dalam mengawal adik-adiknya. Beliau rela untuk tidak meneruskan sekolah demi adik-adiknya bisa bersekolah, hingga lulus sarjana. Sementara ibu sendiri hanya bisa sekolah sampai kelas 5 SD. Beliau menghabiskan masa mudanya dengan bekerja di sebuah pabrik kosmetik ternama di Surabaya.

Ibu tak pernah memaksakan kami untuk harus menjadi juara. Pun ibu tak pernah memberikan target kepada kami harus mendapat nilai tertentu. Untuk urusan nilai dan ranking, ibu sangat demokratis. Yang ibu tahu hanya ibu harus bekerja sekuat tenaga bersama bapak, demi memberikan hidup yang layak untuk empat anaknya.

Namun jangan dikata hal yang sama berlaku untuk urusan pekerjaan rumah. Saya dan adik-adik punya kewajiban untuk mencuci baju seluruh orang di rumah sejak kami masih duduk di sekolah dasar. Setiap pagi, selain harus mengisi air untuk mandi, kami harus membantu ibu mencuci baju. Awalnya tugas kami hanya membilas baju atau menjemur baju yang sudah dicuci saja. Lama kelamaan, tugas mencuci diserahkan kepada kami sepenuhnya. Kalau bangun kesiangan, jangan dikira kami bebas dari tugas mencuci baju. Kalau bangun kesiangan ya tetap harus selesaikan dulu mencuci baju, baru bisa berangkat sekolah. Sampai sekolah terlambat? Resiko ditanggung sendiri. Mungkin itu juga yang menyebabkan kami harus pandai-pandai mengatur waktu sendiri, sejak kami masih SD. Hampir tidak ada teriakan cempreng yang membangunkan kami. Lantas kenapa sekarang saya menikmati sekali gegoleran di tempat tidur kalau libur tiba ya? Anggap saja itu bentuk pelampiasan dan kemerdekaan. *ngeles*

Untuk urusan ujian, ibu tak pernah benar-benar tahu. Apakah besok mulai ujian atau tidak, ibu blasss gak paham. Jadi tidak ada teriakan panjang, atau tausiah berjam-jam ketika kami mau ujian. Suasana menjelang ujian, mau itu ujian ebtanas atau ujian catur wulan (dulu masih pakai sistem cawu), semuanya bergantung sama kesiapan kami masing-masing. Justru yang sering terjadi malah saya yang ngomel panjang untuk mengajak dua adik lelaki saya belajar.

Yaaaa… mohon dimaklumi, sebagai anak pertama dan perempuan satu-satunya, saya adalah mahluk paling bawel di rumah. Apalagi untuk urusan belajar dan urusan sekolah. Mungkin ibu bisa selow juga karena sudah ada saya yang nyinyirnya masyaAllah ketika adik-adiknya mau ujian. Hampir setiap malam saya yang nguprek-uprek adik dan membantu mereka belajar. Bahkan kalau bapak menyalakan TV saat kami belajar, sudah bisa ditebak siapa yang bakal nyinyir duluan.

Entah kesambet setan mana, yang jelas ketika berurusan dengan pelajaran di sekolah, saya mudah panik sendiri. Meski ibu atau bapak tidak pernah menegur saya atau bertanya dapat nilai berapa, saya merasa takut ketika teman-teman bisa melakukan sesuatu, tetapi saya tidak bisa. Kesadaran untuk belajar itu timbul karena ada rasa saya tidak ingin tertinggal, saya juga harus bisa.

Ibu tidak pernah mewajibkan jam sekian sampai jam sekian harus belajar. Ibu tidak pernah menanyakan hari ini saya ada PR atau ulangan harian saya dapat berapa? Ibu tidak tahu sama sekali apakah hari ini saya bisa menjawab pertanyaan di sekolah atau saya kena strap karena terlupa mengerjakan tugas. Mungkin yang ibu tahu hanya hari ini anaknya pulang sekolah tidak menangis. Itu saja sudah cukup.

Saya kecil adalah mahluk penakut dan cengeng. Masuk TK, saya berkali-kali membuat baju ibu sobek karena adu tarik. Saya tidak mau masuk kelas tanpa ditemani ibu. Saya kecil adalah sasaran empuk perundungan. Waktu TK saya punya teman yang rajin sekali memukul dengan keset atau penggaris setiap kali berbaris, dan saya adalah sansak setianya setiap hari. Masih terbayang jelas betapa takutnya saya setiap kali waktu sekolah tiba. Maka tak heran, saya pun takut bukan main ketika lupa mengerjakan tugas atau tidak bisa menjawab soal. Itu kenapa ibu tak perlu capek teriak untuk membuat saya belajar.

Meski tidak ada tuntutan dari bapak maupun ibu, kesadaran belajar dan mengatur waktu itulah yang membuat saya menjadi langganan juara ketika sekolah. Setiap ujian tiba, biasanya saya minta ibu membangunkan saya jam 3 pagi untuk belajar. Untuk masalah begadang, iman mata saya sangat lemah. Jadi jika ada yang harus saya kerjakan hingga larut malam, saya memilih tidur dulu, dan bangun lebih awal untuk mengerjakannya. Demikian juga ketika ujian. Saya memilih tidur dulu, dan bangun sebelum shubuh untuk belajar. Pagi buta itu biasanya saya sendiri. Setelah membangunkan saya, jika ibu terlalu capek, kadang ibu tidur lagi. Namun tak jarang ibu turut beranjak ke dapur untuk menjerang air dan membuatkan saya secangkir teh hangat. Setelah ditemani teh hangat, ibu kembali membiarkan saya sendiri khusuk dengan buku-buku.

Demikianlah gaya pengasuhan ibu saya dulu dalam masalah sekolah. Beberapa hal masih saya pakai hingga sekarang. Saya juga tidak pernah menuntut dua bocah kecil saya untuk memiliki nilai tertentu. Saya tidak pernah mewajibkan bocah kecil saya jam sekian harus belajar. Namun untuk membentuk disiplin belajarnya, biasanya saya berikan mereka pilihan, mau belajar siang selepas pulang sekolah, atau belajar malam hari setelah pulang mengaji. Mereka bebas memilih. Bahkan kalau bersama ayahnya, mereka juga bebas untuk tidak memilih keduanya. Tapi kalau sama bundanya, tetap harus dipilih salah satu. Selebihnya mereka bebas bermain dan bereksplorasi, main lego, membaca, bikin-bikin, pretend play, terserah.

Kebebasan yang kami berikan bukan berarti kami tidak peduli dengan pendidikan. Kami tetap concern dengan hal-hal yang menjadi minat dan bakat dua bocah tersebut. Mereka harus menguasai skill tertentu yang menjadi kesukaan mereka. Kami tidak mewajibkan mereka harus memiliki nilai 100 di semua pelajaran. Namun untuk hal-hal yang menjadi kesukaan mereka, tanpa harus dikomando dan dipaksa, nilai 100 mudah saja tergenggam.

Seperti yang sering di dengungkan para alumni the urban mama, “there is always different story in every parenting style”. Tidak ada kebenaran yang mutlak dalam pola asuh. Apa yang terjadi dalam keluarga kami, adalah yang cocok bagi gaya kami. Tulisan kali ini pun hanyalah kenang-kenangan atas nama masa kecil. Jika kalian memiliki pendapat yang berbeda pun tak mengapa. Bebas untuk berbagi di kolom komentar. Semoga bisa membantu melegakan perasaan bagi yang sejalan dan senasib. Selamat (terus) belajar!

Cerita Tentang Tantangan Membaca

Minggu lalu Kira dan Kara membawa pulang formulir dari sekolah yang isinya tentang laporan daftar buku untuk tantangan membaca. Rupanya sekolah mengadakan program tantangan membaca untuk seluruh muridnya. Tantangan ini dimaksudkan untuk menumbuhkan cinta literasi di kalangan anak sekoah dasar. Program yang bagus nih!

Baca Juga: Ketika Si Kembar Masuk SD

Tapi ternyata setelah melewati satu minggu dari tantangan tersebut, saya dibuat mules dengan kenyataan-kenyataan yang saya dapati diantara para wali murid. Sebelum curhat tentang para wali murid yang bikin mules tersebut, saya mau curhat tentang perjalanan belajar membaca Kira dan Kara dulu boleh yaaa..

Kira dan Kara sudah akrab dengan buku sejak masih dalam kandungan. Saya senang membaca buku. Bahkan saat mereka dirawat di inkubator, saya rutin membacakan cerita. Mendengar atau tidak, tahu atau tidak, saya tidak peduli. Saya hanya ingin memberikan hal baik untuk mereka. Daripada mengeluh atau menangis di depan tabung inkubator, saya memilih membacakan cerita-cerita yang penuh semangat dan ceria khas anak-anak.

Pada perjalanan waktu, saya pernah membaca entah di artikel mana bahwa mengajarkan membaca pada anak-anak itu bisa dimulai sejak dini. Belajar membaca itu dimulai dengan membacakan buku sejak bayi. Kebiasaan ini bermanfaat untuk menumbuhkan rasa senang membaca dan cinta buku. Konon katanya anak yang biasa dibacakan buku sejak dini akan lebih cepat membaca dan lebih mudah memahami tulisan ketika ia sekolah nanti.

Namun apa kenyataan yang saya dapat di lapangan?

Diantara teman-teman sekelasnya, Kira dan Kara tergolong lambat dalam membaca kalimat. Meski mereka sudah hafal dan mengenal huruf sejak usia 4 tahun, namun entah mengapa ketika memasuki fase belajar membaca sepertinya sangat lambaaat sekali mereka menguasai kata. Menulis dan membaca huruf b dan d sering sekali terbalik hingga sekarang. Saya sempat merasa sedih.

Saya sempat membombardir mereka dengan memaksa belajar membaca dan membelikan segambreng buku tentang belajar membaca. Bukannya senang, mereka malah uring-uringan. Saya merasa mereka susah sekali fokus dalam mengeja kata. Segala macam metode “cara membaca cepat” saya praktekan, namun hasilnya nihil. Kesalahan bukan pada metodenya. Karena panik saya tidak pernah fokus menjalankan satu metode. Tentu saja hasilnya juga amburadul. Akhirnya saya pasrah mengikuti aliran dan pola yang ada.

Baca Juga: Belajar Bahasa Inggris Sejak Dini, Demi Gengsi atau Kebutuhan?

Tuntutan kurikulum saat ini memang berat. Tapi memaksa mereka melakukan sesuatu tentu hasilnya tak pernah maksimal. Bahkan saya harus menabahkan diri ketika wali kelasnya berkali-kali memberi catatan pada saya tentang pelajaran menulis dan membaca dua bocah kunyil itu. Beruntung sekali sekolah membuat program tantangan membaca ini. Program ini membuka mata saya tentang jalur yang telah kami pilih.

Cerita itu berawal ketika ada seorang orang tua murid yang datang ke rumah saya menanyakan tentang tantangan membaca tersebut. Ia bercerita kalau kesulitan mencari bahan bacaan untuk anaknya karena di rumahnya tak banyak buku yang bisa dibaca. Kondisi ekonomi yang sulit tak bisa membuatnya dengan leluasa membelikan buku untuk si bocah. Lantas saya menawarkan untuk membaca buku di rumah bersama Kira dan Kara sepulang sekolah.

Apakah masalah selesai? Ternyata tidak.

Ketika Kira dan Kara mulai sibuk memilih buku, si bocah juga nampak antusias membuka-buka buku. Namun ternyata tak bertahan lama. 5 menit kemudian, ia nampak terlihat bosan. Baru dua halaman dibuka, ia sudah berpindah ke buku yang lainnya. Hingga Kira dan Kara menyelesaikan satu buku, tak satu bukupun ia selesaikan dengan tuntas. Ketika saya tanya apakah ada buku yang ia suka? Ia menjawab capek dan tak suka membaca. Lantas ketika saya minta ia membaca 2 kalimat, ternyata sebenarnya cara membacanya jauuuuh lebih lancar dibandingkan Kira dan Kara. Bahkan untuk buku yang ceritanya terbilang sangat sederhana untuk Kira dan Kara, tak mampu ia lahap. Padahal jika ia mau dan suka, buku yang hanya berisi beberapa halaman itu akan mampu ia selesaikan hanya dalam waktu 5 menit saja. Toh buku itu hanya berisi satu hingga dua kalimat sederhana dalam tiap halamannya.

Saya terpana ketika si ibu mengambil alih tugasnya dengan membaca sendiri dan menuliskan isi laporan tantangan membaca tersebut. Saya kecewa. Saya sedih. Saya merasa menyediakan diri untuk memanipulasi laporan siswa. Saya tidak suka cara itu. Mungkin saya saklek dan kaku, tapi saya tidak suka anak-anak melihat hal yang tidak jujur berlangsung di depan matanya. Kalau sejak kecil memanipulasi laporan membaca, nanti besar ia bisa memanipulasi laporan keuangan. Kan gawat!

Dari kejadian itu saya melihat bahwa rasa senang membaca dan senang mendengar cerita itu memang perlu ditanamkan sejak dini. Keterbatasan ekonomi seharusnya tak menjadi penghalang. Surabaya sudah memiliki perpustakaan daerah tempat kita bisa meminjam buku. Semoga kita tak pernah merasa lelah untuk membacakan anak-anak buku. Agar mereka tumbuh menjadi generasi yang cerdas literasi.

Cerita Tentang Emak Blogger

Warna-warni menjadi seorang emak atau ibu tentu semua orang tahu. Seperti apa keseharian seorang emak di rumah, sudah menjadi rahasia umum. Bangun paling pagi, tidur paling malam, dan beres-beres rumah yang sayangnya tak pernah dianggap beres, itu sudah hal biasa bagi seorang emak. Lantas seperti apa rasanya ketika seorang emak memilih kegiatan sampingan untuk menulis blog, alias menjadi blogger.

Tulisan ini didedikasikan untuk memperingati hari blogger yang jatuh pada tanggal 27 Oktober kemarin. Sambil ikut berpartisipasi dalam keriuhan ngeblog bareng para emak blogger Surabaya, meski sudah larut, dibelain nulis. Sudah rejekinya nulis pas tanggalnya krusial banget. Tapi tak mengapa, nanti kalau sudah agak longgar hutang tidur bisa dibayar sekaligus. Meski perut rasanya mules, tapi bukankah jadi emak itu sudah biasaaa mengerjakan banyak hal ketika sedang tidak enak badan. *pukpuk para emak*

Kali ini, saya mau bercerita tentang kisah belakang layar, atau belakang laptop seorang blogger yang merangkap sebagai emak. Ketika sebuah tulisan sudah tayang dan dibaca di blog, semua menjadi milik pembaca. Mau dinilai sebagai artikel lebay, atau artikel baper, atau artikel sampah, atau bahkan artikel yang sangat membantu, itu bergantung pada sudut mana pembaca menilainya. Tulisan yang dianggap bermanfaat buat seseorang, bisa jadi hanya sebatas tulisan sampah untuk orang lain. Namun sebenarnya seperti apa sih belakang laptop sebelum proses tulisan itu naik tayang.

Suatu hari seorang saudara datang berkunjung ke rumah. Melihat badan saya yang mungkin mulai melebar, beliau berceletuk “wah, mbak Wiwid sekarang badannya mulai kelihatan berisi ya? Sejak resign dari kantor sekarang enak di rumah terus gak ada kegiatan…” Mendengar itu saya dan mertua hanya tersenyum dan saling berpandangan. Mertua saya tahu kegiatan menantunya yang selalu (sok )sibuk di depan laptop, bahkan hingga malam. Meski mungkin beliau tidak tahu persis apa yang saya lakukan, namun beliau tahu kalau saya menulis.

Itu cerita seorang blogger di mata generasi angkatan orang tua kita. Bagi mereka bekerja di rumah belum menjadi hal yang lumrah. Karena masih terpengaruh dengan pola pikir lama yang namanya kerja itu ya di kantor atau di tempat kerja. Seorang istri, di rumah, kalau gak punya toko, itu ya pasti kerjaannya cuma ngurus anak. (Please jangan baper ya kalau ngurus anak itu dibilang “cuma”. Kuatkan hatimu maak… kuatkan hatimu…). Bersyukurnya mertua saya sudah paham dengan kebiasaan menulis menantunya. Atau kalau tiba-tiba menantunya dipanggil gak dengar, beliau tidak lagi marah. Setidaknya menantunya beberapa kali setor voucher belanja, atau pulang acara bawa oleh-oleh roti kesukaan.

Lain cerita ketika saya bertegur sapa dengan sahabat lama di whatsapp. Membaca status saya yang lebih banyak tentang blog, ia sempat japri dan bertanya “Jadi sekarang kamu di rumah sambil nulis blog ya, wid? Enak ya… Hanya tinggal nulis aja sudah dapat duit.” Lagi-lagi saya hanya tersenyum kecut. Mungkin saat itu saya sendang sensi menjelang PMS. (Menyalahkan hormon memang paling gampang yaa…). Kata “hanya tinggal nulis” itu buat seorang emak yang sedang jungkir balik menulis rasanya bikin perih, kawan. Bagi kami menulis itu bukan hanya sekedar mengetik huruf. Perjalanan huruf-huruf hingga terangkai menjadi satu artikel itu kadang tidak mudah. Tahukah kalian, menulis sponsored post itu jauh lebih sulit ketimbang nulis curhatan di sosmed? (ini kata emak baper yang lagi PMS. abaikan!). Intinya kalau kamu mau menulis yang bisa menghasilkan duit atau voucher belanja, tolong tinggalkan kata “hanya tinggal menulis”. Pahamilah, untuk membuat kata-kata bijak yang dapat like banyak itu kamu butuh usaha buat cari contekan. Apalagi untuk menulis yang kalau kamu nyontek bakal dicaci seluruh mahluk di jagat nusantara.

Apakah hanya itu? Tentu tidak. Tak lengkap rasanya tanpa menceritakan “gangguan kecil” yang dipersembahkan oleh dua kunyil cantik-cantik di rumah. Sudah ada ide buat nulis, mood sedang oke, nyalain laptop, baru nulis judul, mendadak ada dua bocah yang nangis barengan sambil teriak-teriak. Rupanya si bocah habis bermain rumah semut, dan kakinya bentol-bentol digigit semut merah. Pernah? Pernaaahh… Itu baru satu contoh kejadian. Setiap artikel saya, 99% mengandung muatan cerita seperti itu. Entah si bocah digigit semut merah, entah si bocah bertengkar karena rebutan mainan, entah si bocah terpeleset lantai licin atau sedang ribut karena lapar dan bundanya malah asik di depan laptop.

Itu adalah hal paling sering dan paling lumrah yang dihadapi oleh emak blogger yang beranak pinak. Mahluk-mahluk mungil pengganggu itu, adalah sumber inspirasi nomor satu hingga tulisan emak-emak menghasilkan penghargaan dan hadiah segambreng. Percayalah, untuk mencapai ke sana, tantangannya warbiyasah! Dibutuhkan kekuatan iman dan kekuatan mental untuk melek larut malam demi menyelesaikan tulisan yang kadang gak selesai-selesai. Jadi tolong jangan salahkan para emak kalau badan makin beleber, karena untuk menjaga agar mata tetep melek dan otak tetep jalan itu butuh cemilan tengah malam. Iya apa iya?

Bagaimana dengan kaum suami? Tak perlu lah ya diceritakan. Mereka adalah bemper utama kita ketika sedang rem sedang blong. Mahluk-mahluk ksatria itu sering suka cita menyediakan bahunya ketika para istri mulai baper. Daripada terkapar di bahu jalan, mending ditopang di bahu yang sudah lelah nyetir motor seharian melewati kemacetan pulang pergi ke kantor. (sweet gak siiih… uhuk!). Merekalah yang suka cita menjaga para bocah ketika para istrinya sibuk lompat dari satu acara ke acara yang lain. Bukan demi mendapat tambahan uang belanja, tapi demi menghindari istrinya ngomel-ngomel di rumah. Maka ia bebaskan istrinya untuk menjadi dirinya sendiri agar tetap waras. Jadi nanti para istri bisa mengasuh anak-anaknya dengan hati bahagia. Fair enough, isn’t it?

Rasanya tak akan habis menceritakan di balik layar seorang emak blogger. Kami menyimpan ribuan kisah tak terungkap yang kalau dipublikasikan bisa menjadi kisah berseri yang episodenya mengalahkan sinetron Tersanjung. Bisa juga kalau dipublikasikan bisa mendadak terkenal. Namun sayang, saya lagi males terkenal. Hidup itu lebih damai dengan menjadi manusia belakang layar dan jauh dari sorotan banyak orang. Karena menjadi bermanfaat itu tidak harus selalu beroleh pujian atau tepuk tangan.

Sekian curhat malam ini. Semoga bisa menjadi bahan pertimbangan jika kalian ingin jadi blogger, atau ingin ngobrol dan basa-basi dengan seorang blogger. Karena dengan blogger, setiap kata itu bermakna. (ciiyeee….)

Si Kembar Masuk SD

Harusnya tulisan ini sudah dibuat 4 bulan yang lalu. Berhubung jadi orang yang sok sibuk, jadilah terbengkelai. Kebetulan hari ini yang harusnya saya menyelesaikan deadline kerjaan, ndilalah semua dokumen kerjaan belum dikirim ke email. Orang yang bertugas kirim-kirim dokumen sedang cuti. Merasa memperoleh angin segar untuk “libur” sehari, maka disempatkan menulis curhatan ala bunda kunyil.

Dua bocah kunyil sekarang sudah SD! Hooorrreee…. Kira dan Kara masuk SD tepat di usia 7 tahun. Harusnya secara emosional dan motorik sudah cukup matang untuk menempuh petualangan menjadi siswa Sekolah Dasar. Maka daftarlah mereka ke SD incaran. Pilihan sekolahnya sesuai dengan diskusi dan kesepakatan bersama, antara ayah, bunda, Kira dan Kara. Para bocah tentu saja dilibatkan dalam diskusi. Ini karena mereka yang akan menjalani. Jadi semua harus sesuai kesepakatan bersama.

Pertimbangan Masuk SD Negeri

Setelah melalui berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk mendaftarkan Kira dan Kara ke SD Negeri. Pertimbangan-pertimbangan tersebut diantaranya sangat sederhana dan klise ala orang tua malas berpikir rumit. Apa aja sih? Ini sebagian pertimbangannya:

Pertama, Sekolah Dasar Negeri adalah sekolah yang terdekat dari rumah kami. Kami ingin Kira dan Kara benar-benar belajar mandiri. Dimulai dengan berangkat dan pulang sekolah sendiri. Meski tersembunyi alibi bunda bebas antar jemput selama 6 tahun, namun percayalah, niat kami tulus. Kira dan Kara yang jarang main jauh dari rumah bisa mulai belajar dengan menghafal rute dari rumah ke sekolah. Meski jaraknya hanya selemparan batu, tapi bunda kunyil tetap saja melalui fase dag dig dug ketika melepas mereka berangkat sekolah sendiri.

Kedua, sekolah negeri memiliki pergaulan yang sangat beragam. Ibarat miniatur sosial, sekolah negeri lah tempat miniatur sosial sesungguhnya. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang tajir melintir sampai anak yang bergantian sepatu dengan kakaknya yang masuk sekolah siang. Serius, beneran ada dan nyata. Di sekolah negeri kamu bisa menemui anak yang usilnya naudzubillah hingga anak yang disuruh apa aja nurut. Di sekolah Negeri kamu bisa menemui anak yang super duper religius hingga anak yang omongannya udah mirip cerita kebun binatang. Jadi kamu mau cari tipe anak yang kayak gimana, Sekolah negeri lah tempatnya.

Nah, memasukkan duo bocah kunyil ke sekolah semacam itu, dibutuhkan doa dan kebulatan tekat maha dahsyat. Ya gimana yaa… Dengan dua bocah yang terbiasa ada di lingkungan yang serba mengayomi, serba mengasihi, dan serba aman nyaman sentosa, tiba-tiba harus masuk ke rimba raya pergaulan yang super dahsyat. Pasti ada fase jetlag. Pasti ada fase shock. Pasti ada fase mogok sekolah. Pasti ada fase nangis tiap hari. Pasti ada fase nyinyir antar orang tua. Pasti ada fase jengkel sama guru. Pasti ada fase kesal sama semuanya. Pasti itu…

Untuk itulah dibutuhkan persiapan hati yang sempurna. Bukan hanya hatinya dua bocah kembar ya… Yang paling utama dan paling penting justru hati orang tuanya.

Saya menyiapkan diri untuk tidak nyinyir berlebihan. Meski fitrah susah dilawan, namun sekarang sudah saatnya memakai rem untuk mulut sendiri biar gak gampang kelepasan nyolotnya. Bawaan bawel sudah dari sananya. Tinggal disalurkan ke kanal yang benar biar gak lepas dan memakan korban. Maka, saya hindari sebisa mungkin untuk komen berlebihan tentang banyak hal. Sebisa mungkin memberikan kontribusi saran, suara, komentar yang benar-benar bermanfaat dan dibutuhkan. Untuk itulah dibutuhkan nyinyir management yang tidak mudah buat bunda kunyil.

Lanjuuut… Pertimbangan ketiga adalah soal biaya. Masuk SD Negeri bebas biaya, ciiiin… Untuk tahun pertama kita hanya butuh beli seragam dan perlengkapan sekolah. Untuk siswa yang tidak mampu ada bantuan. Bahkan kalau mau menyumbangkan seragam layak pakai juga boleh bangeeet. Bebas biaya SPP pula. Daaaan untuk pemegang kartu KIS mendapat subsidi buku paket tematik dari sekolah. Happy kaaan… Itu bagian yang bikin bunda kunyil sedikit terhibur. Dengan demikian, jatah SPP sekolah bisa dialihkan ke dana les yang bermanfaat. Itulah akhirnya bunda kunyil bisa mendaftarkan duo kembar masuk les berenang. Untuk pertimbangan ini, saya sudah siap jika ada yang bergumam “pelit amat…”. Gakpapa lah yaa… Kita gak ada yang tahu isi dompet orang lain, kecuali disodori formulir LHKPN. Ya tapi siapalah saya, hanya pejabat teras rumah mertua, mana punya LHKPN untuk diumumkan. Jadi cukup saya, suami dan Tuhan yang tahu berapa isi dompet kami. *ngikik manis*

Setelah Si Kembar Masuk SD Negeri

Apa yang terjadi setelah duo bocah kembar masuk SD Negeri? Seperti perkiraan sebelumnya. Ada fase bocah pulang dengan wajah sumringah cerah ceria mendapat teman baru. Ada pula saatnya selama seminggu penuh pulang dengan menangis karena dijahilin temannya. Bahkan pernah pulang dengan wajah penuh marah, rupanya habis baku hantam saling pukul di sekolah.

Kok bisa?

Iya bisa, karena disuruh bunda. hahaha… Itu hari di mana saya sudah jengah tiap hari mendengar aduan tentang anak yang sama. Mulai dari digodain, lalu disenggol pas nulis, lalu berisik pas pelajaran, lalu dicolek-colek pas lagi ulangan, hingga dipukul ketika habis imunisasi. Lalu saya tanya, “kamu takut gak sama dia?”. Si bocah menjawab enggak. Dia menangis karena tidak tahan digangguin tapi gak bisa bales. Rupanya dia ingat sama wejangan bundanya, gak boleh membalas memukul jika dipukul. Itu sama saja jahatnya. Nah, ketika PMS dan rasa jengah sudah diubun-ubun, maka saya bilang “ya sudah kalau kamu gak takut, besok kalau kamu dipukul lagi, pukul balik saja…”

Trust me! Mungkin saat itu saya jadi bunda paling buruk sedunia. Biarlah. At least saya tahu seperti apa endingnya. Kalau ternyata keputusan itu salah, kami bisa belajar dari kejadian itu. Kalau memang mau dicaci atau diketawain, no need to worry, bunda kunyil sudah siap.

As we know, kejadian itu beneran keesokan harinya dua bocah saling beradu pukul hingga bocah saya memilih pergi karena ia tahu ini tidak akan selesai. Eh iya, si bocah yang jahil itu laki-laki yaa… Jadi bisa dibayangkan ketika bocah saya yang perempuan berpostur super mungil, dengan berat badan yang tak lebih dari anak umur 5 tahun, beradu pukul dengan bocah lelaki yang sering menggoda anak perempuan yang katanya “cengeng”. Bunda? Puas dooong… Gurunya? Gak kenapa-napa. Karena tahu yang usil memang yang laki, jadilah ketika mendapat aduan dari teman-temannya yang lain, si anak lelaki dipindah duduk paling pojok. Sendirian. That’s it! Case closed!

Kalau ada saran, komentar, atau nasihat, ledekan, tertawa puas karena merasa senasib, tuliskan saja di kolom komentar. Bebasss.. Insyaallah semua di approve kecuali spammer!

Kejadian itu satu-satunya? TIDAK. Itu hanya salah satu kejadian “ajaib” yang kami alami selama 3 bulan bersekolah di sekolah negeri. Yang lainnya? Tunggu saja, siapa tahu saya cukup selo untuk berbagi cerita di sini.

Sekian curhat hari ini, selamat melanjutkan hari!

 

 

 

Ketika Si Kembar Belajar Puasa

KETIKA SI KEMBAR BELAJAR PUASA – Satu Ramadhan kembali berlalu. Setiap orang, setiap keluarga tentu menyimpan kenangan tentang Ramadhannya masing-masing. Termasuk keluarga kami. Tahun ini adalah tahun kedua bocah kembar kami belajar puasa. Mungkin buat sebagian orang kisah kami biasa-biasa saja. Banyak yang menjalani hal serupa, bahkan jauh lebih baik. Namun cerita ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Ini hanya cerita orang tua tentang perjalanan anak-anaknya.

Kami tidak pernah memaksakan atau memiliki target bocah kami harus sudah puasa penuh umur sekian. Kami menjalani dan mengajarinya dengan penuh suka cita, tidak ada paksaan, atau iming-iming segala macam. Kami percaya bahwa ibadah adalah tentang perjalanan spiritual masing-masing individu. Tidak bisa dipaksakan apalagi dicampuri.

Kira dan Kara mengenal puasa jauh sebelum mereka benar-benar ikut berpuasa. Sejak umur 2-3 tahun’an, mereka sering terbangun ketika kami sedang bersantap sahur bersama. Karena tinggal dengan mertua, maka hampir setiap santap sahur rumah kami riuh rendah dan meriah oleh celoteh anggota keluarga. Maklum serumah isinya orang banyak yang senang ngobrol dan diskusi bahkan bergosip. Karena itu suasana sahur di rumah kami selalu meriah. Ditambah lagi suara TV yang selalu menyala setiap kali papa bangun tidur, menambah kemeriahan suasana sahur di rumah kami.

Rupanya kemeriahan itulah yang sering mengundang Kira dan Kara untuk ikut bangun dan “makan” sahur. Dulu ketika terbangun mereka akan ikut makan apa saja yang buat mereka menyenangkan. Mulai dari susu, kue, roti atau apa saja yang tersaji di meja kecil di depan TV. Dan semua itu mereka lakukan karena rasa penasaran, dengan sukarela, tanpa dipaksa. Mungkin mereka menganggap makan bareng di pagi buta bersama-sama itu sama menyenangkannya, hingga rasa kantuk pun terkalahkan oleh rasa penasaran. Selesai santap sahur dan sholat shubuh mereka pun kembali terlelap.

Dalam perjalanannya mereka lalu bertanya, kenapa ayah, bunda, uti, akung, dan om selalu makan ketika masih gelap? Saat itulah kami mengenalkan tentang makan sahur dan apa itu puasa. Maka sejak itu mereka penasaran seperti apa rasanya puasa, dan beberapa kali minta untuk ikut puasa. Saya menjanjikan tahun depan, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun mereka boleh ikut berpuasa. Bukan karena apa, tapi karena berat badan mereka yang selalu bikin dag dig dug. Mungkin berat badan Kira tak terlalu mengkhawatirkan, namun berat badan Kara selalu mengundang rasa tak tega jika mengijinkannya untuk berpuasa. Bisa bayangkan, disaat sekarang umurnya genap 7 tahun, berat badannya tak lebih dari 14 kg. Bukan, bukan karena ia kurang gizi, tapi karena dia termasuk tipe slow growth. Seluruh tumbuh kembangnya normal, hanya berat badannya saja susah naiknya. Tak usah tanya kenapa, cukup tengok saja siapa ibunya.

Mengijinkan Kira dan Kara berpuasa dan mengajarkan mereka untuk menahan rasa lapar dan haus sebenarnya bukan hal yang susah bagi kami. Kenapa? Karena memang sangat jarang mereka mengeluh lapar di kesehariannya. Bahkan lebih banyak diingatkan ketika waktunya makan tiba, dibandingkan mereka mengeluh lapar terlebih dahulu. Malah terkadang saya sengaja tidak masak apapun sampai mereka sendiri minta makan. Tega? Ya antara tega dan gak tega. Cuma penasaran saja, sebenarnya mereka ini punya rasa lapar atau tidak..  ^_^

Sesuai janji saya tahun sebelumnya, ketika usianya sudah lebih dari 5 tahun, saya ijinkan mereka untuk ikut berpuasa. Karena masih belajar, seperti kebanyakan anak-anak yang lain mereka masih berpuasa setengah hari. Itu berarti sehari mereka masih makan 3 kali. Bedanya hanya mengatur jam makannya dan jam cemilannya. Tengah hari ketika adzan Dhuhur mereka boleh makan berat dan cemilan sekaligus. Setelah itu kembali berpuasa hingga waktu adzan Maghrib tiba. Tak dinyana ternyata mereka sangat konsisten menjalankan puasa pertamanya. Kami hampir tak mengalami kendala berarti mengajarkan mereka berpuasa. Mulai dari bangun sahur, mengajarkan kapan boleh makan dan kapan harus berhenti, semua dijalani dengan keikhlasan dan kesadaran. Bahkan bisa dibilang mereka jauh lebih konsisten dari saya sendiri. Padahal ketika tahun pertama belajar puasa, kita sedang mudik di rumah ibu di Ngawi. Ketika menempuh perjalanan pulang dari Ngawi ke Surabaya saya sudah berpikiran jika mereka haus di jalan, saya akan mengijinkan mereka untuk membatalkan puasanya. Ternyataa mereka konsisten dan menunggu saat benar-benar waktu berbuka tiba. Jadi tahun pertama puasa dijalankan dengan sukses oleh mereka. Alhamdulillah.

Menginjak tahun kedua, kami masih belum memaksa atau meminta untuk puasa satu hari penuh. Lagi-lagi selain karena pertimbangan berat badan, kami ingin mereka menjalani ibadah karena keinginan sendiri. Menjalankan puasa penuh dengan keinginan sendiri tentu akan lebih mengurangi rewel dan bosan menunggu waktu berbuka tiba. Jadi kami bebaskan mereka untuk puasa sesuai kemampuan mereka. Namanya belajar tentu ditakar sesuai kemampuan sendiri. Bukankah mampu bukan hanya bisa menahan rasa lapar dan haus, tapi juga mampu mengatasi emosi dan mengontrol nafsu diri sendiri. Namun di tahun ini Kira dan Kara sudah tahu kapan waktu berbuka yang sesungguhnya. Sehingga mereka tahu dan punya motivasi untuk bisa terus belajar puasa satu hari penuh.

Seperti harapan kami, pelan-pelan mereka meminta untuk belajar mengupgrade kemampuan sendiri. Di hari kesekian puasa, tiba-tiba Kira minta untuk berbuka ketika adzan Ashar. Dia tidak keberatan meski Kara tetap berbuka ketika adzan Dhuhur. Bukankah kemampuan tiap orang berbeda-beda? Kami ijinkan mereka berbuka diwaktu yang berbeda. Tanpa rewel, tanpa paksaan dan tanpa iming-iming apapun. Kira yang awalnya adzan Ashar makan penuh, lalu minta berbuka Ashar hanya minum dan makan 1 cemilan saja. Lalu dilanjut keesokan harinya minta mencoba puasa satu hari penuh. Alhamdulillah, Kira sukses menjalaninya.

Melihat Kira bisa puasa satu hari penuh, bisa diduga Kara pun penasaran. Diikutilah jejak saudara kembarnya untuk mencoba puasa sampai adzan Ashar, dilanjut keesokan harinya puasa penuh. Alhamdulillah sukses. Tapi karena dasarnya rasa penasaran dan tak ingin kalah, maka untuk Kara masih diselingi pertanyaan sehari 1000x apa adzan Maghrib masih lama. Ternyata belajar pun banyak caranya dan berbeda-beda. Ayo nduk, kita belajar tentang kesadaran diri sendiri dan mengekang keinginan sendiri. Seperti kereta kuda, dibutuhkan tali kekang untuk mengendalikannya agar sampai di tujuan dengan aman dan selamat.

Jadi tahun ini mereka menjalankan puasa on-off antara setengah hari, ¾ hari, hingga puasa satu hari penuh. Insyaallah belajarnya meningkat ya nduk..

Sekali lagi ini bukan tentang siapa yang lebih hebat. Tapi ini tentang catatan sebuah perjalanan.  Selama masih mau untuk terus belajar, maka kalian semua hebaaat!

Mencari Pesona Tersembunyi

MENCARI PESONA TERSEMBUNYI – Siang itu seperti biasa aku kayuh sepedaku menjemput dua bocah kembarku pulang dari sekolah. Namun ketika sampai di depan pintu gerbang, Kara, salah satu bocah kembarku menanti dengan wajah masam. Sepertinya ia sedang kesal. Begitu melihatku turun dari sepeda, segera ia berlari dan memelukku sambil menumpahkan kekesalannya. Sejenak kupeluk dan kuredakan tangisnya, lalu aku minta ia segera naik ke sepeda. Sepanjang jalan Kara tersedu-sedu diatas boncengan.  Meski Kira berusaha menghibur, namun isaknya tak reda juga.

Sesampai di rumah, aku tanya dengan lebih detail apa yang dialaminya di sekolah. Rupanya ia habis diejek temannya. Punya badan lebih mungil dari yang lainnya, dan bertipe introvert, tak mudah bagi Kara berteman dengan semua anak. Ia akan memilih teman yang bisa membuatnya nyaman dan merasa diterima. Karena itu di tahun pertamanya sekolah, di saat belum banyak teman ia kenal, ia merasa sendiri dan mudah sekali tersinggung.

Apa yang dialami Kara hari itu, membawa ingatanku kembali ketika aku masih seusianya. Hal yang sama juga sering  aku alami. Punya badan paling kecil, berkulit dekil, rambut panjang berombak, membuatku terlihat seperti bocah cupu. Ditambah lagi baju yang jarang terseterika rapi, makin membuat penampilanku seperti anak yang tak terurus. Aku minder dan sering menjadi sasaran ejekan teman-teman yang lain. Namun aku tidak seperti Kara yang bisa dengan mudah mengadu dan menangis. Perjuangan ibuku saat itu jauh lebih berat sehingga tanpa sadar mendidikku untuk menyelesaikan masalahku sendiri.

If life gives you Strawberry, make it Strawberry Ice Cream

Masuk sekolah dasar beberapa kali aku mengalami hal serupa. Aku tak ingin terus menjadi bocah cupu. Aku ingin menjadi sesuatu. Diantara teman-temanku, boleh dibilang otakku lumayan encer. Ketika anak lain belum lancar membaca, Bapak sudah menjejaliku dengan Koran bungkus nasi untuk latihan membaca. Ketika teman-temanku masih sibuk mengeja “ini budi”, aku sudah lancar membaca cerpen di majalah anak-anak. Maka tak heran, selanjutnya nilai-nilai di raporku pun melesat meninggalkan teman-temanku. Aku mulai punya banyak teman. Aku lebih percaya diri. Meski masih selalu ada teman yang menggangguku, namun kini aku punya orang yang bisa membantuku.

Melihat ibuku yang tak pernah berhenti mengerjakan pekerjaan rumah, aku mulai belajar membantu. Sejak SD aku sudah membantu mencuci dan menyetrika baju ketiga adikku. Kami bukan dari keluarga berada. Uang sakuku selalu hanya cukup untuk membeli sarapan pagi. Namun karena keenceran otakku, aku langganan menerima beasiswa. Tak pupus orangtuaku membanggakan prestasiku. Sejak itu mereka bisa bekerja dengan lebih bersemangat.

Aku ceritakan pada Kara dan Kira apa yang aku alami di masa kecilku. Perjuanganku ketika itu jauh lebih berat.  Aku harus membantu ketiga adikku yang salah satunya berkebutuhan khusus dan belum bisa berjalan. Tapi aku tak menyerah pada mereka yang mencibirku. Aku mencari pesona yang terkubur dalam diriku. Dan aku mampu melesat menjadi cahaya bagi orang disekitarku. Aku punya sesuatu yang tak dimiliki teman-temanku. Karena aku ingat ketika itu guruku pernah berkata “Semua manusia tak ada yang sama”.

#MemesonaItu

Berapa banyak diantara kita yang masih bisa bersyukur di tengah banyak himpitan kesulitan? Selesai terima gaji mudah bagi banyak orang berucap Hamdalah atau Puji Tuhan. Tapi apakah masih bisa berucap kata yang sama ketika tiba-tiba amplop gaji raib dalam perjalanan pulang kantor? Bersyukur untuk semua rejeki yang kita dapat itu mudah. Namun bersyukur di antara banyak kesulitan yang kita temui itu tak semua orang bisa melakukannya.  Memesona itu ketika kita tetap dapat menari di bawah hujan atau di tengah terik matahari. Memesona itu ketika kita tetap dapat bersyukur dengan semua yang ada di depan mata.

Ibuku pernah berkata, menjadi pintar itu mudah. Namun menjadi orang yang mau mengerti itu tak semua bisa melakukannya. Mengerti bukan hanya sekedar paham tentang situasi. Namun mengerti juga tentang rasa syukur yang seharusnya terus bisa terucap dalam situasi apapun, karena kita mengerti bahwa Tuhan punya segala rencana di balik setiap kejadian. Dari sosok perempuan desa yang tak lulus sekolah dasar inilah aku belajar tentang menjadi sosok yang memesona. Sosok yang bisa tetap bersyukur dan bahagia di tengah himpitan keras hidupnya.

“Life is all about dancing in the rain”

Bukankah semua orang pasti mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya? Tuhan memberikan  rintangan dan ujian untuk kita lewati, semata untuk menempa diri kita menjadi sosok yang lebih baik, lebih kuat dan lebih tangguh. Semua mahluk hidup pasti memiliki kesulitan yang berbeda-beda. Bahkan seekor Rusa belajar untuk terus waspada agar tak menjadi mangsa empuk Singa. Seekor Kelinci dianugerahi kegesitan untuk ia dapat lolos dari ancaman predator. Demikian juga manusia. Tuhan menganugerahkan kita banyak hal untuk melewati kesulitan dan menjadi yang terbaik dari diri kita.

Namun, banyak diantara kita yang masih belum menyadari bahwa semua mahluk hidup dianugerahi kelebihannya masing-masing. Banyak orang lebih fokus pada penyesalan atas kemalangan yang menimpa dirinya, dibandingkan mencoba berpikir tentang hikmah dibaliknya. Hidup bukan hanya tentang keberhasilan melewati satu kemalangan atau kesulitan, tapi bagaimana kita bisa menikmati kesulitan-kesulitan tersebut sebagai sebuah proses untuk menempa diri. Kesulitan-kesulitan itulah yang membuat kita belajar mencari pesona yang tersembunyi. Bukankah sudah selayaknya kita bersyukur untuk hal itu?

Seperti diriku, Kira dan Kara pun berproses ditengah kesulitan yang mereka hadapi. Mereka mencari apa yang dimilikinya, dan apa yang menjadi potensi dalam dirinya. Hingga suatu hari aku mendapati senyumnya terkembang dan berucap kalau ia kini berteman dengan anak yang kemarin mengejeknya. Bagaimana bisa? Jadi suatu hari ia meminta membawa jatah kue untuk bekal sekolah lebih banyak dari biasanya. Ternyata kue-kue itu dibagikan ke beberapa temannya, termasuk teman yang mengejeknya. Ia belajar untuk tidak membeda-bedakan dan mengasihi semua. Dan dari sepotong kue itu, anak yang semula mengejeknya menjadi punya topik untuk dibicarakan bersama Kara. Dari obrolan itulah akhirnya mereka bisa berteman. Cerdas bukan?

#MemesonaItu

Itulah yang dimaksud dengan “menari dibawah hujan”. Menikmati setiap rintangan sebagai sebuah proses untuk menempa diri.. Mencari potensi apa yang ada di dalam diri kita untuk bisa terus melesat maju. Lalu bersyukur di tengah kesulitan dan belajar mencari hikmah dibaliknya. Maka ketika proses terlewati dengan sempurna, disanalah akan didapati sosok memesona. Sosok yang tetap bersinar dan menari di tengah hujan. Ia yang bersinar akan menjadi inspirasi bagi yang lain. Karenanya menjadi memesona itu seperti menjadi cahaya diantara jalan yang gelap.

Dari pelajaran hidup aku belajar, tampil memesona itu bukan dengan mengenakan pakaian berharga jutaan rupiah, atau memakai dandanan tebal. Tampil memesona itu dengan bersyukur dan menjadi cahaya bagi yang lain. Bentuk syukur atas pakaian yang kita miliki adalah dengan merawat dan memeliharanya. Bentuk syukur atas tubuh adalah dengan menjaga kesehatannya. Mau punya kulit hitam, coklat, putih, gelap atau terang kalau kusut dan dekil tentu tidak akan memesona. Karena itu rawatlah apapun yang kamu sebagai bentuk rasa syukurmu pada Tuhan Sang Maha Pencipta. Lalu jadilah cahaya dan bermanfaat bagi yang lain. Dengan semua itu, kamu dapat tampil memesona!

Artikel ini ditulis untuk diikutkan dalam lomba #MemesonaItu

Balada Kedatangan Seorang Sahabat

BALADA KEDATANGAN SEORANG SAHABAT – Manusia satu ini memang super ngehe’. Ditengah jadwal padat merayap bulan april, masih cari gara-gara ngajakin nulis bareng. Hutang tulisan arisan link saja belum kubayar lunas. Berani-beraninya dia ngajakin nulis soal kegiatan kurang kerjaannya kemarin. Idiiih… Nahjong banget kan? (Nahjong kie opo tho janjane?)

Jadi kemarin tiba-tiba aku dapat kabar dari mbak Nurul kalau emak satu ini mau datang ke Surabaya. Reaksiku? Ngamuk! Aku maki-maki dia di whatsapp. Setiap hari kerjaan dia ngerecokin di whatsapp dan tiba-tiba mau datang ke Surabaya tanpa kasih kabar sama sekali itu kan namanya ngajak perang. Bukannya sedih dia malah ngakak. Katanya tadinya mau bikin surprise. Guooombal mukiyo kan?

Setelah ngobrol gak jelas di whatsapp, akhirnya disepakati dia akan berangkat bareng kakaknya (ngakunya sih kakaknya. Entah mana yang benar). Dan KATANYA mereka akan menginap di rumah. Happy dong. Secara biasanya cuma bisa diledekin di whatsapp, kali ini bisa diledekin sampai puas dan orangnya di depan mata. Beberapa hari sebelum hari H sudah membayangkan mau ngobrolin apa aja, makan apa aja. Pokoknya dia tinggal bawa badan dan baju aja. Karena bajuku gak muat buat badannya, jadi gak mungkin aku bilang nyuruh dia bawa badan doang. Masa mau dipinjemin sprei?

Ternyata semua tak seindah khayalan. Dia memang datang, tapi gak jadi menginap. Huh! Sombong amat gak mau tidur di rumah. Maksa naik mobil pulang pergi Delanggu – Surabaya dalam sehari. Ya sudahlah mau bilang apa. Itu rencana dia, badan dia. Terbukti kan? Sekarang dia kena Lower Back Pain. Kasihan.. Cuma bisa pose Savasana. Tapi ya dia cari gara-gara sendiri. Sok rock and roll banget sih!

Hari H pun tiba! Berangkatlah kami dengan riang di sebuah event di mall. Setelah melalui perjuangan panjang akhirnya bisa daftar di event ini. Dan ketemu sama Kakak Cindy yang dinanti-nanti. Aseeekkk… *peluk sampai kurus* Tapi ternyata kami gak bisa puas ngobrol, karena aku harus berlompatan dari satu tempat ke tempat yang lain ngikutin bocah cilik yang antusias mencoba permainan satu demi satu. Ya kali ini musti ngalah lah… Karena  bocah cilik ini yang jadi model photo, jadi ya memang harus ikut moodnya. Kalau moodnya berantakan, bisa celaka dua belas, gak dapat photo buat artikel laporan, dan musti sibuk menenangkan anak yang marah. Gawat tho?

Nah, 30 menit sebelum acara dimulai, mbak Nurul berbaik hati mengingatkan untuk makan dulu. Daripada nanti bocah rewel karena lapar kan? Akhirnya kaburlah aku ke resto terdekat. Aku tahu kalau bakal ada yang nyariin, tapi biarin aja lah. Karena baterai tiris, dan powerbankku dia bawa, jadi sengaja aku matikan paket datanya. Harapannya kalau paket data mati, baterai bisa lebih hemat, jadi bisa buat motret selama acara berlangsung. Urusan tweet dan segala macam nanti sampai rumah bisa dikejar. Pasrah aja lah.

Ternyata beneran, setelah capek antri di resto, eh ada yang nyusulin. Untuk mempersingkat waktu karena sebentar lagi acara akan dimulai, maka aku tawarin untuk membelikan pesanan dia sekalian. Menerima list pesanannya aku kaget. Pesanannya banyaaaakkk.. Pantesan dia makin mirip burger. Dari yang rencana awalnya hanya akan dibungkus untuk dibawa ke tempat acara, akhirnya aku biarkan para bocah makan dulu sampai kenyang. Sambil ngobrol dan selfie setitik. Setelah selesai makan, langsung kabur ke tempat acara. Gak pakai lama!

Akhirnya dia tahu kalau aku gak jauh beda sama bola bekel, kecil dan lompat kesana kemari. Gercep! Gerak Cepat! Gak suka saling menunggu, karena waktu tidak berjalan mundur. Kebiasaan perempuan adalah saling menunggu, dari yang rencananya berangkat jam 7, masih nunggu si anu yang anaknya masih tidur, atau si itu belum datang karena pensil alisnya tiba-tiba patah, akhirnya baru berangkat jam 10. Iya kan? Iya tho? Nah, apalagi untuk tugas yang sudah menjadi komitmen, begini. Buat aku, selesaikan tugas, kerjakan sesuai kesepakatan, setelahnya marilah kita duduk santai dan bercanda.

Di lokasi acara pun begitu. Aku lihat semua kursi sudah terisi penuh. Namun ada beberapa kursi yang sebenarnya masih kosong, tapi posisinya ditengah, dan biasanya hanya untuk tempat tas. Duh please deh ya! Lain kali kalau datang ke acara dan kamu lihat tempat acara ramai, kursi yang disediakan terbatas, mbok ya mawas diri, tasnya dipangku atau ditaruh bawah aja yaa.. Kasihan teman-teman yang masih berdiri. Aku yakin tasnya gak bakalan protes karena capek kok! So please, be human!

Keuntungan punya badan kecil adalah kamu bisa menyelinap kesana kemari membawa dua bocah hingga sampai di deretan depan panggung. Alhamdulillah yaa.. Sebenarnya gak terlalu konsen sama acara karena celingak-celinguk mencari mahluk satu yang ketinggalan di belakang. Karena kebetulan sebelah kursiku hanya berisi tas ransel seorang mas, maka bermaksud memintanya untuk dia atau teman yang lain. Tapi celingak-celinguk ke belakang gak melihat muka-muka familiar, akhirnya saya menyerah. Mungkin mataku sedang siwer. Baterai HPku pun juga menyerah kalah, tewas tak bersisa dihajar sinyal yang tak bersahabat.

Setelah naik panggung aku lihat sosoknya berdiri di tengah ibu-ibu di luar area acara. Duuuh… kacian aneet… Selesai acara masih harus menuntaskan tugas mengelilingi area permainan. Baiklan dadabubye dulu, sebelum bocah badmood. Karena baterai habis, pasrah ajalah kalau memang nanti gak ketemu lagi. Sekilas aku lihat dia cekcok dengan satpam. Entah apa yang diributkan. Mungkin dia sedang lelah.

Tapi yang namanya jodoh itu gak akan lari kemana yaa.. Tiba-tiba dia kasih kabar kalau Kak Emma dapat tempat nyaman buat ngobrol. Cuusss.. meluncuuurrr..  ke Mokko Café. Sampai di cafe, nitip bocah buat ditinggal ke ATM dulu. Karena ternyata selain baterai tiris, isi dompet pun juga ikut tiris. Duuuh emaakk..! *tutup muka malu* Kebiasaan gak suka bawa cash banyak. Balik dari ATM bocahku sudah pegang donat. Ooooh… sweet bangeet siiih..

 

Ternyata the boys dan the girls sudah heboh lari-larian, padahal baru ketemuan, ternyata langsung nyambung dan klik. Sehati banget sih sama kayak para emaknya. Dan mereka sama-sama belum puas main dan ngajak ke playland lagi. Tapiii playland yang diminta itu gak oke banget deh.. Berbahaya untuk isi dompet. Jadi aku ajaklah mereka ke playland lantai bawah yang jauh dari kebisingan. Sampai di bawah ternyata dia malah kabur. Dasar! Mana badan capek dan ngantuk, jadilah sama Kak Emma nungguin sambil bengong berdua. Gak ada cemilan pula. Rasanya pengen gegoleran deh!

Usut punya usut, badan kuyu dan lunglai bukan tanpa alasan. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 18.30 wib. Apppaaaah? Jadi aku ngemall dari pagi sampai malam. Rekor! Semua gara-gara dia! Power bank sudah kembali ke tangan. Bukan ucapan terima kasih yang kuterima malah protes yang kudapat. Ngehe kan? Setelah baterai sedikit terisi, cek whatsapp, ternyata bapaknya anak-anak nyariin. Setelah kasih kabar ke si bapak,  para bocah Delanggu pamit pulang. Lalu aku mendapati dua bocahku ngamuk karena katanya kenapa Herbie & Wilson pulangnya cepat. Bahkan mereka bilang “apa mereka tidak suka main sama aku?”. Oalah nduk.. sadarilah, emakmu baterainya sudah lowbat. Jadi mari kita segera pulang, recharge energi biar mood emakmu ini kembali bagus. Mbok ya jangan ngajak perang dengan merengek. Ini sudah ditahan-tahan dari tadi kangennya sama guling dan bantal.

Singkat kata, akhirnya sukses order go car beberapa detik sebelum HP kembali tewas. Alhamdulillah pulang dengan selamat sampai di rumah. Aku bahagia ketemu bantal dan guling. Sampai di rumah, urusan bocah serahkan pada ayah! Nighty Night…!! Wahai para mahluk Delanggu, terima kasih sudah menerima segala kegokilan hari itu. Terima kasih untuk gak pernah marah ketika bakat isengku kambuh setiap hari. Soon we will meet again, again, and again, and again…

Disclaimer: Semua Foto milik Cindy Vania